
Val baru saja pulang setelah dua Minggu dirawat di rumah sakit.
"Langsung istirahat di kamar ya."
"Duduk disini aja Dad."
"Baiklah." Katanya membantu sang istri untuk duduk di sofa.
"Mau sesuatu sayang?"
"Mau apel Mi."
"Sebentar Mami ambilkan."
"Biar Veer saja Oma."
"Iya. Sama piring, pisau dan garpu sekalian."
"Ok Oma."
Ved dan Veer kembali setelah beberapa saat pergi ke dapur. Mereka membawa sekeranjang besar buah.
"Ini biar Mom bisa pilih yang lain juga."
"Makasih Sayang."
"Sama sama Mom."
"Biar Mario aja yang kupas Mi."
"Biar Mami saja."
"Aku bikinin kamu susu dulu ya."
"Tadi kan sudah minum waktu sarapan."
"Ah iya. Lupa."
Mario menyuapi Val apel yang sudah dikupas kan mertuanya.
"Aku bisa sendiri Dad."
"Aku suapi." Tegas pria itu membuat Val diam hanya menurut.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Mom."
"Stop." Cegah Mario melihat Ladit ingin memeluk Val.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Jangan peluk. Masih sakit."
"Ah iya lupa. Gimana keadaan Mom?" Tanyanya sabil berlutut di depan Val.
"Baik Sayang. Kamu jangan duduk di bawah. Duduk di sofa."
"Iya." Ladit ikut duduk bergabung bersama Papanya.
"Val aku bawain bollen Bandung."
"Wah makasih Om."
"Sama sama."
"Dad aku mau itu."
"Kamu baru sembuh sayang." Tegur Papi.
"Boleh ya."
"Iya. Boleh." Jawab Mami menuruti keinginan putrinya.
"Mi."
"Biarin. Kasih aja."
"Yasudah." Mario mulai menyuapi istrinya.
"Enak kan Val?"
Mario menemani istrinya beristirahat di kamar. Ia mengusap lembut wajah Val yang kini sudah kembali berseri. Wanita itu tertidur pulas setelah minum obat. Mario mengecup pipi dan bibir istrinya. Perlahan ia beranjak dari ranjang dengan hati hati agar tidak membangunkan Val.
Dua orang sedang membahas sesuatu yang begitu penting di sebuah ruangan. Keduanya masih sama sama diam setelah saling berargumen sedari tadi.
"Jadi. Bagaimana?" Tanya Frans membuat Mario bingung. Di satu sisi jiwanya untuk menyakiti bangkit dan di sisi lain takut membuat istrinya kecewa lagi. Pilihan yang begitu berat. Tapi tangannya sudah tidak sabar untuk memberikan pelajaran pada bedebah itu.
"Aku bingung." Jawabnya dengan jujur selagi memperhatikan foto dari amplop itu satu per satu.
"Karena Val?" Tanya pria itu sambil menyenderkan punggungnya di senderan sofa.
"Ya."
"Kalau begitu. Jangan lakukan."
"Tapi aku tidak terima. Darah harus dibalas darah. Nyawa harus dibalas nyawa."
"Nanti Val akan kecewa sama kamu."
"Akan aku pikirkan lagi. Sampai saat itu pula tahan dia disana. Aku akan menginterogasinya terlebih dahulu. Dari bukti yang didapat pasti ada untuk kesengajaan dibaliknya."
"Ya."
Frans memandangi punggung sahabatnya itu sampai tak terlihat di balik pintu. Mario tengah menahan diri untuk menjaga perasaan istrinya. Ia takut Val akan kecewa lagi. Jika saja Mario egois pasti pria itu akan melakukan apapun tanpa memikirkan istrinya.
__ADS_1
Mario menatap diri di pantulan kaca. Ia perlu sendiri dulu untuk memikirkan semua yang terjadi. Hidup Val tidak aman selama bersamanya. Oleh karena itu Ia membatasi kegiatan Val. Dimana pun keberadaan sang istri Mario akan tetap mengawasi dan menugaskan orang untuk menjaga wanita itu. Ini semua demi keamanan Val karena gangguan yang terus datang. Bukan hanya dulu saat Ia masih seorang mafia. Bahkan kini juga sama. Ia menyembunyikan teror yang ditujukan untuk istrinya. Mereka tahu kelemahan terbesar seorang Mario adalah istrinya. Semua sudah Ia atasi dengan baik. Orang yang bersangkutan juga sudah di bereskan olehnya tanpa sepengetahuan sang istri.
Mario kembali ke kamar. Pria itu langsung menghampiri Val yang sudah duduk di ranjang.
"Daddy." Kata Val memegangi kepalanya.
"Kepala kamu sakit lagi sayang?" Panik Mario.
"Iya." Jawabnya sambil menangis. Kata dokter Val akan terus seperti ini. Benturan di keras di kepalanya membuat wanita itu harus mendapat satu penderitaan lagi. Mario memeluk tubuh istrinya. Pria itu mencoba menenangkan Val yang semakin terisak menahan sakit. Ia begitu tak tega hingga ikut meneteskan air mata. Beberapa saat kemudian Val sudah tenang. Mario menghapus jejak air mata di pipi wanita itu kemudian mencium seluruh wajah Val dengan hati hati.
"Sudah tidak sakit lagi?" Tanya Mario dan Val hanya menggeleng pelan.
"Berbaring lagi ya."
"Enggak mau Dad."
Mario membawa Val untuk bersandar di dada bidangnya. Pria itu mengusap lembut bahu sang istri.
"Maafin aku buat kamu seperti ini. Maaf kerena selama bersama aku hidup kamu jadi penuh luka dan menderita." Kata Mario membuat Val mendongakkan kepalanya untuk menatap sang Suami.
"Bukan salah aku. Bukan juga salah kamu. Semuanya takdir. Semua kejadian di hidup ini adalah takdir. Kita manusia hanya bisa meminta untuk baik baik saja. Namun Tuhan yang menentukan."
"By."
"Iya."
"Aku ingin menyampaikan sesuatu sama kamu."
"Apa?"
"Selama kamu menjadi istri aku kamu selalu saja menderita dan tertekan. Aku minta maaf sama kamu. Dari awal cara aku mendapatkan kamu sudah salah. Aku terlalu egois dan memaksa. Kamu selalu menurut dan patuh sama aku dan aku hanya bisa menyakiti kamu. By... aku cinta dan sayang banget sama kamu. Tapi aku juga nggak bisa lihat kamu seperti ini terus. Sayang....aku ikhlas melepaskan kamu kalau ini adalah jalan yang terbaik. Yang bisa buat kamu bahagia dan Aman."
Val menjauhkan diri dari suaminya. Ia menatap Mario tidak percaya. Laki laki itu mengatakan hal yang membuat hatinya terluka. Secara tidak langsung Mario menyampaikan jika pria itu ingin berpisah darinya.
"Daddy ingin pisah sama aku?" Tanyanya dengan air mata yang tidak bisa di bendung lagi.
"Bukan begitu Sayang. Maksud aku..."
"Daddy bilang begitu karna kondisi aku seperti ini? Aku nggak percaya. Daddy ternyata seperti itu. Daddy punya wanita lain atau apa?"
"Enggak Sayang. Sumpah aku nggak punya wanita lain. Aku cuman takut kalau kamu sama aku akan mengalami hal seperti ini lagi. Aku cuman mau hidup kamu bahagia dan aman."
"Jika memang seperti itu bukan begini caranya Dad. Namanya rumah tangga itu susah senang bersama. Semua masalah di cari jalan keluarnya sama sama. Bukan seperti ini. Tapi baiklah. Jika Tuan sudah bosan atau terbebani dengan kehadiran saya, Saya akan pergi. Terimakasih untuk 17 tahunnya yang begitu berkesan. Saya sudah menganggap anda laki laki yang baik dan melindungi. Anda mau berubah dan saya terkesan. Terimakasih sudah menjadi suami dan Sosok Ayah yang baik untuk anak anak." Val beranjak dari ranjang meninggalkan suaminya.
"By. Bukan seperti itu..."
"Diam disitu jangan sentuh aku." Teriak Val histeris.
"Jangan begini Sayang. Aku tidak bermaksud."
"Semua yang Anda ucapkan begitu menyakitkan. Jangan temui saya lagi." Kata Val sambil menutup pintu kamar rapat rapat.
-Tak kasih konflik sedikit nggak papa ya.
__ADS_1
Buat olah emosi hehe....
Nggak parah kok. Nggak sampai pisah. Tak kasih bocoran ini biar malamnya bisa tidur nyenyak. Para pembaca tenang aja.-