Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Tukeran Nomor


__ADS_3

Jeje memasuki kamar Val untuk membangunkan gadis itu.


"Bangun Vale. Ini sudah pagi." Laki laki itu membuka gorden agar sinar matahari bisa masuk.


"Bangun Vale." Jeje mengecup gemas pipi merah jambu Val.


"Hm."


"Kamu mandi ya. Kakak tunggu di bawah."


"Ok." Jawabnya malas.


Val menghampiri tiga orang yang tengah sarapan bersama.


"Putri kecil Papi sudah bangun." Papi mencium anak gadisnya.


"Sudah Pi. Hari ini Val mau temani kak Jeje ke kampus."


"Mau kuliah lagi?"


"Nggak Mi. Bosen. Val hanya temani kak Jeje." Jawab Val sambil cemberut.


"Kirain kamu mau kuliah lagi."


"Males ah Mi."


"Yasudah dimakan sarapannya."


"Iya." Jawab keduanya bersamaan.


Val dan Jeje turun dari mobil seketika menjadi pusat perhatian.


Apalagi Val. Parasnya yang cantik dan memikat membuat semua mata tertuju padanya.


"Kakak tau ruang prodi dimana?"


"Ga tau juga."


"Yasudah. Kita tanya."


Val dan Jeje menghampiri satu mahasiswa yang sedang duduk bersama teman temannya.


"Permisi kak." Sapa Val sopan namun mahasiswa itu masih terbengong.


"Kak."


"Ah Iya."


"Ruang prodi di sebelah mana ya?"


"Oh. Ayo aku antar." katanya bersemangat.


"Baik." Mereka mengikuti.


"Terimakasih kak sudah mau repot mengantar."


"Ah. Tidak repot sama sekali. Kalau boleh kita kenalan."


"Aku Valerie kak. Salam kenal."


"Aku Dion." Sambil menjabat tangan Val.


"Aku Jeje." katanya menyela merebut tangan Doni agar tidak terlalu lama berpegangan dengan Val.


Selepas dari kampus Val meminta Jeje untuk diantar ke cafenya.

__ADS_1


"Kamu beneran ga minta di temenin Vale?"


"Enggak. Kakak pulang aja. Vale mau berkerja."


Jeje tersenyum mendengar penuturan gadis itu.


"Yasudah. Hati hati ya. Nanti kalo ada apa apa segera hubungi kakak."


"Iya. Val turun dulu."


"Tunggu." Jeje mengecup kening Val.


"Sudah. Silahkan turun."


"Iya. Kakak hati hati." Pesan Val sambil turun dari mobil.


"Nona." Pelayan langsung menghampiri Val yang baru datang.


"Ada apa?"


"Nona ditunggu Tuan Mario."


"Oh. Akan Aku temui."


Mario melihat sosok gadis cantik tengah berjalan ke arahnya. Ia mengembangkan senyumnya. Ruangan sangat sepi karena Mario memang memesan ruangan VVIP di lantai dua. Ruangan yang begitu nyaman dengan banyak jendela kaca.


"Val kamu datang juga. Om sudah nunggu lama."


"Maaf Om. Val tidak tau kalau Om mampir. Tadi Val ada keperluan." Mario tidak banyak tanya sudah tau keperluan apa yang dimaksud gadis itu.


"Kaki kamu sudah sembuh?"


"sudah Om. Alhamdulillah."


"Sudah bisa masak dong?"


"Serius?"


"Iya. Silahkan Om pilih. Val sendiri yang akan masak dan antar kesini."


"Baiklah." Mario mulai membuka buku menu dan memilih.


"Om mau, Seared Halibut, Spring Chicken & Foie Roulade, Wagyu Cheek dan Black Forest. Kamu temani Om makan ya."


"Ok. Minumnya Om?"


"Mocktail."


"Ok Om. Tunggu ya. Val akan siapkan."


"Iya. Om tunggu kamu." Jawabnya sambil tersenyum.


Val berkutat di dapur cukup lama. Gadis itu begitu serius dan profesional setiap menyajikan hidangan. Ia menatanya di troli siap di antar kepada pelanggannya.


Pintu ruangan Mario kembali terbuka setelah menunggu sekian lama. Val tampak cantik mengenakan baju chef yang melekat di tubuh indahnya.


"Silahkan Om." Kata Val menyajikan di atas meja.


"Terimakasih. Kamu duduk juga. Kamu sudah janji mau temani Om makan."


"Iya Om. Tapi Val lepas ini dulu." Val melepas baju chef-nya hanya menyisakan kaos membuat Mario menelan ludahnya susah payah. Val begitu **** dengan kaos yang agak longgar menampilkan leher jenjang mulus yang terexpose.


Val duduk di depan Mario.


"Pilihlah yang kamu suka Val."

__ADS_1


"Ah tidak Om. Val bawa sendiri."


gadis itu menyajika sepiring spaghetti bolognese dan segelas milkshake di meja.


"Kamu..."


"Om jangan bilang Mami kalo aku makan spaghetti ya."


"Hm. Karena kamu menemani Om makan siang. Om nggak akan bilang."


"Makasih Om. Mari makan."


"Iya."


Mario sangat senang hari ini. Senyumnya tak luntur sedaritadi karena Ia makan hanya berdua dengan Val.


"Masakan kamu enak Val. Sangat enak." Kata Mario makan dengan lahap.


"Syukur kalo Om suka."


"Om kurang tidur ya?"


"Kok kamu tau?"


"Kantung mata Om agak menghitam."


"Iya. Kerjaan Om banyak." Kilah Mario padahal Ia tidur larut karena mabuk sambil memikirkan Val.


"Lain kali jangan begadang lagi Om. Jaga kesehatan."


"Iya." 'Kalo kamu belum tidur di sisiku mana bisa aku tidak begadang. Setiap malam tersiksa karena memikirkan mu.' Batin Mario.


"Tapi kata Mami kamu, Kamu juga suka begadang."


"Iya kalo lagi main game suka lupa waktu."


"Jangan begitu. Nanti sakit di mata."


"Iya Om."


"Om sudah pulang dari kantor?"


"Sudah. Makannya Om mampir kesini. Cafe dan Restoran kamu terbilang baru tapi rame Val."


"Iya Om. Alhamdulillah. Sekali datang langsung jadi langganan."


"Untungnya banyak dong."


"Ya begitulah. Bagi Val sudah bisa kasih gaji dan bonus untuk karyawan Val sudah senang."


"Val. Besok besok bisa temani Om?"


"Kemana Om?"


"Om mau beli Villa. Om harus cek dulu. Kamu mau nggak temani Om untuk dimintai pertimbangan. Karna Feeling cewek itu kuat banget soal memilih sesuatu."


"Om izin Papi aja. Kalo Papi kasih Izin. Val temani Om."


"Iya Nanti Om bilang Papi kamu."


"Oh Iya Val. Tukeran nomor sama kamu. Kalo Om mau tanya jadi gampang."


"Ini Om." Val menyerahkan ponselnya.


"Makasih ya. Nomor Om sudah Om save di situ."

__ADS_1


"Iya Om. Sama sama." Mereka melanjutkan makan siang sambil mengobrol ringan.


__ADS_2