Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Terlalu Memanjakan


__ADS_3

Pagi hari, seperti biasanya Val menyiapkan sarapan di ruang makan.


"Daddy nggak ikut sarapan Mom?"


"Nggak. Masih pusing katanya."


"Tadi kita kesana baik baik aja."


"Hm..Nggak tau juga. Kalian sarapan sendiri ya. Mom mau antar sarapan buat Daddy."


"Iya Mom."


"Mom. Tunggu."


"Ya." Val menghentikan langkahnya.


"Kita mau sepedahan temenin ya."


"Nggak bisa. Daddy kalian nanti rewel."


"Yah....."


"Kalian sepedahan sendiri gapapa ya.."


"Iya Mom."


"Nanti kalo sepedahan hati hati. Hari libur begini jalanan rame."


"Iya Mom." Val melanjutkan langkahnya setelah mencium ketiga anaknya bergantian.


Val memasuki kamar langsung menghampiri suaminya yang sedang duduk di balkon.


"Katanya sakit. Kok malah angin anginan di luar."


"Pengen hirup udara pagi aja." Mario memeluk pinggang sang istri yang masih berdiri di depannya.


"Awas dulu. Nanti sarapannya tumpah kalo kamu begini."


"Iya."


Val duduk di dekat suaminya.


"Sarapannya dimakan dulu."


"Suapi."


"Kebiasaan." Val mulai menyuapi suaminya.


"By."


"Hm."


"Kamu udah sarapan?"


"Udah minum susu. Masih kenyang."


"Kamu makan juga dong." Mario mengelus perut istrinya.


"Masih kenyang Dad."


"Yasudah. Tapi jangan sampai telat makan." Kata Mario tak ingin memaksa.


"Iya."


"Anak anak kemana? Tumben nggak nempel kamu mulu."


"Mereka tadi izin mau sepedahan."


"Oh. Pantesan. Mereka nggak ngajak kamu? biasanya mau kemana mana pasti sama kamu."


"Aku suruh mereka sendiri aja. Nanti kamu ditinggal uring-uringan."


"Makasih. Kamu ternyata lebih milih aku." Mario senang istrinya begitu perhatian.


"Udah jangan peluk peluk. Sarapannya dihabiskan."


"Iya."


Mario begitu manja dengan istrinya. Ia terus menempel pada Val dan tak mau lepas dari wanita itu.


"Badan kamu nggak panas. Kamu sakit beneran nggak sih?" Tanya Val tidak begitu yakin.


"Iya By. Aku sakit kok. Ini masih terasa pusing. Dingin juga. Minta peluk." Manjanya pada Sang istri.


"Kalo dingin itu masuk ke dalam bukan minta peluk."


"Minta peluk."


"Iya." Val memeluk suaminya dan mengelus lembut kepala pria itu. Mario begitu nyaman menyenderkan tubuhnya sambil berselonjoran memeluk sang Istri.


"Kamu baru pertama kali naik taxi Dad?"


"Iya. Kamu tau sendiri kan kalo aku nggak pernah naik selain kendaraan pribadi."

__ADS_1


"Iya tau. Tapi aku nggak tau kalo kamu bisa mabuk gara gara taxi." Kata Val menahan tawanya.


"Udah sekali itu aja. Aku nggak mau lagi."


"Bener udah kapok?"


"Iya. Aku naik taxi juga karna terpaksa."


"Hm. Mobil kamu gimana?"


"Masih dalam proses. By aku boleh beli mobil baru nggak?"


"Mau beli yang seperti apa? Mobil udah banyak kenapa masih pengen beli lagi?"


"Entahlah. Aku masih pilih pilih. Boleh ya..."


"Terserah kamu aja."


"Makasih By." Mario mengeratkan pelukannya pada sang istri.


"Dah sembuh Dad?" Tanya Veer melihat Mario sudah bergabung untuk makan siang.


"Sudah."


"Kalian sudah sholat?"


"Sudah dong Mom."


"Bagus. Sholatnya jangan sampai lupa. Sesibuk apapun kalian harus tetap sholat."


"Iya Mom."


"Mom."


"Ya sayang."


"Nanti jalan jalan ya."


"Iya. kemana?"


"Ke mall boleh Mom? Van mau beli buku boleh?"


"Boleh dong."


"By."


"Biarin Dad."


"Kita ikut ya Mom."


"Nggak. Aku ikut." Kata Mario tak membiarkan istrinya keluar sendiri.


Setelah makan siang Val dan Mario menemani anak anak ke mall.


"Sudah semuanya?" Tanya Val saat anak gadisnya berjalan menghampirinya.


"Sudah Mom."


"Yasudah. Kita bayar dulu."


"Iya Mom."


"Mom setelah ini beli vitamin buat kucing ya."


"Iya."


"Kamu kalo sama anak apa apa di iya in aja." Protes Mario pada Sang Istri. Menurutnya Val terlalu memanjakan anak anaknya. Apapun yang mereka inginkan selalu dituruti.


"Selama aku bisa ngasih ya dituruti dong. Lagian mereka mintanya juga nggak macam macam."


"Ya. Tapi jangan terlalu di manja aja. Biar mereka mandiri. Bukan masalah uang atau apa yang mereka minta. Masalahnya mereka selalu apa apa minta ditemani kamu. Lain kali biarin mereka pergi sendiri. Mereka udah besar."


"Dad. Ved dan Veer baru 15 la adiknya baru 12 tahun. Wajar dong."


"Iya. Tapi aku takut kesehatan kamu nanti drop kalo kecapean antar mereka kemana mana. Dokter kan..."


"Iya. Nanti aku coba pelan pelan didik mereka biar mandiri." Kata Val tau kekhawatiran suaminya.


"Dad. Pengen gelato ya."


"Ini. Anak anaknya nggak macem macem malah Mommynya yang macem macem."


"Ya Dad."


"Ya."


"Sama burger ya."


"Nggak."


"Ayo dong. Please......" Val mengguncangkan lengan suaminya.


"Iya." Mario tak tega langsung menuruti keinginan sang istri.

__ADS_1


"Tapi nanti malem kamu harus bayar." Kata Mario membuat Val kesal. Pria itu selalu tak mau rugi.


"Kita langsung pulang kan Mom?" Tanya mereka setelah membeli semua keperluan.


"Sebentar. Kita beli gelato sama burger dulu."


"Ih Mom kok makan burger."


"Nggak papa. Dad kasih ijin kok."


"Dad kok kasih izin."


"Biarin. Biar Mom senang."


"Ih Daddy sekarang begitu." Keluh si kembar.


Sore hari Val menemani suaminya yang tengah berolahraga di ruang gym.


"By."


"Ya."


"Kamu sibuk sendiri."


"Katanya suruh temenin. Ini kan udah di temenin."


"Kamu sibuk mulu." Mario merebut burger istrinya.


"Dad."


"Makan nanti. Temani aku."


"Ini kan udah ditemani."


"Fokusnya kamu ke burger bukan ke aku."


"Iya iya. Aku makan sambil liatin kamu."


"Makan nanti kalo aku udah selesai."


"Dad."


"Kalo protes aku buang."


"Iya iya. Aku nggak protes." Kata Val menurut.


"Pinter." Kata Mario mengecup bibir istrinya kemudian melanjutkan kegiatannya lagi. Pria itu tersenyum melihat istrinya yang patuh.


Satu jam lebih berlalu. Mario menghampiri istrinya. Val dengan sigap mengelap keringat dan memberikan minum.


"Makasih By."


"Iya."


"Boleh makan kan?"


"Iya." Pria itu mengelus kepala Val kemudian melepas kaosnya yang sudah basah karena keringat.


"Enak ya?" Mario memeluk istrinya yang begitu semangat makan.


"Enak. Dad mau?"


"Kamu aja By."


"Ok."


"Kamu kalo beli nggak pernah pake sayur."


"Enggak enak. Enak pake daging sama keju aja."


"Kamu."


"Minta minumnya."


"Ini."


"Makasih." Katanya meneguk minum yang diberikan suaminya sampai habis.


Val tengah bersama anak anak dan suaminya di ruang keluarga setelah makan malam. Wanita itu memeriksa kemajuan belajar masing masing anaknya.


"Bagus. Nilai kalian meningkat dengan cepat. Mom bangga. Harus dipertahankan ya. Jangan lalai lagi."


"Iya Mom." Ketiganya langsung memeluk Val.


"Kalian mau apa? sebagai hadiah. Mom turuti semua keinginan kalian."


"Nggak mau apa apa. Kita sama Mom terus aja udah bahagia."


"Iya Mom. Kita nggak jadi dimasukin ke pesantren sama Daddy. Ved seneng."


"Kalo kalian berulah. Daddy nggak segan segan buat masukin kalian ke pesantren beneran."


"Nggak Dad. Kita mau sama Mom terus."

__ADS_1


Val tersenyum mendengar penuturan anak anaknya.


__ADS_2