
Mohon maap dengan ketidaknyamanan pembaca Karna adanya konplik segala. Maksud author pengen episodenya lebih panjang gitu.
Sekali lagi maap ya...Val aja memaafkan masa para reader enggak.
Hari ini adalah hari ketiga Val meninggalkan rumah. Mario selalu membujuk dengan berbagai cara, memohon dan minta maaf berkali kali. Namun usaha tak membuahkan hasil, Val tetap pada keputusannya. Pria itu kini tengah berkunjung ke rumah mertuanya. Mario akan menjelaskan sesuatu karena Ia tahu Mertuanya itu orang yang cerdas. Mereka tidak mudah dibodohi.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Duduk." Kata Papi pada menantunya.
"Mario. Langsung saja pada intinya. Sebenarnya ada apa dengan Val. Dia tidak sedang berobat ke luar negri. Dia sedang berada di apartemen kan?" Tanya Pria itu to the point.
"Iya Pi. Sebenarnya kami sedang ada masalah."
"Masalah apa?"
"Mario merasa jika Istri Mario selalu menderita dan mengalami kejadian berbahaya selama berumahtangga dengan Mario. Oleh karena itu Mario bilang jika Mario mengikhlaskan dia agar dia aman dan hidup bahagia."
"Kamu. Kamu minta pisah sama Val?" Kata Mami tidak percaya dengan apa yang barusan dikatakan menantunya.
"Bukan begitu Mi. Mario hanya ingin Dia aman."
"Sama saja jika kamu sudah katakan begitu."
"Pantas saja Val pergi. Mami tidak menyalahkan dia."
"Mi. Pi. Tolongin Mario. Maksud Mario bukan begitu. Bantu Mario agar istri Mario mau pulang lagi."
"Mario. Ini adalah urusan rumah tangga kalian. Kami tidak akan ikut campur. Segera selesaikan. Bicarakan baik baik. Apapun keputusannya. Semoga itu yang terbaik untuk kalian berdua."
"Pi..."
"Pergilah. Temui istrimu. Bicarakan semuanya."
"Baik." Katanya langsung berpamitan untuk menemui Val.
Mobil Mario melaju kencang menuju Apartemen Val. Pria itu bergegas turu dan masuk ke dalam. Mario menaiki lift tergesa gesa. Ia langsung melangkahkan kaki menuju apartemen istrinya. Beberapa detik mengatur napas. Pria itu langsung membuka pintu namun gagal. Sepertinya Val sudah mengubah paswordnya. Mario menekan bel berkali kali namun tidak ada jawaban.
"Ada apa kesini?" Tanya seseorang yang berdiri tepat di belakang Mario.
"Sayang." Kata Pria itu melihat Sang Istri sedang membawa belanjaan.
"Minggir." Ketus Val.
"Aku bantu."
"Nggak usah. Minggir. Aku mau lewat."
"Ah. Iya." Ia menggeser tubuhnya. Val membuka pintu. Sebelum tertutup sempurna Mario dengan cepat masuk ke dalam.
"Ngapain?"
"By. Kita harus bicara."
"Nggak ada yang perlu dibicarain."
"Aku mau disini."
__ADS_1
"Terserah." Kata Val berlalu meninggalkan suaminya menuju dapur.
Mario menemui istrinya yang sedang duduk sambil minum obat.
"Bagaimana keadaan kamu Sayang?"
"Apa pedulinya kamu?"
"Tolong jangan seperti ini. Aku minta maaf." Mario memeluk istrinya dengan paksa.
"Kamu nggak tau rasanya jadi aku. Kamu egois. Saat aku butuh support dari kamu. Dengan teganya kamu bilang seperti itu." Val menangis mencurahkan seluruh isi hatinya.
"Iya sayang. Aku egois. Aku jahat. Aku minta maaf. Hukum aku sesuka kamu. Tapi jangan tinggalkan aku. Aku mencintai kamu, menyayangi kamu melebihi apapun. Aku tidak bermaksud menyakiti kamu. Aku minta maaf." Mario juga tak kuasa menahan air matanya. Pria kejam itu ikut menangis bersama sang istri.
"Kita pulang ya. Anak anak merindukan kamu."
Tanpa menjawab Val langsung berdiri dari duduknya dan mengambil tas. Wanita itu keluar dari apartemen diikuti suaminya.
Sampai di Mansion Val langsung turun mengabaikan suaminya. Wanita itu di sepanjang perjalanan juga diam tak bicara sedikitpun.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Mom." Ketiganya langsung berhambur memeluk Val.
"Mom pulang kok nggak kasih kabar."
"Maaf. Mom tidak sempat."
"Gimana keadaan Mom?"
"Sudah baik. Kalian sudah makan?"
Mereka menggandeng tangan Val untuk duduk bersama di ruang tengah. Mario juga bergabung. Namun Pria itu banyak diam tak seperti biasanya.
"Mom pasti capek. Mom istirahat aja ya."
"Hm.... Iya. Mom agak pusing. Mom ke kamar dulu."
"Istirahatnya di kamar Van saja Mom."
"Iya. Ayo."
"Daddy kenapa?" Tanya Ved setelah kepergian mereka.
"Daddy nggak Papa."
"Daddy ada masalah sama Mom?"
"Enggak."
"Baiklah. Apapun itu Ved nggak akan rela Mom disakiti siapapun. Termasuk Daddy." Kata Remaja itu langsung pergi diikuti kembarannya. Mario menghela napas melihat kepergian mereka. Bagaimana jika mereka tau bahwa Ia sudah menyakiti hati Val.
Anak anak tidur sambil memeluk Mommynya.
"Pasti sakit ya Mom?"
"Hm?"
__ADS_1
"Pasti yang Mommy alami menyakitkan."
"Tidak. Karena Mommy bertahan untuk kalian. Mommy tidak merasa sakit sama sekali. Anak adalah segalanya. Mereka hadir sebagai kekuatan untuk seorang Ibu."
"Terimakasih sudah selalu ada untuk kita Mom. Terimakasih sudah menjadi sosok Ibu yang sempurna."
"Sama sama Sayang. Itu sudah kewajiban Mom. Sekarang ayo tidur."
"Iya."
Mereka memejamkan mata. Semua tahu jika wanita itu tidak sedang baik baik saja. Val menyembunyikan sesuatu. Namun mereka hanya diam. Tak mau memaksa untuk bercerita. Mereka tahu jika Val akan mengatakan sesuatu yang berhak mereka ketahui.
Mario memeluk istrinya dengan erat.
"Aku minta maaf." Katanya lagi untuk yang kesekian kalinya. Wanita itu membalikkan badan membalas pelukan suaminya.
"Jangan diulangi lagi. Bagaimanapun aku adalah istrimu. Susah senang harus bersama denganmu. Jangan berfikir untuk melepaskanku atau sebaliknya. Kita berumahtangga bukan hanya setahun dua tahun. Tapi sudah tujuh belas tahun. Semua itu aku rasa sudah membuktikan jika aku serius. Aku benar benar mencintaimu." Kata Val dengan serius.
"Ya. Aku terlalu bodoh. Aku minta maaf."
"Ya. Aku sudah memaafkan."
"Terimakasih banyak."
"Sama sama."
"Kamu sudah makan?" Tanya Mario dengan lembut.
"Belum."
"Kalau begitu ayo makan."
"Em...Aku ingin bollen Bandung seperti yang dibawakan Om Frans kemarin."
"Baiklah." Jawabnya menuruti keinginan sang istri.
"Kenapa Banyak sekali." Val terkejut melihat meja yang penuh dengan kotak kotak makanan yang diinginkannya.
"Ini kan kamu yang mau By."
"Tidak sebanyak ini juga. Ini ma bisa buat makan satu RT."
"Ya. Suamimu ini kan kalo apa apa selalu totalitas."
"Bukan totalitas lagi. Ini udah kelewat batas."
"Ayo makan. Aku suapi." Mario menarik kursi agar istrinya duduk.
"Anak anak kemana?"
"Di belakang. Lagi siram tanaman."
"Ayo kesana."
"Katanya mau makan?"
"makan disana."
__ADS_1
"Disini aja." Mario menatap tajam istrinya dan mulai menyuapi wanita itu. Val hanya menurut tidak banyak berkomentar.