
Val dan Mario baru saja keluar dari halaman rumahnya. Pria itu menemani sang istri yang akan berbelanja di minimarket dekat kompleks perumahan.
"Ngapain jalan kaki sih By. Naik mobil kan enak."
"Kamu. Orang deket juga. Itung itung sambil olahraga."
"Prank..." Suara pecahan kaca dan ribut ribut terdengar oleh keduanya.
"Dad. Kamu denger sesuatu?"
"Iya. Udah ayo jalan lagi."
"Suaranya kaya dari rumah Bu Nana deh. Aku khawatir."
"Yang kemarin kemarin curhat sama kamu suaminya selingkuh itu?"
"Iya. Daddy sama tetangga sendiri kok nggak hafal sih."
"Ngapain. Nggak ada faedahnya."
"Bu Val. Pak Mario." Sapa Bu RT dan Pak RT berjalan cepat.
"Iya Bu. Mau kemana Bu RT?"
"Rumah Bu Nana. Suaminya selingkuh di rumah. Kasian. Ayo kesana." Tangan Val langsung di tarik oleh Bu RT.
"Eh...Main tarik istri orang aja." Kesal Mario langsung menyusul istrinya.
Mereka memasuki rumah Bu Nana yang sudah berantakan. Pecahan Vas dan kaca berserakan dimana mana. Mario menggenggam tangan istrinya khawatir akan terjadi sesuatu dengan Val.
"Bagus kamu berani selingkuh di rumah. Padahal baru aku tinggal sehari pulang ke rumah Ibuk. Kamu keterlaluan Mas. Kamu bajingan."
"Kamu dengerin aku dulu."
"Apa yang perlu aku dengerin. Udah jelas jelas kalian selingkuh di kamar kita sama teman jalangmu itu. Aku lihat sendiri. Aku nggak buta."
"Aku sudah bilang sama kamu kalo aku pengen nikah lagi. Kamu nggak kasih izin. Jadi jangan salahin aku kalo aku nekat seperti ini."
"Aku mau kita cerai. Aku udah nggak tahan lagi. Aku nggak mau hidup sama laki laki bajingan kaya kamu." Wanita itu langsung menampar dan mendorong suami dan selingkuhannya.
"Mbak. Aku minta maaf." Katanya sambil memegangi pipi yang memar akibat tamparan Nana.
"Tutup mulut kamu. Semoga saja kalian menuai apa yang kalian perbuat secepatnya. Tuhan nggak tidur. Sekarang menikahlah kalian. Nikmati waktu kalian selagi masih di beri kesempatan. Pergi dari rumah aku."
"Na.."
"Pergi."
"Baiklah." Kata keduanya langsung keluar dari rumah.
Val langsung memeluk wanita itu yang menangis semakin histeris. Ia membawa Nana untuk duduk.
"Tenang ya Bu. Memang bukan jodoh Bu Nana. Bu Nana harus bersyukur Allah sudah kasih tau seperti apa suami Bu Nana sekarang sebelum sakit lebih jauh lagi. Orang baik akan berjodoh dengan orang baik Bu. Saya tau Bu Nana orang yang baik dan setia. Makannya di jauhkan dari laki laki seperti itu." Kata Val sambil menepuk punggung wanita itu agar tenang.
"Makasih Bu Val. Saya lega sekarang bisa bebas dari laki laki seperti dia. Saya selama ini sudah bertahan di sakiti fisik maupun hati. Sekarang Saya hanya ingin hidup tenang dengan anak anak saja." Katanya sambil memeluk Val.
Pak RT dan Mario hanya memperhatikan ketiga wanita itu. Mereka tak berani ikut campur.
"Pak Mario."
"Hm."
"Istri Bapak hebat."
"Sial." Batin Mario kesal dengan pria di sebelahnya yang memuji sang istri. Mario hanya membalasnya dengan senyum tipis dan tidak ikhlas.
Mario dan Val kini sudah berada di rumah setelah pulang berbelanja.
"By."
"Hm." Jawab Val sambil mengeluarkan belanjaannya dari kantong kresek.
__ADS_1
"Kok bisa bisanya selingkuh di rumah. Aku jadi keinget Mama dulu."
"Udah deh Dad. Yang pahit nggak usah diinget inget lagi. Sekarang yang penting kamu kan udah bahagia."
"Iya. Ini semua berkat kamu." Jawabnya sambil meminum yogurt milik sang istri.
"Em...enak juga ternyata." Kata Mario.
"Apa?"
"Yogurt kamu enak."
"Minum aja. Atau mau aku bukain yang baru? Itu bekas aku."
"Enggak. Bekas kamu lebih enak."
"Bisa bisanya."
"By."
"Ya."
"Katanya wanita itu udah sering di bawa ke rumah setiap kali istrinya pergi. Tapi baru ketahuan sekarang. ****** itu katanya teman kerja suaminya di kantor. Berarti mereka sering ituan dong kalo suaminya pulang malem terus. Wah...Parah. Istrinya kalo masih dikasih jatah berarti dimasukin bekas orang."
"Ih. Apaan sih. Kamu kok malah gibahin orang."
"Haish....Prahara tetangga emang ribet. Gara gara RT nih aku jadi ikut ikutan mikir."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Veer mana? kok pulangnya nggak barengan."
"Disini Mom." Katanya menghampiri mereka.
"Ah kamu. Kirain Mom belum pulang. Kalian bersih bersih dulu ya. Mom siapkan makan siang."
"Iya Mom." Jawab ketiganya patuh.
"Kok bisa sakit kenapa?"
"Nggak tau. Tiba tiba kram gitu waktu di kebun."
"Alah boong Mom. Orang tadi kaki Dad baik baik aja."
"Heh. Kalian sibuk aja. Tadi emang nggak sakit, sekarang sakit." Kata Mario tidak terima. Val hanya tersenyum. Ia tahu suaminya sedang berbohong untuk mendapat perhatian.
"Tuh kan. Bisa marah marah. Itu artinya nggak sakit."
"Iya nih Daddy." Kata Van menimpali kakaknya.
"Beneran sakit By."
"Iya. Iya." Jawab Val meneruskan memijit kaki suaminya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Wah. Ladit sudah sembuh total?"
"Sudah Mom. Makasih ya udah rawat Ladit selama Ladit sakit."
"Sama sama Sayang. Jaga kondisi ya."
"Iya Mom."
"Kalian petik apa?"
"Rambutan. Ayo makan kak. Manis lo."
"Iya."
__ADS_1
"Kaki kamu kenapa?"
"Caper Om. Lagi pengen dimanja Mom."
"Heh. Sakit beneran ini."
"Iya. Percaya kok." Kata Frans sambil menahan senyumnya.
"Sebentar ya Dad. Aku mau ambilin minum dulu."
"Nggak usah. Biar dia minta Bibi."
"Iya Val. Kamu pijitin suami kamu yang manja aja. Aku bisa minta sendiri ke Bibi." Katanya sambil berlalu pergi sebelum mendapatkan Omelan dari Mario.
Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga sambil bermain Uno Card. Semuanya ikut. Yang menang bisa minta apapun yang mereka inginkan.
"Yah Daddy menang lagi." Keluh Ved.
"Minta cium Mom." Kata Mario manja.
"Astaga. Yang lain aja. Tadi kan sudah Dad. Kamu menang tiga kali minta cium mulu." Kesal Val.
"Nggak mau yang lain. Minta cium."
"Iya iya." Val langsung mencium pipi dan kening suaminya.
"Udah udah. Kasian yang duda ini. Kita mulai lagi." Frans mengocok kartunya dan mulai membagikan. Beberapa saat bermain akhirnya Val menang.
"Mom minta apa Mom? Jangan makanan pinggir jalan ya."
"Enggak kok. Mom nggak minta itu."
"Minta apa Mom?"
Val tersenyum penuh arti menatap mereka semua.
"Val. Jangan kelamaan. Jangan jangan kamu minta suami baru lagi, senyum senyum begitu."
"Tutup mulutmu." Mario memukul punggung sahabatnya itu.
"Sakit bego." Keluhnya.
"Enggak Om. Masa iya Aku minta suami baru. Satu aja cukup."
"Tuh dengerin." Kata Mario dengan bangga.
"Jadi Mom minta apa?"
"Mom pengen......"Kata Val sengaja menjeda kalimatnya.
"Anak perempuan lagi."
"Nggak." Tegas semua orang yang ada disana.
"Ih. Kok kalian begitu."
"Ngga. Nggak ada anak lagi. Udah cukup."
"Dad."
"Bener kata Om Mario. Udah cukup Mom."
"Iya Val. Udah cukup."
"Ih kalian kok ikut ikutan Mereka."
"Kita sefrekuensi kalo soal ini."
"Ayolah. Satu lagi yang cewek."
"Cukup." Kata mereka bersamaan sampai suaranya memenuhi ruangan.
__ADS_1