Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Kembali


__ADS_3

Val baru saja pulang dari rumah sakit bersama suaminya. Kakinya sudah pulih dan gips boleh di lepas.


"Aku mau ke dapur dulu ya. Mau siapin makan siang. Nanti anak anak keburu pulang."


"Iya. Ayo aku temani."


"Kamu mandi aja. Bajunya udah aku siapin di tempat biasa."


"Yaudah. Aku ke kamar dulu ya."


"Iya."


"Kamu masaknya hati hati."


"Iya."


Mario mengecup kening istrinya sebelum pergi.


"Bagaimana?" Tanya Mario lewat pesan suara.


"Kami akan siapkan Bos. Bos bisa mengeceknya sendiri. Atau mau kamu bawa ke mansion Bos."


"Jangan. Aku akan kesana."


"Baik Bos." Mario menutup panggilannya.


Pria itu bergegas mandi.


Val tengah sibuk menata makanan di meja makan.


"By."


Mario memeluk istrinya.


"Kamu sudah sholat?"


"Sudah. Aku makan duluan ya. Soalnya ada janji sama teman."


"Iya. Aku siapin."


"Jangan cuma siapin. Suapi sekalian."


"Iya. Kamu duduk dulu."


Val menyuapi suaminya.


"Anak anak jam segini kok belum pulang?"


"Sebentar lagi mungkin."


"Van masih tidur?"


"Masih. Tadi sempat bangun untuk makan sama sholat terus tidur lagi."


"Oh." Mario mengangguk paham.


"Assalamualaikum Mom."


"Waalaikumsalam sayang. Kalian sudah pulang."


"Iya Mom."


"Mandi ya. Terus sholat. Mom sudah siapkan makan siang untuk kalian."


"Iya Mom." Jawab keduanya patuh.

__ADS_1


"Mom. Daddy mana? Biasanya makan bareng sama kita."


"Daddy tadi sudah makan duluan. Mau ketemu teman katanya."


"Oh. Mom anter kita ke minimarket ya. Kita mau beli Snack."


"Iya. Tapi tunggu Van bangun ya."


"Iya Mom."


"Eh itu dia Van."


"Mommy." Gadis kecil itu memeluk Mommynya.


"Sayang sudah bangun. Duduk dulu. Nanti kita ke minimarket ya."


"Iya Mom."


Mario duduk di kursi kebesarannya. Para pria berbadan kekar berjejer rapi di depannya.


"Rio." Frans memasuki ruangan sahabatnya itu.


"Kalian boleh pergi."


"Baik Bos." Kata mereka membubarkan diri.


Mario ikut duduk bersama Frans di sofa.


"Selamat datang kembali." Pria itu menepuk bahu sahabatnya.


"Tanpamu dunia bawah sedikit kacau. Aku senang kau kembali. Jadi aku tidak perlu terlalu khawatir."


"Aku yang sekarang khawatir jika kau merasa tenang."


"Istrimu?"


"Dia tak akan tau."


"Cepat atau lambat pasti akan tau."


"Apa yang kau khawatirkan. Aliran dana yang masuk ke rekeningmu sangat di privasi. Dia tidak akan tau."


"Entahlah. Perasaanku tidak enak untuk ke depannya. Bagaimana jika dia benar benar meninggalkan aku."


"Kau bisa memperistri dia dengan cara seperti itu. Kau tentunya juga bisa membuat dia tetap tinggal di sisimu."


"Aku takut akan menyakitinya."


"Itulah cinta. Harus ada salah satu yang berkorban. Menyakiti agar tidak berpisah atau membiarkan jika siap untuk di tinggal."


Mario menghela nafas untuk mengatasi beban yang ada di dalam hatinya.


Sosok pria duduk di sebuah kursi dengan keadaan terikat. Bekas darah yang sudah mengering tampak jelas di pelipis dan sudut bibirnya.


"Siapa kau?" Bentak Mario memenuhi ruangan yang minim cahaya itu.


"Akhirnya aku bertemu denganmu. Aku Nicolas."


"Apa hubunganmu dengan istriku? Kenapa kau memata matainya? dan siapa yang menyuruhmu?"


"Aku hanya ingin tau kabarnya. Tidak ada yang menyuruhku. Kami sudah bersahabat sejak kami berumur 9 tahun. Dan aku tau akhir akhir ini dia telah menikah dan memiliki anak denganmu."


"Kau menyukainya?"


"Ya." Jawaban itu membuat Nicolas menerima satu pukulan yang mendarat mulus di pipi kanannya. Darah mengalir dari hidung pria itu namun Mario tidak peduli.

__ADS_1


"Kau. Berani beraninya menyukai istriku."


"Setiap orang berhak menyukai orang lain. Istrimu sekalipun."


Pukulan lebih keras Mario berikan lagi padanya.


"Harusnya kami sudah bersama jika kau tidak muncul. Aku tau kau yang memaksa Val untuk menikah dengan pria keparat sepertimu."


Mario sudah hilang kesabaran. Ia menendang pria itu sampai memuntahkan darah segar dari mulutnya.


"Buang dia." Kata Mario pada bawahannya.


"Ku peringatkan kau. Jika Val tau tentang ini. Dia tidak akan memaafkanmu. Camkan itu." Katanya sebelum diseret pergi.


"Bos. Senjata sudah siap di kirim. Silahkan Bos cek terlebih dahulu."


"Ya." Mario mulai mengecek beberapa kotak senjata itu satu persatu. Pria itu sangat ahli dan sudah lebih dari dua puluh tahun mengerjakan pekerjaan ini. Jadi menurutnya hal yang mudah untuk mengetahui kualitas dan keaslian hanya dengan sekali pandang.


"Katana yang bagus." Kata Mario sambil menutup kotak penyimpanan senjata tajam itu.


"Kirimkan. Aku akan pulang."


"Baik Bos." Jawab mereka patuh.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Val mencium tangan suaminya.


"Ini darah apa Dad?"


'Sial.' batin Mario karena noda darah di kemejanya terlewat saat bersih bersih tadi.


"Ah. Tadi ada yang kecelakaan. Kasihan. Jadi aku tolong."


"Oh. Parah nggak?"


"Enggak kok. Cuman keningnya aja yang berdarah."


"By. Tolong bikinkan cappucino ya. Aku tunggu di kamar."


"Iya." Kata Val segera melaksanakan perintah suaminya.


Val menghampiri suaminya yang sedang berada di kamar.


"Ini cappuccino nya Dad."


"Makasih By." Mario membawa sang istri untuk duduk di pangkuannya. Pria itu memeluk hangat Val.


"Tadi kamu keluar."


"Iya. Anak anak minta di antar ke minimarket. Aku telfon kamu buat izin kamu nggak angkat."


"Maaf ya. Hp Aku lagi lowbat."


"Iya nggak papa."


"By."


"Iya."


"Minta elus kepala aku."


"Iya." Val mengelus kepala Mario sesuai permintaan pria itu. Mario memejamkan mata menikmati sentuhan lembut dari istrinya.


para pembaca santai saja ya. Nikmati jalan ceritanya. Nggak ada acara pisah Val sama Mario. Mereka akan sama sama terus kok. Jadi jangan dipikirkan sampai nggak bisa tidur.

__ADS_1


Hehe...


Author mau bikin konflik internal aja. Tapi nggak sampai pisah kok. Janji deh.


__ADS_2