Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Siuman


__ADS_3

Mario mengucapkan selamat tinggal sebelum pulang ke rumah. Istrinya sudah 3 hari dirawat namun belum juga ada perkembangan.


"Pi. Mi. Aku pulang dulu."


"Iya." Jawab Mami.


"Kamu jaga anak anak. Jangan sampai mereka sakit karena Mommynya belum pulang."


"Iya Mi." Katanya berjalan pergi.


"Jika nanti Val sadar. Aku akan bawa dia pulang ke rumah."


"Pi."


"Mi. Mami nggak tau betapa menderitanya Val hidup bersama orang itu. Dia menikah karena diancam. Dia nggak boleh keluar. Dia sekarang kritis seperti ini juga gara gara Mario Mi."


"Pi."


"Aku nggak mau denger lagi Mami belain mantu kesayangan Mami itu." Katanya meninggalkan Sang istri sendiri.


Mario baru saja sampai di rumah.


"Dad. Bagaimana keadaan Mom?"


"Masih sama. Kalian berdoa saja biar Mom cepat sembuh ya."


"Iya Dad." jawabnya dengan raut wajah sedih.


"Kalian sudah makan?"


"Belum Dad."


"Makan Ya. Biar Kalian nggak sakit. Nanti kalo kalian sakit Mommy jadi sedih."


"Iya Dad. Daddy nggak makan?"


"Daddy mau mandi dulu."


"Kalian makan sekarang."


"Iya Dad." Jawab mereka patuh.


Mario tengah berada di sebuah ruangan bersama Nicholas. Keduanya sekarang yang menjadi tersangka. Sama sama menyalahkan diri sendiri.


"Bagaimana keadaan Valerie?"


"Belum ada perkembangan."


"Apa tujuanmu sebenarnya?"


"Untuk menyusulnya. Ternyata dia sudah punya tiga anak."

__ADS_1


"Selanjutnya?"


"Hukum aku. Aku akan pulang. Aku sudah menyakitinya."


"Kita sama sama menyakitinya. Kita pantas mati."


"Anak anakmu masih membutuhkanmu. Aku saja."


"Tidak. Aku tidak akan membunuhmu. Aku disini juga bersalah."


"Lalu?"


"Tandatangani ini. Lalu pergi sejauh mungkin."


Mario menyerahkan surat perjanjian di atas meja.


"Pastikan aku tau kabarnya setelah siuman nanti."


"Ya."


"Aku pergi. Maaf sudah mengusikmu."


"Ya." Kata Mario memandang kepergian pria itu yang di kawal oleh beberapa bawahannya. Ia menghela nafasnya panjang. Mario tak menyangka akan terjadi peristiwa seperti ini. Apalagi sang istri kritis karena perbuatannya sendiri.


"Tuan." Kata bawahannnya sambil memasuki ruangan.


"Nyonya sadar."


"Benarkah?"


Mario bangkit dari duduknya langsung keluar untuk menuju ke rumah sakit.


Mario sudah sampai di depan pintu ruangan istrinya.


"Mau apa kamu?"


"Mau jenguk istri Pi."


"Pergi."


"Pi. Biarkan." Kata Mami melerai keduanya.


Papi masuk kembali meninggalkan menantunya.


Mario berjalan mendekat ke arah istrinya. Ternyata alat bantu pernafasan dan alat alat lainnya belum di lepas oleh dokter.


"By." Panggil Mario namun Val hanya mengedipkan matanya sambil menangis.


Semua yang ada disitu tak kuasa menahan air matanya melihat kondisi Val yang begitu lemah.


"Mi istriku kenapa?"

__ADS_1


"Paru parunya sakit. Kau tidak mengerti ya. Ini semua gara gara kamu."


"Maaf Pi."


"Aku minta maaf By." Mario mencium tangan istrinya sambil menangis.


"Anak anak mana?" Tanya Val sambil menahan sakitnya.


"Di rumah. Mereka baik baik saja." Mario mendongakkan kepala menatap sang istri.


"Aku ingin bertemu."


"Jangan dulu sayang. Tunggu keadaanmu pulih. Papi janji akan bawa mereka kesini."


Val mengedipkan matanya tanda setuju.


Mario menunggu istrinya. Val baru saja tertidur beberapa menit yang lalu.


"Pulanglah. Ini sudah malam."


"Tapi Pi. Izinkan aku menunggu disini. Mami sudah dirumah untuk menjaga anak anak."


"Kemarilah. Aku ingin bicara."


"Baik. Pi." Mario melepaskan tangan istrinya menyusul sang mertua yang duduk di sofa.


Keduanya sama sama diam belum mengatakan apapun.


"Setelah sadar nanti Val akan tinggal bersama kami."


"Pi..."


"Tempatmu tidak aman untuk putriku."


"Pi. Mario janji..."


"Dulu kau juga berjanji namun selalu kau ingkari. Aku menerima pernikahan kalian karena aku berharap kau dapat menjaga putriku dengan baik. Aku dulu melihat ketulusanmu meski kau orang yang kejam dan arogan. Kau bisa bersikap lembut pada putriku dan aku percaya. Namun sekarang entah kenapa aku tidak bisa mempercayaimu lagi. Dia hampir meregang nyawa di tanganmu sendiri. Ini anakku. Aku juga menghawatirkan cucu cucuku. Kehidupanmu yang penuh dengan kekerasan tidak cocok untuk mereka. Maka dari itu aku putuskan untuk membawa mereka tinggal bersama kami. Kembalikan anakku padaku Mario. Semuanya sudah berakhir. Aku tak mau kehilangan atau melihat Val terluka lagi. Biarkan dia hidup dengan tenang."


"Pi dia istriku."


"Dia anakku."


"Maafkan Mario Pi. Tolong jangan seperti ini. Izinkan Mario tetap bersama Istri Mario. Jangan pisahkan kami. Mario nggak bisa hidup tanpa Dia Pi. Mario akan menjaganya."


"Itu yang pernah kamu katakan dulu dan aku masih mengingatnya dengan jelas."


"Maafkan Mario Pi."


"Nikmati waktumu. Jika nanti Val pulih, Dia akan pulang bersamaku."


"Pi. Mario Mohon."

__ADS_1


Katanya namun tidak di perdulikan sang mertua.


Mario mengamati istrinya yang tertidur dengan tenang. Wajahnya pucat dan lelah. Mario membaringkan kepalanya di tempat tidur Val sambil menggenggam tangan wanita itu.


__ADS_2