
Val dan Mario buru buru ke rumah sakit. Mereka baru saja mendapat kabar jika kondisi Frans drop lagi.
"Di mana?"
"Di ruang UGD katanya."
"Yaudah. Ayo." Val buru buru menggandeng tangan suaminya menuju ke ruangan UGD.
"Mom." Ladit sudah dengan mata sembabnya bangkit dari duduk dan memeluk Val.
"Sabar ya. Kita berdoa." Katanya menenangkan sambil membawa Ladit untuk duduk.
Beberapa Jam menunggu akhirnya dokter keluar. Pria paruh baya itu melepas maskernya. Wajah begitu lelah mengekspresikan kesedihan dan kebingungan bagaimana cara menyampaikan kepada mereka yang menunggu dengan penuh harap.
"Bagaimana dok?"
"Maaf. Tuan Frans tidak tertolong. Kami turut berduka." Bagaikan si sambar petir. Mereka terkejut mendengar apa yang barusan dokter sampaikan.
"Tidak. Tidak mungkin. Papa masih hidup. Dokter bohong kan... Malam tadi Papa masih ngobrol sama aku." Kata Ladit yang tak mampu lagi menopang tubuhnya. Remaja itu jatuh terduduk di lantai. Val yang menangis memeluknya dengan erat untuk memberi kekuatan. Mario juga ikut memeluk istri dan anak sahabatnya itu.
"Sabar. Semua miliknya pasti akan kembali." Kata Mario mengusap punggung Ladit sambil menahan gejolak yang ada di hatinya. Ia sama sekali tak menyangka harus kehilangan Frans. Sahabat sekaligus saudaranya.
"Mom. Ladit nggak punya siapa siapa lagi."
"Nggak Sayang. Ladit masih punya Mom, punya Adek Adek, punya Om, Punya semuanya. Ladit punya kita." Val mengusap air mata Ladit.
"Tuan Mario."
"Ya. Dok."
"Mari bicara sebentar."
"Baik Dok." Mario langsung mengikuti langkah dokter untuk menjauh dari sana.
"Ada apa Dok?" Tanya pria itu setelah keduanya duduk bersama.
"Saya menemukan surat ini di genggam erat oleh Tuan Frans. Saya tau hubungan kalian begitu dekat. Oleh karena itu saya menyerahkannya kepada anda. Saya Turut berduka."
"Iya dok. Terimakasih."
"Sama sama Tuan. Saya Permisi."
Mario memandangi surat itu lalu memasukkan ke saku celananya.
Pelayat sudah meninggalkan area kompleks pemakaman. Namun Ladit tak beranjak dari sana padahal cuaca begitu terik.
"Sayang. Ayo pulang dulu." Kata Mami Val lembut.
"Ladit mau sama Papa."
"Biar Val aja Mi. Mami sama Papi duluan aja. Ajak anak anak sekalian."
"Iya."
"Dad. Kamu ke mobil dulu."
"Nggak. Aku disini temenin kamu."
"Kamu ke mobil dulu. Biar aku ngomong sama Ladit."
"Baiklah."
Val berjongkok di samping Ladit. "Sayang. Ayo pulang dulu."
__ADS_1
"Ladit mau disini Mom."
"Sayang jangan begini. Kamu nanti sakit. Ayo pulang dulu."
"Papa udah nggak ada." Katanya menangis lagi.
Val memeluknya dengan erat. "Iya. Kamu yang sabar ya. Semuanya pasti akan kembali. Hanya waktu yang menentukan. Sekarang pulang dulu. Kalo Papa lihat Ladit begini Papa juga nggak akan suka. Papa kan pengen Ladit jadi anak yang kuat."
"Iya Mom." Lirihnya.
Pengajian akan dilakukan di rumah Mario karena Frans tidak memiliki siapa siapa. Val dan Mario menghampiri Ladit di kamar setelah membersihkan diri.
"Sayang. Ayo makan dulu. Nanti kamu sakit lo."
"Ladit nggak lapar Mom."
"Makan Dit."
"Ladit nggak lapar Om."
"Ayo sedikit saja. Makan ya, Mom sudah masak buat kamu lo. Masa kamu nggak mau makan. Mom suapi ya..."
"Iya."
Val menyuapi Ladit dengan telaten.
"Nanti malam akan ada pengajian untuk Papa. Ladit ikut ya. Ladit doakan supaya papa mendapat tempat terbaik di sisinya."
"Iya Mom."
"Ladit anak kuat. Ladit nggak boleh sedih lagi."
"Mom janji kan. Mom nggak akan ninggalin Ladit."
"Terimakasih Mom." Ia memeluk Val dengan erat.
Malam harinya acara pengajian baru saja selesai. Ladit tak berhenti menggenggam tangan Val. Ia benar benar tak bisa jauh dari wanita itu.
"Bu Val, Kami turut berduka ya."
"Iya Bu. Terimakasih banyak sudah datang untuk mendoakan."
"Sama sama. Semoga Ladit juga diberi ketabahan. Kalau begitu kami pulang dulu ya."
"Iya Bu. Terimakasih banyak."
"Sama sama."
"Ladit. Kamu pucat. Sudah makan?"
"Sudah Oma. Tadi disuapi Mom."
"Kalo gitu. Kamu ke kamar dulu istirahat aja. Sayang antar Ladit ke kamar dulu."
"Iya Pi." Jawab Val langsung bergegas mengantar Ladit.
Ladit berbaring sambil di peluk Val. Ia merasa nyaman seperti ini.
"Tidurlah. Mom temani."
"Terimakasih Mom. Karena selalu ada untuk Ladit yang bukan darah daging Mom."
"Kamu anak Mom. Meskipun tidak ada ikatan darah. Kamu tatap anak Mom. Sekarang tidur. Kamu butuh istirahat."
__ADS_1
"Iya Mom." Jawabnya sambil memejamkan mata.
Val kembali lagi bergabung bersama mereka setelah Ladit tertidur pulas.
"Mom. Ayo tidur."
"Iya. Ayo."
"Aku tidur di kamar Veer. Nanti Mom nyusul ya."
"Iya. Setelah Van tidur." Bisik Val pada anak sulungnya.
"Ok." Jawab Ved langsung menggandeng tangan kembarannya untuk pergi. Val bersikap begini agar anak anaknya tidak cemburu saat Ia memperhatikan Ladit. Sebisa mungkin Ia akan bersikap adil untuk semuanya.
Val memasuki kamar Veer saat anak gadisnya sudah tidur. Menidurkan anak anak sudah menjadi rutinitasnya. Meskipun umur mereka sudah belasan. Namun mereka tetaplah manja.
"Kalian masih nonton."
"Iya Mom."
"Ayo tidur. Ini sudah jam 10 lebih. Besok kalian sekolah. Kalo susah bangunnya awas aja."
"Iya Mom." Keduanya langsung melompat ke tempat tidur.
"Capek ya. Nidurin anak anak kamu yang manja." Tanya Mami melihat kedatangan Val.
"Lumayan Mi. Mami sama Papi nggak tidur?"
"Nanti. Masih ada yang mau kita bahas."
"Apa?"
"Tadi aku dikasih surat sama dokter By."
"Surat apa?"
"Surat yang di genggam sama Frans."
"Sudah kamu baca? Apa isinya?"
"Aku belum baca."
"Yaudah baca."
"Iya."
Mario membuka lipatan kertas itu. Isinya begitu singkat. Ia menarik nafas dan menghembuskan pelan kemudian membacanya.
"Terimakasih untukmu dan Val karena sudah membuat hidupku lebih bermakna. Aku rasa waktuku sudah tidak lama lagi. Aku titipkan Ladit pada kalian. Hanya kalian yang aku percaya. Kalian sudah seperti keluargaku Kakak dan juga adikku. Sekali lagi terimakasih karena selalu ada untukku dan Ladit setiap saat. Aku akan pergi dengan tenang saat sudah menyampaikan ini semua." Mario menghentikan membaca dan memandang istrinya.
"Masih ada?" Tanya Val dan pria itu hanya mengangguk.
"Teruskan."
"Maaf karena aku harus mengatakan ini. Aku ingin jujur sebelum tiada. Mario aku sudah lama menyukai istrimu. Namun aku tak mau mengganggu kalian. Aku cukup tau diri. Kalian pasangan yang serasi. Aku harap kalian bahagia selalu." Lanjutnya membuat Val tersedak saat minum dan kedua orang tuanya menatap tak percaya.
"Pelan pelan By." Kata Mario mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Mario. Kamu nggak tau tentang ini?"
"Nggak mungkin aku nggak tau Mi. Aku tau tapi aku diam saja. Aku percaya sama dia. Aku kenal dia sudah lama banget. Kita sudah kaya saudara. Dia nggak mungkin macem macem."
"Lalu bagaimana? Kalian akan merawat Ladit?"
__ADS_1
"Sesuai wasiat. Kami akan melakukannya Mi." Kata Val menggenggam tangan suaminya. "Nanti kita bicarakan." Katanya sambil menatap sang istri.