
Val tengah duduk berdua bersama suaminya karena anak anak sedang tidur.
"Dad."
"Iya By."
"Aku mau ngomong sesuatu."
"Ngomong aja."
"Aku mau pake hijab."
"Terus?"
"Kamu kasih izin kan?"
"Iya. Apapun yang kamu inginkan aku dukung sepenuhnya."
"Makasih Dad."
"Sama sama By. Minta cium."
"Iya." Val mencium suaminya sesuai permintaan Pria itu.
"Astaga Dad. Ini apaan banyak banget." Val terkejut melihat paper bag yang berjejer rapi di walk in closetnya.
"Ini semua untuk kamu. Ada gamis sama jilbab juga."
"Kenapa beli sebanyak ini sih. Nggak kira kira."
"Biar kamu seneng. Kamu seneng kan?"
"Iya. Tapi kebanyakan."
"Nggak papa. Nanti kalo bosen buang aja."
"Jangan mubazir ah."
"Iya." Mario memeluk istrinya dengan mesra.
"Awas dulu. Aku mau beresin."
"Nanti aja. Kita duduk dulu." Mario membawa istrinya untuk duduk. Pria itu menceritakan segala keluh kesahnya pada sang istri.
Hari ini Val dan keluarga kecilnya akan berkunjung ke rumah Mami.
"Dad. Semuanya sudah dimasukkan ke mobil?" tanya Val yang sudah cantik dengan gamisnya keluar bersama anak anak menghampiri sang suami.
"Sudah By."
"Kita berangkat sekarang ya Mom?"
"Iya sayang."
"Mommy duduk di belakang sama kita kan?"
"Mommy di depan sama Daddy. Kalian bertiga di belakang."
"Yah.."
"Dah, keburu sore nanti. Ayo masuk ke mobil."
"Iya Mom."
Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai pukul 4 sore.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Wah kalian datang." Papi dan Mami langsung memeluk putri dan cucu cucunya.
"Ini Mi."
"Masih sempatnya bikin Cake. Emang anak anak nggak rewel kamu tinggal?"
"Mereka tidur Mom. Mupung ada waktu Val bikin. Ini yang tiga kotak lagi Mami bagiin ya."
"Iya sayang."
"Opa. Rambutan Opa ada buahnya nggak?"
"Ada semua tanaman Opa berbuah."
"Kita juga baru tanam kemarin."
__ADS_1
"Iyakah?"
"Iya Pi mereka yang minta." Jawab Mario.
"Tanamnya dimana?"
"Di belakang. Kan luas banget. Sayang kalo nggak digunain."
"Opa, Kita mau ke kebun Opa."
"Iya Ayo." Papi Val menggandeng tangan cucu cucunya untuk dibawa ke kebun belakang rumah.
"Kamu mau kemana By?"
"Mau ambil keranjang." Kata Val meninggalkan suaminya sendiri.
Mereka tengah sibuk memetik buah. Mario dan kedua mertuanya hanya mengawasi sambil duduk di gazebo.
"Lengkap hidup kamu."
"Iya Pi. Mario sangat bersyukur."
"Aku nggak nyangka punya menantu kurang ajar tapi baik kaya kamu."
"Mami bisa aja."
"Punya anak tiga gimana rasanya?"
"Pusing. Untung istri sabar banget. Mereka banyak tanya dan aku nggak tau apa apa Pi. Jadi yang jawab Mommynya."
"Untung Val dari kecil belajar agama. Meskipun tinggal di negara minoritas muslim."
"Iya."
"Dulu papi juga pusing punya anak satu itu."
"Nakalnya minta ampun. Ga nyangka sekarang bisa jadi Ibu yang hebat."
"Semua bisa berubah Mi."
"Kenapa nangis sayang?" Mami bangkit menenangkan cucu perempuannya yang sedang di gendong Val.
"Biasa Mi. Kakaknya pada jahil."
"Enggak mau." Van mengeratkan pelukannya pada Valerie.
"Kalau udah begitu jangan di tawari gendong Pi. Pasti nggak mau. Sama aku aja nggak mau."
"Coba pengen lihat."
"Van sama Daddy ya. Kasihan Mommy capek."
"Gamau."
"Tuh kan. Aku bilang juga apa." Kata Mario malah ditertawakan oleh mertuanya.
Mereka tengah makan buah yang baru saja di petik.
"Van masih marah? kakak minta maaf."
Gadis kecil itu tidak menjawab malah menyembunyikan kepalanya di dada sang Mommy.
"Dimaafkan sayang kakaknya. Ga baik nanti kalo marahan."
"Iya."
"Van maafin kakak kan?"
"Iya." Kedua bocah kembar itu memeluk adiknya.
"Kalian kok ya suka banget godain adiknya."
"Pipinya itu lo Oma. Kalo di toel toel lucu. Coba Oma lihat."
"Heh jangan. Nanti adiknya nangis lagi." Tegur Val.
"Mom. Van mau jeruk."
"Iya. Mom kupaskan." Val mengusapkan jeruk dan menyuapkan pada anaknya.
"Manis nggak dek?"
"Manis."
__ADS_1
"Van duduk sendiri dong, Kasihan Mommy capek."
"Mau sama Mom."
"Biarin Dad."
"Kamu kan capek."
"Nggak kok."
"Mi. Di daerah sini kalo ramadhan suka banyak yang jual takjil nggak?"
"Jarang. Mami kalo pengen bisanya agak jauh di dekat taman samping Mall itu lo."
"Jauh juga."
"Val dari dulu pengen beli. Sama Daddy-nya anak anak nggak boleh. Katanya nggak sehat."
"Bener juga. Kadang kadang pedagang yang curang juga kasih pengawet atau pewarna sintetis."
"Tuh. Dengar kan By. Ga sehat."
"Lebih baik bikin sendiri. Bahan sama kebersihannya terjamin."
"Iya Juga." Kata Val setuju.
Setelah makan malam Ved dan Veer tiba tiba mengajak Mommynya untuk ke minimarket.
"Mau beli apa?"
"Cemilan Mom."
"Biar di belikan Bibi."
"Kita pengen beli sendiri."
"Ayo Mommy temani. Mupung Val lagi tidur."
"Ayo."
"Mau kemana?" Tanya Mario baru datang.
"Kebetulan. Dad. Aku temani anak anak ke minimarket depan ya."
"Ayo sama aku juga." Mario takut Istrinya digoda laki laki lain.
"Iya."
Mario dan Val hanya mengikuti kedua anaknya yang tengah asyik memilih makanan.
"Belikan untuk Adek juga sayang."
"Pasti Mom."
"Van sukanya yang mana Mom?"
"Van suka yang cokelat."
"Ok." Ved memasukkan beberapa biskuit ke dalam keranjang.
"Sudah Mom?"
"Yakin?"
"Iya."
"Yaudah. Kita bayar."
"Biar aku yang bayar By." Kata Mario melihat kasirnya laki laki.
Val memasuki kamarnya. Mario langsung beranjak dari ranjang dan memeluk istrinya.
"Ada apa?"
"enggak papa."
"Aku mau ganti baju dulu."
"Iya."
Val langsung menghampiri suaminya di ranjang setelah mengganti gamisnya dengan piyama.
Mario memeluk istrinya dengan erat. Pria itu mengoceh sedaritadi namun Val sudah tertidur dengan pulas.
__ADS_1
"Yah. Kamu mau diajak begadang malah tidur." Gumam Mario lalu mengecup bibir sang istri.