Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Libur


__ADS_3

Val sedang mampir di Mall bersama suaminya sebelum pulang. Mario terus menggenggam tangan Sang Istri tak mau melepaskannya meskipun sedang bayar sekalipun.


"Kita mau cari apa lagi By?"


"Cari kurma."


"Kan nggak lagi ramadhan."


"Biasanya tetep ada kok."


"Kamu kepengen kurma?"


"Bukan aku. Anak anak. Nah itu dia. Ayo kesana." Val menarik tangan Mario.


Sampai disana Val langsung memilih beberapa dan memasukkannya ke dalam keranjang.


"Sudah Dad."


"Yakin nggak mau tambah yang lain lagi?"


"Nggak. Ini aja udah banyak."


"Yasudah. Ayo bayar dulu."


"Iya."


"By. Aku kebelet pipis. Temenin ya." Kata Mario menahan tangan istrinya.


"Nggak. Itu kan toilet cowok. Masa iya aku suruh temenin kamu kesana. Aku tunggu sini aja."


"Yaudah. Tunggu sini. Jangan kemana mana."


"Iya. Jangan lama lama."


"Ok." Mario pergi setelah mengecup kening Val.


Val duduk di bangku menunggu Mario sambil memainkan ponselnya. Ia membahas chat dari anak anak yang katanya akan pulang telat hari ini karena Mereka mampir di rumah Mami.


"Permisi." Kata seseorang menghampiri Val.


"Ya." Jawab Val sambil mengangkat pandangannya.


"Ibu Valerie."


"Benar. Anda?"


"Oh Saya Ilham guru Ved dan Veer waktu Sekolah dasar dulu."


"Oh. Iya ingat ingat. Pak Ilham. Apa kabar pak?"


"Alhamdulillah baik. Ibu sendiri?"


"Alhamdulillah baik juga."


"Ibu sedang apa disini?"


"Sedang beli kurma untuk anak anak. Bapak?"


"Saya sedang menemani keponakan membeli buku."


"Oh."


Mario berjalan cepat ketika melihat istrinya tengah mengobrol sambil tertawa dengan seorang pria. Hatinya mendidih menyaksikan itu.


"Ngapain ngobrol sama istri orang." Kata Mario setelah sampai disana. Pria itu dibutakan api cemburu sehingga tak menghiraukan teguran dari Val.


"Dad."


"Pak Mario."

__ADS_1


"Saya peringatkan kamu ya. Dia sudah punya suami. Jangan macam macam atau anda akan menyesal." Katanya sambil mencengkram kerah baju pria itu.


"Dad."


"Ayo pulang." Mario langsung menarik tangan Istrinya untuk segera pergi dari sana.


"Maaf Pak. Assalamualaikum." Kata Val sambil berjalan mengimbangi Mario.


"Waalaikumsalam." Jawab Pria itu sambil memandangi kepergian keduanya.


Sepanjang perjalanan Val hanya diam. Ia begitu kecewa dengan suaminya. Sudah berkali kali Ia peringatkan untuk jangan cemburu buta. Namun Mario tetaplah Mario. Pria itu tak berubah sama sekali. Val langsung turun dari mobil dan memasuki rumah dengan langkah cepat meninggalkan suaminya.


"By." Panggil Mario ketika keduanya sudah berada di kamar.


"Udah ya Dad. Berapa kali kamu seperti ini. Kamu nggak pernah berubah."


"Kok jadi kamu yang marah. Harusnya aku dong yang marah. Kamu ngobrol sama laki laki lain. Suami mana yang nggak cemburu."


"Dad. Kita tegur sapa juga ada batasnya. Aku juga jaga pandangan aku karna udah punya suami. Disana juga tempatnya rame. Kita juga nggak ada kontak mata langsung atau saling tatap berdua. Jadi apa yang menjadi dasar kamu cemburu. Kamu selalu begitu. Apa apa nggak dicari tau dulu. Selalu mengedepankan emosi kamu. Tiap orang yang ngobrol sama aku selalu kamu tuduh yang enggak enggak. Sampai sampai kamu juga melukai mereka."


"Ok aku salah. Aku minta maaf."


"Kemarin kemarin juga begini dan kamu ulangi lagi. Aku udah bosen denger maaf kamu."


"Haish....Sial." Kesal Mario melihat istrinya pergi. Ia begitu bodoh karena tidak bisa menahan diri lagi dan lagi.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Kalian sudah pulang?"


"Iya Mom."


"Sudah makan siang?"


"Sudah di rumah Oma tadi."


"Iya Mom."


Val kembali membaca majalahnya setelah anak anak pergi.


"Anak anak sudah pulang By?" Tanya Mario sambil duduk di samping istrinya.


"Sudah." Jawabnya singkat tanpa menoleh pada sang suami.


"Tolong bikinin aku teh dong By." Kata Mario memeluk manja lengan istrinya. Val tidak menjawab. Ia langsung berdiri dan melaksanakan perintah Pria itu. Beberapa saat pergi Val kembali dan menaruh cangkir teh di meja. Pria itu menghela napas melihat kepergian sang istri. Ini yang Mario takutkan. Diabaikan oleh Val.


"Mom." Kata Van melihat Val memasuki kamarnya.


"Lagi ngapain sayang?"


"Lagi baca komik Mom."


"Mom tidur disini ya."


"Iya Mom. Aku mau ikut juga." Katanya menyusul Val yang sudah berbaring di ranjang.


"Mom tadi jadi beli kurma?"


"Jadi dong. Mom tadi mampir waktu pulang dari kantor Dad."


"Oh." Jawab Van sambil memeluk Momminya.


Mario mencari Sang Istri di kamar namun tidak menemukan. Pria itu beralih menuju kamar anak anak. Ia mendapati Val sudah tertidur pulas sambil memeluk anak gadisnya. Mario tak mau memindahkan seperti biasanya. Ia takut sang istri akan tambah marah.


Dua orang wanita tengah mengobrol di ruang tamu.


"Kenapa repot repot si Bu." Kata Val tidak enak hati.


"Nggak repot kok. Ini sebagai rasa terimakasih saya karena Ibu sudah bersedia mendengar curhatan dan selalu membantu saya. Juga saya mau terimakasih banget karena Ibu sudah ngobrol sama anak anak saya sehingga mereka paham dan mengerti tentang keadaan saya dan mantan suami."

__ADS_1


"Terimakasih ya Bu Nana. Saya senang kok bisa membantu."


"Sama sama Bu. Saya Pulang dulu ya."


"Iya." Kata Val mengantarkan wanita itu sampai ke depan.


"Itu apa Mom?" Tanya ketiga anaknya melihat Val membawa kotak.


"Bolu pandan dari Bu Nana. Kalian mau?"


"Nggak. Kita nggak bisa makan makanan dari orang. Apalagi itu kayanya nggak enak."


"Heh kalian." Tegur Val karna anak kembarnya bermulut pedas seperti sang suami.


"Nggak boleh ngomong seperti itu. Nggak baik. Harus menghargai pemberian orang dong."


"Iya Mom. Maaf."


"Jangan diulangi lagi."


"Iya Mom."


"Bagus."Kata Val langsung ke dapur untuk menyimpan kuenya.


Malam hari Mario gelisah karena sang istri masih marah. Val hanya bicara singkat padanya tidak seperti biasa.


"By." Panggil Pria itu dengan lembut pada Val yang berbaring memunggunginya.


"By aku minta maaf." Katanya lagi karena tidak mendapat jawaban dari Sang Istri. Mario kesal karena diabaikan. Ia membalikkan tubuh Val hingga terlentang. Mario mengungkung tubuh wanita itu sambil menatap wajah cantik istrinya. "Sampai kapan kamu diemin aku kaya gini?" Tanyanya dengan nada marah.


"Kamu nggak pernah mau berubah Dad."


"Aku bilang aku minta maaf."


"Kamu sudah berkali kali seperti ini dan minta maaf. Aku maafin Dad. Tapi kamu selalu ulangi lagi."


"Aku cemburu." Katanya sambil menidurkan tubuhnya di atas sang istri.


"Ih. Daddy. Kamu berat tau. Minggir."


"Iya." Mario dengan cepat mendudukkan dirinya.


"Maaf." Katanya lagi sambil menenggelamkan kepalanya di perut sang istri yang sedang bersender di headboard ranjang.


"Iya. Iya aku sudah maafin kamu." Kata Val sambil mengelus kepala suaminya.


"Makasih." Pria itu tersenyum manis kemudian mengecup bibir istrinya beberapa kali.


"Lain kali jangan seperti itu lagi. Semuanya itu di cari tau kebenarannya dulu Dad. Jangan asal tuduh orang. Bikin malu aja."


"Iya Maaf. Abisnya kalian ngobrol seru sambil tertawa. Aku cemburu liatnya."


"Kamu apa yang nggak bikin cemburu. Semuanya kamu cemburuin sama anak sendiri juga begitu."


"Itu karna aku cinta banget sama kamu."


"Cinta boleh, cemburu buta tanpa ada keraguan itu yang nggak boleh."


"Iya. Hari ini aku dapat jatah dong. Ayo..." Kata pria itu mulai memainkan tangannya di balik piyama Val.


"Nggak. Libur. Aku ngantuk mau tidur. Lagian kamu juga nggak mau anak lagi."


"Yah. Tiga aja udah cukup. Kita aja udah kebablasan sama program pemerintah. Dua anak cukup. Ini malah tiga."


"Tau ah. Aku mau tidur."


"By....Kamu kok gitu. Nggak kasihan sama aku? Aku udah siap ini." Mario terus merengek sambil memeluk istrinya.


"Libur. Kerja aja libur masa aku nggak pernah libur." Kata Val meninggalkan suaminya tidur.

__ADS_1


__ADS_2