Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Dad...Sakit


__ADS_3

Val dibantu anak anak dan suaminya tengah membungkus parcel untuk dibagikan.


"Mom. Kita bikin kuenya kapan?"


"Nanti Setelah kalian tidur siang kita bikin kue."


"Setelah ini aja Mom. Nggak tidur siang juga nggak papa."


"Ya nggak boleh dong. Kalian harus tidur siang."


"Nanti Mommy tinggal lagi."


"Nggak. Nanti Mommy tungguin kalian."


"Janji ya Mom."


"Iya."


"Van boleh bantu Mommy bikin kue?"


"Boleh dong sayang."


"Makasih Mom."


"Sama sama."


"By. Kita panggil jasa bersih bersihnya kapan?"


"Besok juga nggak papa. Lebaran kan kurang 3 hari lagi."


"Iya deh."


"Dad."


"Ya By."


"Nanti kamu suruh pak Min sama Pak Sam bagiin parcelnya ya. Biar diantar ke rumah masing masing orang."


"Iya By."


Sesuai janjinya. Selesai menyiapkan makanan untuk berbuka Val mengajak anak anak untuk membuat kue. Adonannya sudah dibuat. Mereka tinggal membantu mencetak dan menata di loyang.


"Yang sudah dingin dimasukkan ke toples ya."


"Iya Mom."


"Enak." Kata Van menatap kuenya.


"Adek jangan makan. Tunggu buka puasa."


"Iya."


"By. Ini di kemanain. Ovennya penuh semua."


"Tunggu. Biar aku angkat dulu yang udah mateng."


"Biar aku aja. Panas itu."


"Yaudah. Hati hati."


"Iya Sayangku." Mario mengecup kening istrinya.


"Kok ya sempat sempatnya." Gumam Val.


"Ya harus di sempatkan." Jawab Mario sambil mengeluarkan loyang dari dalam oven.


Val tengah sibuk menata toples toples kue ke dalam kardus cantik.


"Bukannya masih lama ya Mom?"


"Masih dua jam lagi. Sabar ya."


"Padahal sudah di tinggal mandi. Kok masih lama aja."


"Adek nggak sabar pengen coba kuenya ya?"


"Iya. Van pengen yang coklat."


"Sabar. Dua jam lagi. Van pasti bisa. Nanti kalo puasanya full dapat hadiah dari Mommy."

__ADS_1


Val tersenyum melihat kedua anak kembarnya menyemangati sang adik.


Keluarga Val tengah berbuka puasa bersama.


"Mom. Minta es kelapanya lagi."


"Iya. Ini."


"Makasih Mom."


"Sama sama."


"Sayang nggak makan gulai sama satenya?" Tanya Val melihat anaknya hanya makan kue sedaritadi.


"Nanti Mom. Van mau kue dulu."


"Jangan pake daun jeruk sama bawang merahnya By."


"Iya. Ini."


"Suapi."


"Nggak. Daddy makan sendiri. Kita tadi udah janjian sama Mom. Mom mau suapi kita."


"Kalian nggak mau ngalah ya."


"Daddy yang harus ngalah."


"Iya deh. Aku tungguin kamu selesai suapi anak anak aja By."


"Makan sendiri. Emang nggak laper apa?"


"Nanti aja. Pengen disuapi kamu."


"Haish...Udah tua makin manja aja."


"Biarin." Mario malah mengecup pipi istrinya.


"Ayo kalian makan." Val menyuapi anak anaknya bergantian.


"Dagingnya empuk ya Mom."


"Kan Mommy presto tadi. Makannya empuk."


"Iya."


"Sama ketupat sekalian."


"Iya."


"Kok kalo kita minta Mommy turuti semua."


"Selagi Mommy bisa kenapa enggak."


"Kita sayang sama Mommy."


"Udah. Peluknya nanti aja. Kalian harus cepat habiskan nanti keburu Adzan isya."


"Iya." Mereka melanjutkan makan. Selesai menyuapi anak anaknya Val langsung menyuapi Mario.


"Kalo gini serasa kaya punya empat anak."


"Yang satu siapa?"


"Ya kamu lah Dad. Kaya anak kecil. Manja."


"Biarin."


Val mengikuti langkah cepat suaminya ke kamar.


"Dad. Kamu kok gitu sih?"


"Ngapain kamu ngobrol sama ustadz itu. Karna dia lebih muda? lebih ganteng?"


"Dad. Kita nggak ngobrol. Dia sapa aku ya aku jawab lah. Hanya sebatas itu."


"Orang jelas jelas dia tadi ngobrol sama kamu."


"Ngobrol apaan sih. Kamu jangan suudzon dong. Kita nggak ngobrol apa apa."

__ADS_1


"Bohong." Mario merajuk seperti anak kecil.


"Astaga Dad. Jangan kaya anak kecil gitu deh."


"Kamu besok nggak usah ke masjid lagi."


"Kok gitu. Astaga. Jangan di perpanjang deh. Kamu kok cemburuan sih jadi orang. Kan aku sudah bilang aku cuman jawab salamnya aja."


"Bener?"


"Iya."


Mario memeluk istrinya erat.


"Jangan bicara sama dia lagi."


"Ya masa ada orang salam kita nggak jawab. Kan dosa jadinya."


"Jangan lihat dia lagi."


"Kamu jangan berlebihan deh. Kalo kamu curigaan mulu itu tandanya kamu nggak percaya sama aku."


"Aku percaya sama kamu. Tapi aku juga nggak mau kamu ngobrol atau menatap pria lain selain aku."


"Kaya kamu nggak pernah lihat cewek lain aja."


"Nggak pernah. Satu kali aku jatuh cinta cuman sama kamu sampai sekarang dan selamanya."


"Laura."


"Jangan ingatkan aku pada ****** itu." Kata Mario menahan emosi.


"Maaf."


"Sini aku ajarkan cara minta maaf ke suami."


Mario mendorong istrinya ke ranjang. Ia melepas jilbab istrinya. Mario mencium bibir istrinya. Ia menindih Val dan......


"Dad...Sakit." Pekik Val.


Mario tak berhenti minta maaf pada istrinya sedari tadi. Jam 9 malam mereka baru kembali dari rumah sakit. Pergelangan kaki Val patah karena suaminya. Dokter dengan cepat menangani dan memasang gips pada kaki Val.


"Maaf By." Kata Mario tak berhenti mencium tangan istrinya.


"Duh. Udah nggak papa. Jangan gini Dad."


"Masih sakit ya Mom?"


"Udah enggak. Kalian tidur ya. Jangan sampai nanti telat bangun."


"Kita tidur sama Mom."


"Mom lagi sakit. Butuh istirahat. Kalian tidur sendiri."


"Baik Dad. Kita tidur dulu Mom. Mom cepat sembuh ya..." Ketiganya mengecup pipi dan memberi pelukan pada Val bergantian.


"Ya sayang."


"Mau kemana?" Tanya Mario bergegas menghampiri istrinya.


"Mau ganti baju."


"Biar aku yang gantiin."


"Nggak. Aku bisa sendiri."


"Aku aja. Ini sudah aku bawain." Mario mengganti pakaian istrinya dengan piyama.


"By. Aku minta maaf." Mario memeluk istrinya yang tengah berbaring.


"Astaga Dad. Iya. Berapa kali kamu bilang begitu."


"Aku menyakiti kamu."


"Dah ah. Aku mau tidur."


"Kakinya sudah nyaman?"


"Sudah."

__ADS_1


"Tidurlah By. Sayangku. Selamat malam." Mario mencium bibir, hidung kening dan kedua pipi istrinya.


"Malam Dad." Jawab Val memejamkan mata.


__ADS_2