Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Kamu Apain Anak Aku?


__ADS_3

Val mempercepat langkahnya saat mendengar jeritan diiringi tangisan anak gadisnya dari ruang keluarga.


"Mom." Van langsung memeluk Mommynya.


"Ada apa sih? Mom baru aja tinggal kalian."


"Dad jahat." kata Van sambil menangis memeluk Val.


"Kenapa? Kamu apain anak aku?" Tanya Val kesal dengan suaminya. Pria itu selalu saja membuat ulah.


"Dad godain Van pakai makanannya Pisces Mom." Kata Veer sambil tertawa.


"Hah? Bilang yang jelas. Masa iya Van takut sama pakan ikan?"


"Bukan sembarang pakan ikan Mom. Pisces pakannya pakai kelabang."


"Dad. Buang." Kata Val ketika suaminya masih membawa toples berisi kelabang itu.


"Gimana sih By. Ini kan buat makan ikan arwana aku. Biar warnanya tambah cantik."


"Kalo gitu jangan buat main main. Anaknya takut tau."


"Iya. Lagian kucingnya Van suka cari gara gara juga. Masa loncat loncat dekat akuarium. Nanti ikan aku stress."


"Iya. Tinggal pindahin kucingnya kan bisa. Nggak usah bikin anaknya nangis segala. Udah tua kok nggak mau ngalah. Udah Van jangan nangis lagi. Kucingnya bawa keluar dulu."


"Iya Mom." Jawabnya sambil membawa kucing gembul itu keluar.


"Seneng liat anaknya nangis?" Tanya Val dengan nada tegas pada suaminya.


"Nggak. Maaf By. Kok jadi kamu yang marahin aku."


"Abisnya aku kesel sama kamu. Suka banget godain anak anaknya. Yang dewasa dikit dong Dad."


"Maaf. Kamu mau kemana?"


"Mau masak." Jawab Val meninggalkan suaminya.


Mario memeluk istrinya yang sedang sibuk berkutat di dapur untuk menyiapkan makan siang.


"Maaf By."


"Hm. Awas dulu aku mau masak."


"Kamu maafin aku kan?"


"Iya. Sana aku lagi ribet nih."


"Nggak mau." Kata Mario tetap memeluk istrinya.


"Dad." Veer memasuki dapur.


"Apa?" Jawab Mario tanpa mengubah posisinya.


"Kak Lingga datang hari ini mau temui Daddy."


"Ya."


"Kenapa? Masih ada lagi?" Tanya Mario melihat anaknya masih berada disana.


"Minta uang Dad. Mau beli susu buat kucing."


"Memangnya uang dari Mom habis?"


"Nggak Mom. Masih utuh. Aku tabung."


"Bisa bisanya. Ambil di meja kerja Daddy."


"Ok." Kata Veer langsung pergi.


"By." Mario menggesekkan miliknya pada Val.


"Nggak usah aneh aneh kamu. Tadi malam sudah."


"Mau lagi."


"Udah cukup. Awas dulu. Aku mau selesain ini."


"Gamau."


"Terserah." Kata Val membiarkan Mario masih dalam posisi yang sama.

__ADS_1


"Silahkan diminum Lingga." Kata Val baru saja datang.


"Iya Kak." Katanya meraih gelas dan meminum lemon tea segar itu.


"Kamu kenapa duduk situ By. Duduk sini." Kata Mario tak malu di depan tamunya gara gara Val duduk di single sofa. Val tersenyum kemudian pindah di samping suaminya daripada harus berdebat dengan Mario yang keras kepala. Lingga hanya diam tidak berbicara apapun. Dalam hatinya sudah dapat menyimpulkan jika Mario orang yang galak dan posessive pada sang istri.


"Kamu Lingga?"


"Iya Om."


"Kamu panggil saya Om lalu panggil istri saya kak?" Kata Mario kesal.


"Kata Ved dan Veer umur Kak Val tidak jauh beda dengan saya."


"Udah Dad." Val menggenggam tangan suaminya untuk memperingati pria itu.


"Kamu dulu kuliah jurusan apa? Pengalaman kerja bagaimana?"


"Saya lulusan pendidikan Bahasa Indonesia Om. Dulu saya juga pernah bekerja di pabrik karena pendapatan sebagai guru tidak cukup. Namun akhir akhir ini saya kena PHK makannya saya mendirikan rumah belajar."


"Terus kalo kamu ngajar nggak di bayar seperti ini Kamu penghasilannya darimana?"


"Saya pagi sampai siangnya ngajar kalo selesai saya kerja di restoran sebagai pelayan."


"Oh." Kata Mario cukup terkesan dengan kegigihan pemuda di depannya.


"Tandatangani itu. Kamu secara resmi akan mengajar di sekolah milik istri saya. Kamu akan di gaji seperti PNS dan mendapat tunjangan lainnya. Juga murid murid kamu itu mulai besok akan bersekolah disana tanpa dipungut biaya sepeserpu." Val tersenyum. Ia begitu bangga dengan suaminya itu.


"Om serius?"


"Ya. Ini permintaan istri saya."


"Terimakasih." Katanya terharu sambil menandatangani berkas berkas yang ada di meja.


"Makasih Dad."


"Sama sama Sayang." Kata Mario sambil mencium pipi istrinya.


Selesai menandatangi semua berkas. Mereka tengah makan siang bersama.


"Gimana Bang masakan Mommy aku?"


"Lingga."


"Ya Om."


"Kamu berapa bersaudara?"


"Saya sendiri Om. Saya tinggal dengan Bibi. Orang tua saya meninggal ketika saya SMP karena kecelakaan bersama anak dan suami Bibi saya juga."


"Oh Maaf."


"Tidak apa Om."


"Umur kamu berapa?"


"28 Om."


"Belum ada rencana menikah?"


"Sebenarnya sudah tahun lalu. Tapi tunangan saya kabur malah menikah dengan laki laki lain yang lebih kaya. Maklum Om, wanita juga realistis. Hidup dengan saya akan susah. Makannya dia memilih bersanding dengan orang lain."


"Tragis juga kisah kamu."


"Dad." Tegur Val.


"Maaf."


"Kalo gitu buktiin sama mantan Abang kalo Abang bisa lebih baik. Buat mantan Abang menyesal. Balas dendam Bang jangan mau terima di hianati."


"Ved belajar dari siapa itu?"


"Maaf Mom." Katanya sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Mom." ketiga anaknya berlari menghampiri Val yang sedang sibuk membaca laporan keuangan restoran.


"Ada apa?" Tanyanya tanpa mengalihkan perhatian.


"Kucing kita mau dibuang Daddy Mom."


"Dibuang kemana?"

__ADS_1


"Nggak tau. Daddy tadi suruh pak Bon buat buang kucing kita."


"Panggil Daddy kemari."


"Baik Mom."


Semuanya tengah berkumpul dan duduk di depan Val. Wanita itu masih menunggu mereka angkat bicara sambil terus melakukan pekerjaannya.


"By aku duduk Deket kamu ya."


"Enggak. Kamu tetep duduk disitu." Tegas Val.


"Belum ada yang mau bicara?"


"Daddy mau buang kucing kita Mom."


"Kenapa Dad?"


"Kucing mereka bikin ikan aku stress By. Mau nggak mau aku harus buang dong. Mahalan juga ikan aku."


"Ved, Veer dan Van sudah Mom bilang jaga kucing kalian jangan sampai masuk ruang keluarga. Kan sudah disediakan tempat masing masing. Kalian masih ribut juga. Kamu juga Dad. Kalo nggak mau kucingnya masuk ya kalo habis dari sana pintunya di tutup dong."


"Iya Mom."


"Iya By."


"Iya itu ngerti nggak. Kebiasaan kalo dikasih tau masuk telinga kanan keluar telinga kiri."


"Ngerti." Jawab mereka bersamaan.


"Mom nggak mau denger ada ribut ribut lagi perkara ikan atau kucing. Mom capek tiap hari dengar keluhan kalian. Kalo sampai Mom masih dengar kalian meributkan hal sepele seperti ini Mom jual kucing dan Ikan semuanya."


"Mom."


"By."


"Nggak boleh protes." Kata Val meninggalkan keempatnya.


"Gara gara kalian." Kata Mario langsung menyusul istrinya.


"Kamu mau kemana sih By?" Mario berjalan cepat mengejar istrinya.


"Mau ke rumah Bu RT. Mau kasih titipannya."


"Memangnya titip apa?"


"Lingerie." Jawab Val membuat Mario tertawa kencang.


"Kenapa sih?"


"Nggak. Lucu aja. Kenapa nggak beli sendiri atau suruh beliin suaminya."


"Mana aku tau. Dia nitip ya aku iya in aja Dad."


"Aku antar."


"Gausah. Aku cuman sebentar."


"Pokoknya aku antar."


"Terserah." Pasrah Val.


Val kesal dengan suaminya. Pria itu tak berhenti tertawa sejak tadi berangkat hingga sekarang sudah berada di rumah. Sampai sampai ketika di rumah Bu RT tadi Val menyuruh Mario untuk menunggu di tempat yang agak jauh karena takut Bu RT akan tersinggung.


"Dad udah dong."


"Bentar. Bu RT kalo pake itu apa muat?"


"Ih. Ukurannya kan macem macem. Aku beliin yang pas buat dia."


"Besok kalo ketemu tanya ya. Gimana hasilnya."


"Tanya aja sendiri."


"Aku juga beliin kamu yang baru By. Malam ini kamu pake ya."


Val tersenyum manis pada suaminya.


"Nggak." Katanya dengan kesal sambil berlalu pergi.


"By." Pria itu langsung menyusul istrinya yang sudah berjalan cukup jauh.

__ADS_1


__ADS_2