
Val sedang memakaikan dasi suaminya.
"Dad. Hari ini aku mau antar Ladit daftar ke kampus."
"Biar pergi sendiri."
"Aku kan sudah janji. Boleh ya.."
"Yasudah. Minta diantarkan supir saja. Jangan lama lama. Habis antar dia langsung pulang."
"Iya. Makasih Dad."
"Sama sama. Cium."
"Iya." jawab Val langsung mencium suaminya.
Mario dan Val menghampiri anak anaknya di ruang makan.
"Selamat Pagi Mom. Dad."
"Pagi."
"Selamat pagi sayang. Kalian kok belum pakai seragam?"
"Kita kan lagi libur kenaikan kelas Mom."
"Oh iya. Mom lupa. Kemarin kalian sudah cerita.Yasudah. Ayo sarapan." Val menyiapkan sarapan untuk suaminya karena anak anak sudah mandiri jadi mereka mengambil makanannya masing masing.
"Iya Mom."
"Susu sama vitamin kamu jangan lupa diminum By." Mario mengingatkan.
"Iya."
Val mengantarkan Mario ke depan setelah sarapan.
"Kamu nanti jangan lama lama. Ingat untuk langsung pulang. Ini perintah suami. Jangan lihat laki laki lain. Jangan cepek capek. Ini juga perintah suami."
"Iya Dad."
"Yasudah. Aku berangkat dulu. Ingat selalu apa yang aku katakan tadi."
"Iya Dad." Val mencium tangan suaminya dibalas dengan ciuman dan pelukan dari sang Mario.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Val menunggu sampai mobil suaminya meninggalkan halaman rumah.
Mario telah sampai di kantor. Pria itu langsung masuk ke dalam dan menaiki lift menuju ruangannya. Beberapa saat duduk di kursi kebesarannya. Suara menyebalkan dari seseorang telah merusak paginya.
"Pagi Bos." Frans menerobos ruangan Mario kemudian duduk di sofa tanpa menunggu dipersilahkan.
"Hm." Jawab Mario sambil mulai memeriksa map map yang sudah bertumpuk di meja.
"Aku tadi habis antar Ladit ke rumah kamu."
"Hm."
"Daritadi Ham Hem aja. Sariawan situ?"
"Nggak. Ambilin minum."
"Aku?"
"Siapa lagi."
"Iya." Kata Frans langsung melaksanakan perintah bosnya sebelum dibentak dan dimaki.
Val sudah sampai di kampus bersama Ladit. Keduanya diantar supir. Remaja itu tak berhenti menggandeng tangan Mommynya.
"Kita masuk ke ruang prodi."
"Iya Mom. Mommy tau tempatnya?"
"Tau. Sekali dua kali Mom pernah kesini. Mom masih ingat."
"Oh. Ayo." Kata Ladit penuh semangat. Sampai disana mereka disambut ramah oleh para staf. Mereka sudah mengenal Val sebagai anak pemilik kampus. Prosesnya juga berlangsung cepat. Ladit sudah mendapat berbagai kebutuhan untuk ospek dan juga almamaternya.
__ADS_1
"Terimakasih banyak. Kami permisi."
"Sama sama Nyonya. Hati hati."
"Iya." Jawab Val ramah. Semua mata tertuju pada Val semenjak kedatangan wanita itu sampai pulang. Meskipun sudah memiliki anak 3 namun wajahnya yang cantik dan terlihat seperti anak belasan membuat orang orang lekat memandangnya sebagai seorang remaja. Auranya memancarkan kecantikan luar dalam dengan pakaian yang tertutup.
"Kita langsung pulang ya. Mom sudah janji untuk langsung pulang sama Om."
"Iya Mom."
"Sepatu dari Mom nggak kamu pakai? Kamu nggak suka ya?"
"Ih Mom apaan sih. Ladit suka banget. Itu sepatu sudah Ladit pengen beli tapi mahal banget. Ladit nggak mampu. Mau minta sama Papa Ladit nggak berani. Mom beliin. Makasih banyak Mom. Mau Ladit pakai nanti kalau hari pertama masuk kampus."
"Oh. Kirain kamu nggak suka."
"Suka banget Mom." Katanya sambil memeluk Val.
"Assalamualaikum." Val dan Ladit memasuki rumah.
"Waalaikumsalam." Mario beranjak dari duduk langsung memeluk istrinya.
"Daddy kok sudah dirumah?" Tanya Val sambil mencium tangan suaminya.
"Iya. Kerjaan aku udah beres."
"Anak anak mana?"
"Sudah siap di ruang makan. Mereka nunggu kamu buat makan siang."
"Oh. Ladit kamu ke ruang makan duluan ya. Mom mau bersih bersih dulu."
"Iya Mom."
Val dan Mario ikut duduk bergabung bersama mereka. Val dengan telaten menyiapkan makan untuk anak anak dan suaminya. Wanita itu langsung duduk dan mulai makan setelah tugasnya usai.
"Mom. Nanti kita mau mancing ya."
"Dimana?"
"Di kolam belakang rumah."
"Ikan Patin. Yang bibitnya dari Papi itu."
"Boleh kita pancing kan Dad?"
"Boleh."
"Kalo di akuarium."
"Nggak. Jangan usik ikan mahal Daddy." Katanya memperingati.
"Nanti ikannya di goreng ya Mom."
"Ih. Mom nggak tega goreng ikan. Kasian."
"La terus kalo kita dapat buat apa dong?"
"Minta Bibi aja yang masak. Mom nggak berani."
"Yaudah kita nanti minta Bibi buat goreng ikannya."
"Memangnya kalian punya pancing?"
"Pinjam sama Paman satpam."
"Kalian ada ada aja." Mario heran dengan tingkah anak anaknya yang tidak bisa diam.
Sore hari Val dan Anak gadisnya menghampiri mereka yang sedang memancing di kolam belakang.
"Sudah dapat?"
"Belum Mom. Kak Ladit berisik bikin ikannya takut."
"Halah. Kalian juga ngerumpi daritadi."
"Kalian kan bisa pakai serokan ikan buat ambil. Kenapa susah susah."
"Hehehe...sengaja pengen mancing Mom."
__ADS_1
"Yaudah Mom ke kebun dulu ya."
"Iya Mom."
"Van disini atau ikut?"
"Van mau ke dalam dulu Mom. Van kelupaan tadi lagi mau charge laptop. Nggak papa kan Mom?"
"Nggak. Kamu masuk aja."
"Iya Mom."
Beberapa saat setelah istrinya pergi ke kebun Mario baru datang.
"Mom kemana?"
"D kebun." Jawab ketiganya tanpa menoleh.
Val berjalan menyusuri kebun buahnya yang tumbuh dengan subur. Beberapa pohon siap panen dengan buah yang sudah matang.
"By." Mario memeluk istrinya dengan erat secara tiba tiba.
"Bikin kaget aja."
"Kamu ngapain disini?"
"Lagi lihat lihat aja. Ada pisang yang matang ternyata. Aku mau pisang goreng."
"Nanti aku suruh orang buat bikinkan."
"Iya."
Val tiba tiba merasakan sesuatu merayap di tangannya. Wanita itu langsung menjerit sambil mengibaskan tangan.
"Kamu kenapa By?" Panik Mario.
"Ulat." Jawabnya sambil menangis.
"Udah. Kita pergi dari sini." Merangkul sang istri dan segera membawanya pergi.
Mario tengah memarahi pekerja di rumahnya.
"Kenapa bisa ada ulat. Istri saya sampai nangis ketakutan. Kalo terjadi apa apa bagaimana?"
"Maaf Tuan."
"Kalian nggak semprot kebun?"
"Kami sudah semprot Tuan."
"Kenapa masih ada ulatnya?"
"Tidak tahu Tuan. Mungkin terlewat."
"Saya nggak mau tau. Semprot semuanya. Jangan sampai terlewat. Saya nggak mau kejadian yang sama terulang lagi."
"Baik Tuan." Kata Mereka langsung melaksanakan tugas.
Mario menghampiri istrinya yang masih terbaring di ranjang ditemani anak anak. Val baru saja mandi karena tubuhnya gatal gatal. Matanya juga masih sembab bekas menangis tadi. Wanita itu terkejut dan takut dengan hewan berbulu itu.
"Kalian keluar jangan ganggu Mom dulu."
"Tapi Dad..."
"Biarin mereka disini Dad."
"Keluar. Biarin Mom istirahat." Tegas Mario membuat anak anaknya patuh. Pria itu kini dalam mode serius karna khawatir dengan keadaan sang Istri.
"Iya." Jawab mereka patuh.
Mario langsung mengolesi beberapa bagian tubuh Val yang memerah dengan obat gatal.
"Masih gatal?"
"Iya."
"Yasudah. Dipakai tidur."Mario memeluk istrinya.
"Nanti kamu ketularan."
__ADS_1
"Enggak. Sekarang tidur." Kata Pria itu sambil mengecup kening, bibir dan pipi sang istri.