Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Akhirnya


__ADS_3

Val tengah menyiapkan makan siang untuk suaminya. Mario bilang akan makan di rumah hari ini. Oleh karena itu Ia pulang lebih awal dari cafe.


"By."


"Eh Om. Baru pulang. Mandi dulu gih aku udah siapin baju. Aku tunggu disini makan ya."


"Iya." Mario mengecup kening istrinya sebelum pergi.


Val tengah menyuapi suaminya.


"Kamu nggak makan By? Kok kamu siapin aku terus."


"Nggak. Aku masih kenyang habis minum susu tadi."


"Kamu nggak makan nanti sakit lo."


"Nggak. Om aja lanjutin makannya."


"Iya."


Mario masih sibuk di ruang kerjanya. Sementara Val bermain game sedari tadi. Notifikasi pesan di ponselnya membuat Val menghentikan kegiatannya.


"Kak Jeje." Gumamnya.


Jeje mengiriminya pesan untuk menanyakan kabar setelah sekian lama mereka tidak saling kontak satu sama lain. Laki laki itu juga mengatakan sangat rindu pada Val.


Tiba tiba panggilan dari Jeje masuk.


"Halo kak." Kata Val sedikit canggung karena hubungan keduanya renggang.


"Halo Vale. Kamu apa kabar?"


"Baik. Kakak sendiri bagaimana?"


"Kakak juga Baik. Em...Vale. Hubungan kamu dengan suami kamu gimana?"


"Biasa saja kak. Tidak ada yang spesial."


"Kakak kangen kamu Vale."


"Vale juga kangen sama kakak. Kakak kapan main ke sini?"


"Entahlah Vale. Rasanya sangat sakit jauh dari kamu. Apalagi kamu sekarang sudah menjadi istri orang."


"Val juga tidak menyangka kak. Semuanya terjadi secara tiba tiba Val belum siap dengan semua ini."


"Sabar Vale. Kakak sayang kamu."


"Val juga sayang kakak. Udah dulu ya kak. Val masih ada yang harus diurus."

__ADS_1


"Iya Vale. Love you."


"Love you too." Val menutup panggilannya.


"Siapa?" Tanya Mario sudah dengan ekspresi marahnya.


"Kak Jeje Om. Dia tanya kabar."


"Mana ada tanya kabar dengan ucapan manis begitu." Kata Mario dengan nada tinggi.


"Bener Om."


"Aku nggak percaya. Sekarang ikut aku." Mario menggandeng tangan istrinya dengan kasar.


Keduanya telah sampai di kamar. Mario membanting tubuh istrinya di ranjang hingga Val terlentang.


"Om mau ngapain?" Tanya Val takut karena Mario membuka bajunya dengan paksa.


"Mau hukum kamu."


"Om jangan lakukan. Om sudah janji akan nunggu aku."


"Aku sudah cukup sabar menunggu. Sekarang adalah waktunya." Kata Mario tak perduli dengan Val yang sudah merengek.


Tubuh istrinya begitu polos dan indah di bawahnya. Mario juga membuka pakaiannya sendiri dengan tergesa gesa. Pria itu mengunci tangan Val agar tidak bisa bergerak dengan tangan kiri dan tangan kanannya digunakan untuk bergerilya kesana kemari.


"Jagan..." Rengek Val namun Mario tidak peduli. Ia mengubah posisinya naik dan memaksa Val untuk mengecup miliknya yang sudah mengeras sedari tadi.


"Siap siap By. Aku masuk. Akan sakit sebentar kemudian kamu akan merasakan nikmat yang tidak akan pernah kamu lupakan."


Mario memasukan miliknya ke dalam milik sang istri hingga membuat Val menjerit kesakitan.


"Sakit..." Kata Val merasakan perih di bawah sana seiring dengan keluarnya darah perawan.


Mario terus menggerakkan pinggul hingga miliknya terbenam sempurna. Begitu hangat dan nikmat.


"Ah..Nikmat...ah..." Pria itu terus bermain sampai tak kenal lelah. Satu pelepasan tidak cukup baginya. Tubuh sang istri sekali icip langsung membuat dirinya candu. Rasanya ingin lagi dan lagi tak peduli dengan Val yang sudah terkulai lemas di bawahnya.


Mario mencabutnya dan menanam kembali. Mulutnya tak berhenti mendesah sambil memainkan tubuh bagian atas sang istri.


Setelah lelah pria itu menyudahi kegiatannya. Ia membawa Val yang sudah tertidur ke dalam pelukannya.


Mario terbangun. Ia tersenyum melihat noda bekas bercintanya di sprei. Ia bergegas bangun untuk menyusul istrinya yang mungkin tengah berada di kamar mandi.


Val berjalan tertatih. Mario dengan cepat membantunya. Pria itu mendudukkan sang istri di meja marmer depan kaca. Wajah sang istri begitu pucat dan lelah ditambah mata yang sembab.


"Sakit." Rengeknya.


"Coba aku lihat."

__ADS_1


"Gamau."


"Yasudah kita mandi air hangat. Nanti akan baikan." Mario membawa istrinya dan meletakkan di bathup dengan hati hati. Ia memangku sang istri dan menyabuni istrinya dengan hati hati.


"Perih." Rengek Val.


"Sabar ya. Nanti akan baikan." Sebenarnya Mario ingin lagi tapi melihat istrinya seperti ini Ia tak tega.


"Punya kamu sakit?"


"Enggak."


"Kok nggak sakit?"


"Katanya kalo berhubungan yang sakit itu cewek aja."


"Kok gitu?"


"Nggak tau."


"Om tadi kak Jeje telfon..."


"Ya aku mengerti. Kamu hanya menganggapnya kakak karena dia sedari kecil sudah sama kamu."


"Iya."


"Aku juga minta maaf karena main kasar tadi."


"Iya."


"Kita main halus gimana?"


"Apa?"


"Sini."


Mario melakukannya lagi meskipun mereka tengah berendam.


"ah...Ah... Nikmat By." Kata Mario memompa tubuhnya.


"Om...."


"Panggil aku Mas."


"Mas...."


"Bagus...ah...ah.. Kamu...masih sempit." Nafas Mario terengah engah.


"I Love You...." Kata Mario menyudahi kegiatan karena lelah Ia beralih menyusu pada sang istri dan mengelus yang ada di bawah sana membuat Val memejamkan mata menikmati sensasi yang berbeda dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2