Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Mengerti ya....


__ADS_3

Mario senang hubungannya dengan sang istri sudah kembali seperti biasanya.


"Dad. Aku mau keluar sebentar ya." Kata Val sambil menenteng keranjang buah dan kantong kresek.


"Mau kemana?"


"Ke rumah Bu RT. Aku mau jengukin dia lagi sakit."


"Nggak usah. Dia udah sembuh kok."


"Belum. Jangan bohong kamu."


"Ngapain sih jenguk segala."


"Jengukin orang sakit itu baik. Lagian kalo aku sakit juga pada jengukin."


"Nanti ketularan kamu."


"Nggak."


"Aku temani. Tapi aku tunggu di luar. Ga suka aku sama ibu ibu. Pasti rame."


"Kamu di rumah aja. Aku sebentar kok. Udah dulu ya. Aku berangkat. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati hati."


"Iya."


Val sampai di rumah Bu RT langsung mengetuk pintu.


"Assalamualaikum."


"waalaikumsalam. Bu Val."


"Bu RT nya ada pak?"


"Ada. Sama ibu ibu yang lain di dalam. Silahkan masuk."


"Terimakasih." Val berjalan memasuki rumah menghampiri mereka yang sedang mengobrol.


"Bu Val."


"Bu RT bagaimana keadaannya?"


"Alhamdulillah sudah mendingan. Kalo kesini jangan repot repot. Bu Val datang saja saya sudah senang."


"Nggak repot kok Bu." Jawabnya sambil menaruh bawaan di atas meja.


"Ibu ibu sudah dari tadi?"


"Lumayan."


"Bu Val tumben nggak ditemani pak Mario."


"Oh. Suami lagi beresin kebun sama anak anak. Daripada di suruh nunggu mandi segala mending saya berangkat sendiri." Bohongnya tidak enak hati mengatakan jika suaminya malas datang.


"Oh."


"Bu Val tau ngga, Bu Nana udah pindah dari sini."


"Kapan?"


"Waktu Bu Val di rumah sakit."


"Oh."


"Memangnya pak Mario tidak cerita?"


"Tidak. Pindahnya kemana Bu?"


"Pulang ke rumah orang tuanya. Dia hamil, tapi pria yang menghamili nggak mau tanggung jawab."


"Duh. Kasihan ya."


"Ngapain kasihan? Itu karma Bu. Sering godain laki laki makannya jadi begitu."


"Terus rumah yang disini bagaimana?"


"Di jual."


"Oh."


"Bu Val sabar banget sama dia. Kalo saya di posisi Bu Val, udah saya bejek bejek wanita itu. Terang terangan godain pak Mario. Parahnya bilang mau jadi istri ke dua lagi di depan Bu Val. Bener bener udah nggak punya malu dia."


Val hanya menanggapi ocehan mereka dengan senyumnya. Val kesal namun juga tak banyak berkomentar.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Kamu kok lama." Kata Mario langsung memeluk istrinya.


"Masih ngobrol Dad. Aku mau pamit nggak boleh."


"Yaudah. Kamu cuci tangan dulu. Aku siapin makan sama obatnya. Anak anak udah nunggu."


"Iya." Jawab Val patuh.


Mario menyuapi istrinya makan. Pria itu tak membiarkan Val makan sendiri padahal wanita itu sudah berkali kali menolak.


"Dad. Bu Nana pindah ya?"


"Iya katanya."


"Bu Nana yang depan taman komplek itu Mom?"


"Iya."


"Kenapa pindah?"


"Dia hamil nggak ada suaminya. Malu. Terus pindah deh. Daddy kasih tau sama kalian. Dia itu wanita nggak bener." Jawab Mario.


"Dad." Tegur Val.


"Emang begitu ceritanya kan."


"Iya. Tapi nggak usah di jelasin segala."


"Iya. Maaf. Makannya di lanjutkan."


"Iya."


"Mom. Nanti sore kita mau Volly di lapangan komplek ya."


"Iya. Hati hati. Pulangnya jangan kesorean."


"Ok Mom." Jawab keduanya kompak.


"Van nggak ikut sayang?"


"Enggak Mom. Van dirumah saja. Lagian disana banyak cowoknya. Van nggak nyaman."


"Enggak. Van tetep nggak nyaman."


"Mom. Dessertnya ada?"


"Ada. Itu puding mangga."


"Mom. Yang bikin?"


"Iya. Tadi pagi."


"Oh. Van makan ya Mom."


"Iya. Banyak kok. Semuanya untuk kalian."


"Makasih Mom. Mommy baru sembuh sempet sempetin buat puding untuk kita."


"Mom kan sudah sembuh."


"Kamu belum sembuh total By."


"Tapi udah nggak sakit."


Mario langsung mencium pipi Istrinya.


"Apaan sih Dad?"


"Kamu bohong."


"Ih." Kesal Val sambil cemberut.


Val kembali ke kamarnya setelah bercengkrama dengan anak anak. Wanita itu membaringkan diri di ranjang setelah melepas jilbab. Mario menyusul kemudian menciumi wajah Val sampai tak terlewat sedikitpun. Pria itu langsung memeluk tubuh sang istri dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Val.


"Geli Dad." Keluh Val atas tingkah suaminya.


"Biarin."


"Dad. Aku ngantuk mau tidur."


"Yasudah. Ayo tidur." Mario menepuk punggung istrinya pelan. Beberapa saat berlalu. Val sudah tertidur pulas dalam pelukan suaminya. Pria itu mengelus lembut pipi merah jambu Istrinya. Begitu halus tanpa celah sedikitpun. Bekas luka juga sudah menghilang tanpa meninggalkan jejak. Mario memang membelikan Val obat yang paling mahal agar noda bekas luka di bagian tubuh istrinya cepat menghilang. Semuanya demi sang Istri. Mario tak keberatan sama sekali harus menghabiskan seluruh uang atau hidupnya untuk wanita yang begitu Ia cintai.


Mario mencari istrinya kesana di seluruh bagian Mansion tapi belum menemukan.

__ADS_1


"Istri saya kemana?" Tanyanya saat berpapasan dengan salah seorang pelayan.


"Sedang di depan gerbang Tuan."


"Ok." Jawabnya singkat langsung menyusul Val.


"Astaga." Kaget Val saat wanita itu masuk tiba tiba Mario sudah berdiri di depannya.


"Kamu darimana?"


"Dari depan. Bicara sebentar sama Bu Ida. Dia kasih aku resep kue."


"Kue apa?"


"Jajanan pasar. Ayo belanja Dad. Kita bikin."


"Kamu baru sembuh. Jangan macam macam."


"Ayolah." Val memeluk suaminya. Sambil memainkan jari lentiknya di dada bidang Mario.


"Iya." Kata Mario tak mungkin tidak luluh dengan perlakuan istrinya.


"Makasih Dad." Val langsung berlari kedalam untuk mengambil dompet.


"Kenapa berhenti By?"


"Nggak mau naik mobil."


"Kamu belanjanya di mana? Di minimarket dekat kompleks kan? Kamu mau kita jalan kaki?"


"Pakai motor."


"Nggak ah. Aku nggak mau." Mario khawatir dengan keselamatan istrinya.


"Ayolah."


"Aku nggak bisa."


"Bohong. Orang kamu aja punya SIM C."


"Aku nggak punya motor."


"Astaga Dad. Di basment kan ada. Itu motor kamu kan. Aku nggak amnesia ya..."


"Duh By. Jangan aneh aneh deh. Punya aku motor sport semua. Kamu pake gamis nanti susah naiknya."


"Nggak kok. Ayo."


"Haish...kamu ada ada aja."


"Nggak usah pake helm ya Dad. Deket juga."


"Iya."


Val menaiki motor sport itu dengan kedua kakinya di samping.


"Bisa nggak?"


"Bisa."


"Pegangan."


"Iya."


"Bukan begitu. Peluk pinggang aku."


"Malu ah. Dilihat orang."


"Bisa bisanya. Kalo nggak mau. Nggak jadi pergi."


"Iya iya."


Mario tersenyum akhirnya Val mau memeluk pinggangnya. Pria itu melajukan motornya dengan pelan demi keselamatan sang istri.


Satu jam lebih mereka akhirnya sampai di rumah. Belanjaan Val pada akhirnya di jemput supir karena tidak mungkin bisa membawa pulang karena menggunakan motor.


"Lain kali kalo kemana mana naik motor aja Dad. Lebih seru." Kata Val kegirangan.


"Nggak."


"Kok gitu?"


Mario menghela nafas kemudian memeluk istrinya. Bukannya tak mau menuruti. Namun Mario takut terjadi sesuatu pada Val. Kecelakaan kemarin membuatnya trauma mengajak Val bepergian keluar.


"Demi keselamatan kamu sayang. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu. Aku nggak mau kamu terluka lagi. Sudah cukup Tuhan menguji aku dengan berbagai kecelakaan yang kamu alami. Aku nggak mau kamu sakit dan terluka lagi. Mengerti ya." Kata Mario lembut dan mengecup kening istrinya beberapa kali.

__ADS_1


__ADS_2