
Delapan bulan berlalu. Val sudah memasuki waktu untuk melahirkan. Selama hamil Ia tak pernah keluar dari Mansion. Apa apa selalu dilakukan di Mansion sampai sampai keperluan bayinya semua sudah di atur oleh sang suami agar Val tidak berbelanja sendiri. Rencananya nanti Val akan melahirkan di rumah. Suaminya sudah setuju jika Ia akan melahirkan secara normal. Mario mau tidak mau hanya menuruti ketika istrinya tak berhenti memohon.
Val sudah berada di ruang persalinan di temani suaminya. Wanita itu mengeluh sakit perut. Dengan cepat Mario menghubungi tim medis untuk segera datang. Mario terus menggenggam tangan istrinya untuk memberi kekuatan. Pria itu sangat tak tega melihat istrinya kesakitan.
Dua bayi lahir setelah beberapa jam kemudian dalam keadaan sehat. Pria itu mengecup kening istrinya yang tampak kelelahan.
Mario menatap kedua anaknya yang begitu tampan. Hidung, Bibir, Mata biru semuanya mirip sang istri. Tidak ada sedikitpun mirip dirinya. "Ved Xavia Albert dan Veer Xavia Albert." Mario menggumamkan nama kedua anaknya.
"Nama yang bagus." Kata Mertuanya yang sedang menggendong kedua cucunya.
"Mami setuju Mario kasih nama itu?"
"Setuju aja. Namanya bagus kok."
"Iya. Namanya bagus."
"Mirip Val semua ya Pi. Mereka kembar identik."
"Iya Mi. Sangat tampan." Papi Val menatap bangga cucu cucunya.
"Papi sama Mami istirahat aja. Biar Mario yang jagain."
"Kita ngomong sama Val dulu." Mami dan Papi meletakkan kedua bayi itu ke dalam boxs.
"Iya."
Mami dan papi Val menghampiri anaknya.
"Kamu istirahat ya sayang. Mami sama Papi mau keluar dulu."
"Iya Mi. Pi. Makasih udah jagain Val. Selalu ada saat Val butuh apa apa."
"Sama sama sayang."
"Kita keluar dulu ya." Papi dan Mami mengecup kening Val lalu keluar dari ruangan.
"By." Mario menghampiri istrinya.
"Anak anak gimana?"
__ADS_1
"Masih tidur sejak kamu beri ASI tadi."
"Oh."
"Anak anak mirip kamu semua."
"Iya. Kata Mami sama Papi juga begitu. Mereka kembar identik."
"Kenapa nggak ada yang mirip aku?"
"Katanya wajah bayi itu bisa berubah ubah. Mungkin nanti akan mirip kamu."
"Kata siapa?"
"Kata siapa juga aku lupa. Pokoknya begitu."
"Kamu butuh sesuatu?" Tanya Mario mengelus kepala istrinya.
"Enggak."
"Agak geser By. Aku mau tidur."
"Nggak mau. Aku maunya tidur sambil peluk kamu."
"Iya. Iya." Val memberikan ruang untuk suaminya.
Mario naik ke ranjang dan berbaring sambil memeluk istrinya.
Tiga hari berlalu. Keadaan Val sudah pulih. Wanita itu tengah memandikan kedua jagoan kecilnya. Ibu muda itu begitu telaten. Ia tak mau menggunakan jasa pengasuh meskipun suaminya memaksa.
"By." Mario memasuki kamar anak anaknya.
Ia memeluk sang istri yang sedang memakaikan pakaian si kembar.
"Ada apa?"
"Ayo sarapan."
"Sarapan sendiri gih. Aku masih sibuk."
__ADS_1
"Aku tunggu." Kata Mario sambil mengusap pipi anaknya.
"Mereka tidur. Kita bisa sarapan sama sama."
"Iya." Val sarapan dengan suaminya setelah memastikan Ved dan Veer sudah tertidur.
Mario melihat istrinya sangat kasihan. Val begitu kelelahan menjaga anak anaknya. Val tidak cukup tidur karena harus memberi asi anak anaknya ketika sedang rewel sewaktu waktu. Wanita itu tengah tertidur pulas sekarang. Tidur ketika siang karena malamnya anak anak sering terbangun dan menangis karena kelaparan. Mario bukannya tidak bersyukur memiliki anak. Namun melihat istrinya seperti ini Mario menjadi sedih. Tubuh istrinya semakin kurus karena sering meninggalkan makan. Mario berinisiatif menyuapi namun Val menolak karena tidak napsu untuk makan.
"Um...." Val terbangun merasakan sentuhan dari suaminya.
"Kamu bangun? tidur lagi aja."
"Anak anak gimana?"
"Mereka juga lagi tidur. Kamu istirahat. Semalam kamu nggak tidur."
"Iya." Val memejamkan matanya lagi karena benar benar mengantuk.
Val baru makan malam pukul 8 karena anak anaknya rewel. Mario menyuapi istrinya dengan telaten.
"Susunya diminum."
"Iya."
"Habis itu tidur."
"Anak anak nanti gimana?"
"Mereka baru aja kamu kasih ASI. Pastinya tidur. Jadi kamu tidur juga."
"Iya."
Mario memeluk tubuh istrinya. Ia sangat berharap anak anaknya bisa cepat dewasa agar sang istri bisa istirahat. Mario tidak mau nanti istrinya sakit karena kecapean.
"Dad." Panggil Val yang kini tengah duduk bersama sang suami.
"Ya By."
"Kamu. Maksud aku pekerjaan kamu yang lain itu. Aku takut membahayakan anak anak." Kata Val ragu dan khawatir. Mario tau maksud istrinya Ia tak mengelak jika sang istri merasa khawatir seperti itu. Terlibat di dunia gelap memang sangat beresiko. Apalagi Ia sebagai penguasa tentu akan banyak lawan lawan yang ingin menjatuhkan secara diam diam atau terang terangan. Mario menggenggam tangan istrinya. Pria itu mengecup tangan Val beberapa kali. " Kamu tenang ya. Tidak akan terjadi sesuatu. Aku akan melindungi kamu dan anak anak kita." Mario menatap manik Istrinya. Setiap perkataannya penuh keyakinan.
__ADS_1