
Val tengah joging di lapangan belakang. Entah kenapa Ia begitu bersemangat. Tidak seperti biasanya ketika dulu masih sendiri jam segini tentunya dia masih tertidur. Kebalikan dari Mario yang masih bergulat dengan selimutnya. Pria itu tidak pernah joging sejak Val tinggal di Mansionnya. Tidurnya begitu nyaman sehingga sulit untuk membuka mata.
Setelah mengelilingi lapangan beberapa kali Val memutuskan untuk menyiapkan sarapan suaminya. Nanti dia akan ke cafe, makan siang untuk suami akan dibuat di sana. Jadi masih fresh dan hangat.
"Nyonya." Sapa mereka melihat Val memasuki dapur.
"Aku mau siapkan sarapan."
"Baik Nyonya. Tuan juga berpesan mulai sekarang yang menyiapkan makanan Tuan adalah Nyonya."
"Iya. Dia juga bilang begitu sama aku. Aku masak dulu ya Bi."
"Iya Nyonya. Silahkan."
kata mereka mengundurkan diri tak mau mengganggu.
Val memasak dengan cekatan. Hanya memerlukan waktu setengah jam untuk menyiapkan sarapan sang suami dan dirinya sendiri. Setelah hidangan tersaji, Ia bergegas untuk membangunkan Mario.
Val memasuki kamar melihat Mario masih asyik dengan mimpinya.
"Om bangun. Katanya mau kerja."
Mario tidak peduli. Ia menarik istrinya dan memeluk dengan erat sambil mencium tanpa melepaskan.
"Om bangun. Nanti telat ke kantor."
"Itu kantor aku By. Bebas aku nggak datang juga nggak ada yang marah."
"Om."
"Cium dulu."
"Habis aku cium harus bangun."
"Iya."
Val mencium pipi Mario.
"Dah bangun Om. Nanti aku kasih hadiah."
"Cium dua kali lagi. Aku bangun."
"Ya. Ya." Val menuruti keinginan suaminya.
"Dah. Mandi sana. Aku siapin baju."
"Iya By."
Mario langsung bangun dan mandi. Ia penasaran hadiah yang akan diberikan istrinya.
"Ini bajunya." Kata Val saat Mario keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya menggunakan handuknya di pinggang.
"Makasih By."
"Sama sama."
"Ih. Om ngapain?" Teriak Val melihat suaminya tengah bertelanjang di depannya. Gadis itu langsung menutup matanya.
"Mau ganti baju By. Apalagi."
"Ya ganti di mana gitu. Jangan telanjang di depan aku dong."
Mario tersenyum atas tingkah istrinya.
__ADS_1
"Aku itu suami kamu. Nggak papa telanjang di depan istri. Buka mata kamu. Kamu nggak pengen lihat apa yang kamu pegang semalam."
"Enggak."
"Jangan begitu. Rugi kamu kalo nggak lihat."
"Emangnya bisnis pake rugi segala."
"Buka mata kamu deh." Mario membuka tangan Val dari wajah cantik gadis itu.
"Buka matanya." Kata Mario melihat Val masih memejamkan mata.
"Kamu belum mau layani aku seenggaknya kamu lihat ini." Mario mengarahkan tangan Val untuk memegang miliknya.
"Sekarang buka mata pelan pelan."
Val membuka matanya perlahan sesuai dengan perintah suami.
"Gimana?" Tanya Mario melihat ekspresi istrinya yang kesulitan.
"Jadi..."
"Iya. Ini yang semalam."
"Mau bantu aku lagi? Kamu merasakan kan. Kalau punya aku mengeras. Itu artinya aku butuh bantuan lagi."
"Nggak. Aku mau mandi." Kata Val langsung berlari menuju kamar mandi.
Pengantin baru itu tengah duduk berdua di ruang makan untuk sarapan bersama
"Hadiah buat aku mana By?"
"Hadiah apa?"
"Iya sampai lupa. Sebentar aku ambilkan."
"Tada...." Val menyajikan tiramisu yang di hias begitu cantik untuk suaminya.
"Ini untuk aku?" Tanya Mario bahagia.
"Iya. Untuk kamu. Memangnya untuk siapa lagi?"
"Cantik. Aku nggak tega makannya." Katanya.
"Yaudah nggak usah dimakan."
"Ya jangan. Aku pengen." Mario kemudian mengambil ponsel dan memotret hidangan spesial yang istrinya buatkan khusus untuk dia seorang.
"Dah jangan banyak gaya. Sarapan gih. Aku juga mau ke cafe."
"Iya Istriku. Terimakasih ya."
"Iya."
"Nanti jangan lupa ke kantor aku untuk makan siang."
"Beres. Kamu tunggu aja."
"Iya. Aku nggak ada kerjaan lain kok selain nunggu kamu."
"Jangan senyum. Lanjutin makannya."
"Iya By. Jangan galak galak dong."
__ADS_1
"Jangan merengek. Aku nggak suka."
"Iya Iya." Mario langsung menyantap sarapannya.
Val sudah sampai di cafe diantar suaminya. Ia langsung menuju ke ruang kerja untuk mengecek keuangan dan mengurus beberapa hal yang Ia tinggalkan selama ini.
Tak terasa sudah pukul 10 lebih. Val langsung bergegas menuju dapur untuk menyiapkan makan siang suaminya.
Val turun dari motor. Val sengaja naik ojek agar cepat sampai.
"Mbak kembaliannya masih banyak Lo."
"Ambil aja pak. Makasih ya."
"Baik Mbak. Saya yang makasih."
Val hanya tersenyum dan melangkah memasuki kantor. Semuanya cukup heran dengan Val. Begitu banyak mobil mewah koleksi suami dan keluarganya kenapa naik ojek.
"Nyonya." Sapa mereka melihat kedatangan Val yang tiba tiba ada di depannya. Semua orang di kantor sudah tau jika Val adalah istri dari Mario. Meskipun pernikahan mereka dilakukan secara tertutup, namun Mario tetap mengumumkan di kantornya jika Pria itu telah menikah dengan Val meskipun tanpa kehadiran sang istri. Val tampil sederhana dengan celana jeans longgar, kaos lengan pendek dan sneakers. Begitu casual tapi tetap cantik sempurna.
"Mbak. Om Mario ada?"
"Ada Nyonya. Tuan sudah menunggu Nyonya. Mari saya antar."
"Ok. Jangan panggil Nyonya. Aku masih muda Mbak. Panggil Val saja."
"Tidak bisa Nyonya. Ini perintah Tuan."
"Jangan panggil Nyonya dong. Yang lain saja. Berasa tua aku."
Wanita itu tersenyum atas keramahan Nyonya Mario.
"Bagaimana kalau Nona saja?"
"Better."
Val memasuki ruangan suaminya setelah mengucapkan terimakasih. Gadis itu langsung duduk sambil menghela nafas panjang.
"Nyonya Mario lelah?" Mario duduk di samping istrinya sambil memberikan air.
"Makasih." Val meneguknya sampai habis.
"Kenapa naik ojek segala? Bahaya tau. Nanti terjadi sesuatu gimana? kamu kan bisa hubungi aku. Biar nanti supir yang jemput."
"Mancet. Kelamaan nanti. Dah jangan ngomel. Aku bawain makan siang sesuai permintaan kamu."
"Wah... Kamu masak apa?"
"Aku siapin." Val mulai membuka kotak makannya satu per satu.
"Hari ini temanya Nusantara. Aku bawa rendang, kentang balado, acar, sama udang asam manis."
"Enak. Ayo makan. Suapi ya."
"Nggak. Aku bawa banyak Karna aku juga belum makan. Aku mau makan juga. Kita makan sendiri sendiri. Aku mau makan pake tangan."
"Sekalian suapi aku kan bisa."
Val menghela nafasnya.
"Yaudah Ok. Aku cuci tangan dulu."
Val mulai makan dengan tangan sambil menyuapi suaminya. Mario tersenyum melihat istrinya. Begitu sederhana dengan semua harta melimpah yang dimiliki. Tidak gengsi untuk naik ojek bahkan makan di karpet dengan tangan kosong seperti ini. Belum lagi pakaian yang jauh dari kata mewah. Mario yang terbiasa dengan hidup mewah dan makan dengan elegan kini tau rasanya makan disuapi dengan tangan berkat istrinya. 'Ternyata lebih enak' batinnya.
__ADS_1