
Hari ini hari Minggu. Val tengah mengawasi anak anaknya yang sedang bermain di taman belakang.
"Mom. Petik buah yuk."
"Ayo."
"Mau kemana By?" Tanya Mario yang baru saja datang.
"Mau petik buah."
"Ayo." Mario menggandeng tangan istrinya mengikuti anak anak yang sudah duluan.
"Dad. Van mau itu." Tunjuknya pada buah mangga.
"Itu belum matang. Masih masam. Nanti Van nggak doyan."
"Yah...."
"Masa nggak ada yang mateng Dad?"
"Nggak ada By. Belum matang semua."
"Gimana kalau buah naga saja. Van mau?"
"Mau Mom."
"Ayo petik kalo gitu."
"Iya Mom."
Val memetikkan buah naga untuk anaknya.
"Duh Kalian turun. Nanti jatuh." Tegur Val pada si kembar yang duduk di tangga.
"Iya Mom." Keduanya langsung turun.
"Jangan begitu. Nanti jatuh."
"Iya Mom."
"Mommy petik buah naga ya?"
"Iya. Ayo kita makan."
"Ayo Mom."
Val mengupaskan buah naga dan memotongnya kecil kecil dan disajikan di piring agar lebih mudah di makan anak anaknya.
"Manis."
"Yang putih lebih manis."
"Kamu nggak mau Dad?"
"Suapi."
"Iya." Val mengambil sepotong dan menyuapkan pada suaminya.
"Manis kaya yang suapi." Kata Mario mencubit hidung mancung istrinya.
"Ih sakit tau." Kata Val memegangi hidungnya yang memerah.
"Maaf By." Mario mengusap lembut hidung Val.
"Dad."
"Ya."
"Mommy kemarin kepalanya pusing."
"Iya? Kok kamu nggak bilang sama aku By." Panik Mario.
"Nggak papa. Cuman pusing sedikit."
"Kita nanti ke rumah sakit."
"Nggak perlu."
"Yaudah. Aku akan panggil tim medis buat kesini."
__ADS_1
"Nggak perlu."
"Kamu harus nurut."
"Dad. Aku nggak papa. Mungkin cuma kelelahan."
"Kamu kalo dibilangin." Kata Mario tak ingin istrinya membantah lagi.
Val selesai di periksa dokter. Keadaannya baik baik saja. Dokter mengatakan bahwa Val hanya dehidrasi saja.
"Kamu minum yang cukup dong By. Kamu sekarang makannya juga susah banget. Lihat badan kamu kurus begitu."
"Aku nggak ada selera buat makan Dad."
"Kamu mau makan apa? Biar aku suruh bikinkan."
"Lagi nggak pengen apa apa."
"Mommy yakin?" Ketiga anak Val membawa satu cup es krim dengan ukuran paling besar.
"Iya. Kalo itu Mom mau."
"Kamu. Nggak makan nasi malah makan es krim. Ga boleh."
"Ayo dong Dad. Aku pengen." Rengek Val.
"Nggak. Makan nasi dulu."
"Nanti aja nasinya. Es krim dulu aja."
"Nggak ada nanti nanti. Kalo nanti kamu malah nggak makan. Makan nasi dulu aku suapi. Anak anak es krimnya simpan dulu."
"Siap Dad." Jawab mereka patuh karena ingin membantu Daddynya agar Val mau makan.
"Pengen es krimnya."
" Makan dulu. Kalo nggak mau makan jangan makan eskrim sampai kapanpun."
"Iya. Aku makan." Ancaman Mario membuat Val menurut. Pria itu mulai menyuapi istrinya dengan telaten.
"Jangan pakai itu." Kata Val saat suaminya akan menyuapkan sayur.
"Kamu kan dah janji mau makan."
"Yasudah. Tapi kamu harus banyak banyak makan buah sama minum air putih yang cukup."
"Iya Dad." Mario melanjutkan menyuapi istrinya.
Val sedang asyik makan eskrim bersama anak anaknya.
"Jangan banyak banyak. Nanti kamu pilek."
"Enggak. Aku tiap hari minum vitamin. Jadi nggak pilek."
"Kamu kalo dibilang."
"Dad."
"Iya."
"Anak anak kepengen liburan."
"Kemana?"
"Nggak tau. Terserah Dady aja."
"Ke Villa mau?"
"Boleh. Sudah dua tahun nggak kesana."
"Kapan kita kesana ya Dad?"
"Jumat nanti."
"Ok."
Mario memeluk istrinya yang sudah tertidur pulas.
"Um..." Val membuka matanya.
__ADS_1
"Tidur lagi." Mario menepuk pelan punggung istrinya berharap wanita itu tertidur kembali.
"Dad."
"Ya By."
"Anak anak mana?"
"Mereka tidur. Kamu tidur lagi aja."
"Udah nggak ngantuk."
"Yaudah. Istirahat aja."
"Mau mandi dulu. Ini udah sore kan?"
"Belum. Ini masih siang. Masih jam satu."
"Perasaan aku tadi tidurnya lama."
"Kamu tidur baru satu jam."
"Masa sih?"
"Iya."
"Mau kemana?"
"Mau tata barang. Kemarin aku cari jilbab berantakan semua belum aku tata."
"Kamu istirahat aja. Nanti aku suruh orang buat rapikan."
"Enggak ah. Aku rapiin sendiri."
"Yaudah ayo aku temani." Mario ikut bangun.
Keduanya sudah sampai di walk in closet. Val langsung membuka tempat penyimpanan jilbabnya. Ia menatanya satu persatu.
"Kamu mau jilbab lagi, Aku belikan."
"Enggak. Yang masih baru juga banyak. Jangan buang buang uang."
"Bukan buang buang uang. Kalo kamu Pengan aku beliin."
"Enggak. Ini banyak banget."
"Nggak papa. Setiap hari kamu kan pake jilbab."
"Iya. Tapi nggak usah. Ini udah lebih dari cukup."
"Kalau gamis?"
"Kemarin Dad kan baru belikan banyak. Aku juga belum pakai."
"Kali aja kamu pengen yang lain lagi."
"Enggak kok. Kamu jadi suami jangan terlalu loyal dong."
"Kamu yang aneh. Masa suami loyal nggak boleh. Para istri kalo suami loyal malah seneng. Malah minta mecem macem."
"Kalo aku nggak."
"Kamu emang ane, tapi spesial."
"Dad."
"Iya By."
"Aku pengen nasi pecel. Boleh ya?"
"Nanti aku suruh koki bikinkan."
"Iya."
"Asal kamu mau makan aja. Aku kasih apapun yang kamu mau."
"Mie boleh?"
"Kalau itu enggak."
__ADS_1
"Katanya duanya boleh."
"Makanan yang nggak sehat pengecualian Sayangku." Mario memeluk istrinya.