
Hari ini tepat dimana Val berusia tujuh belas tahun. Hari terakhir juga Ia berada di Bali. Setelah merayakannya secara virtual dengan kedua orang tua. Val akan menikmati harinya untuk bermalas malasan dirumah.
Ia membereskan oleh oleh yang dibelinya kemarin untuk dibawa pulang. Tengah sibuk memasukkan barang ke koper.
Val mendapatkan pesan dari nomor tak di kenal. Ia segera membukanya dan tersenyum setelah melihat pesan itu.
Berisi foto Laura sedang memegang testpack. Dan sebuah pesan teks 'Anak suamimu. Kami akan segera menikah.' Val terdiam Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi wanita yang kuat. Ia tak akan menangis lagi. Apalagi menangisi seorang Pria. Bagi Val itu adalah hal yang sia sia.
Mario tengah duduk bersama Laura. Auranya begitu dingin semenjak di tinggal sang istri. Lebih dingin dari yang sebelumnya.
"Mario aku hamil anak kamu." Katanya dengan raut wajah senang.
"Aku tidak pernah menyentuhmu."
"Kau tidak ingat malam itu karena kau sedang mabuk. Lihatlah foto ini. Banyak bekas di tubuhmu dan tubuhku. Kita telah melakukannya. Aku hamil. Kau harus bertanggung jawab."
"Aku sudah punya istri. Aku tidak akan meninggalkannya."
"Tapi aku juga butuh pertanggungjawaban darimu."
"Aku tidak akan menikahimu."
"Tapi bayiku?"
"Aku ambil bayinya dan kau boleh pergi dengan uang seberapapun banyak yang kau mau."
"Aku hanya ingin menjadi istrimu. Bukan uangmu."
"Terserah kau saja. Kau ingin tetap hidup atau mati di tanganku. Aku juga tidak percaya jika itu anakku."
"Aku akan tinggal disini sampai anak ini lahir."
"Jangan berharap jadi Nyonya disini." Tegas Mario lalu pergi.
Beberapa detik kemudian pria itu kembali dan Laura masih setia duduk disana. Mario menggunakan sarung tangannya lalu menyeret wanita itu dengan kasar.
"Sakit Mario." Katanya namun Mario tak peduli. Ia terus menyeret Laura dan menghempaskan wanita itu begitu sampai ke luar pagar.
"Ku bunuh kau jika masih saja bersikeras kembali." Katanya dengan dingin lalu masuk ke dalam.
Mario sudah siap di meja makan untuk makan siang. Bagaimanapun juga Ia akan mengingat pesan mertuanya agar menjaga kesehatan.
Pelayan dengan cepat menyiapkan makan siang untuk Tuannya. Mereka tak mau mendapat hukuman jika sampai membuat pria itu menunggu. Mario hanya makan tiga suap saja. Itu pun Ia paksakan karena mengingat kesehatannya menurun akhir akhir ini. Ia tak mau sakit. Prinsipnya adalah tetap sehat untuk mencari istri tercinta dan membuat wanita itu kembali di sisinya.
Sore hari Val sudah sampai di bandara. Ia akan segera pulang karena sangat merindukan kedua orang tuanya.
"Permisi Paket."
"Ya sebentar." Kata Mami terdengar dari dalam sana.
"Val. Dasar nakal. Kamu pulang nggak bilang bilang. Pake acara bilang paket segala." Mami memeluk erat anaknya.
__ADS_1
"Kejutan Mi. Papi mana?"
"Disini." Pria itu langsung berhambur Val dengan erat.
"Dah. Masuk yuk. Val mau duduk. Capek."
"Bibi. Ini oleh olehnya di bagikan ke semuanya ya."
"Baik Non."
"Kamu sudah dapat kabar."
"Sudah Mi. Mereka mau nikah kan?"
"Kamu nggak papa?"
"Enggak lah Mi. Val masih santai begini." Katanya tegar padahal dalam hati Val sangat sakit.
"Syukur. Mami tau kamu kuat. Buktikan sama mereka bahwa kamu lebih baik."
"Iya Mi. Eh Pi. Aku mau bikin KTP sama sekalian SIM juga."
"Besok. Papi antar."
"Ok Pi."
"Oh iya. Tiga hari lagi ada acara di perusahaan Papi. Kamu datang ya."
"Acara apa?"
"Kejutan apa Pi?"
"Kalo Papi bilang nggak akan jadi kejutan lagi dong."
"Iya juga. Dah ah. Mami masak apa Mi? Val lapar."
"Mami masak rendang tadi. Mau makan? Mami siapin."
"Iya deh. Tapi Val mau mandi dulu. Lengket." Val beranjak menuju kamarnya.
Val makan dengan lahap.
"Kamu kaya nggak makan setahun aja."
"Sebulan. Val nggak makan masakan Mami. Kangen. Krupuknya masih ada Mi?"
"Ada. Mami ambilkan."
"Sekalian tambah es batu Mi."
"Kamu minumnya es mulu. Pilek nanti."
__ADS_1
"Enggak. Val minum Vitamin terus kok."
"Ya. Mami ambilkan."
"Makasih Mi. Mami makin cantik deh."
"Gombal." Papi hanya tersenyum melihat interaksi anak dan istrinya. Ia bernafas lega karena Val tidak bersedih dan kuat menghadapi semua ini di usianya yang masih sangat muda.
"Ini."
"Makasih Mi." Val meneguk minumnya dengan semangat.
"Krupuknya enak. Mami beli dimana?"
"Nggak tau. Mungkin di pasar. Yang beli Bibi."
"Oh."
"Kamu dibali ngapain aja?"
"Foya foya ngabisin uang. Apa lagi?"
"Nggak. Kalo itu Papi juga tau. Kegiatan kamu disana apa aja. Yang lebih spesifik gitu dong."
"Banyak Pi. Val Joging, surfing, flybording, mengisi acara kelas memasak, jalan jalan di bukit campuhan, ke rumah pohon di desa batu dawa dan selebihnya Val jalan jalan sambil makan.
"Tau gitu Mami susulin."
"Mau ngapain. Mami kalo ngikutin Val bakalan capek."
"Kamu ngeremehin Mami."
"Bukan gitu."
"Udah ah. Kalian itu..."
"Pi antar Val mau ke mall habis ini."
"Mau ngapain?"
"Jalan jalan."
"Kamu nggak capek apa?"
"Enggak. Tenaga Val masih full habis makan."
Val sedang di mall saat ini bertepatan dengan Mario yang juga berada disana. Pria itu hanya bosan di rumah. Makannya keluar untuk menjernihkan pikirannya sekalian Ia juga bertemu dengan beberapa kliennya untuk membahas dokumen penting di salah satu restoran.
Val duduk setelah membeli tripod, lensa dan harddisk eksternal sambil memainkan ponselnya.
"By..." Kata seorang pria yang berdiri di hadapan Val.
__ADS_1
Val mendongakkan kepalanya menatap Mario yang juga sedang menatapnya dengan tatapan pilu. Pria itu tampak berantakan dari sebulan yang lalu.
Tanpa menjawab, Val membawa barang barangnya dan segera pergi dari sana. Mario mengejar namun kehilangan jejak. Ia tak bisa menemukan Val yang berbaur dengan banyaknya orang yang berlalu lalang.