
Hari ini Mario menemani istrinya berbelanja untuk dibawa berlibur ke Villa. Agar ketika disana nanti tidak perlu keluar untuk membeli makanan. Rencananya setelah sholat Jumat nanti mereka akan berangkat. Villa milik Mario berada di daerah puncak. Perjalanan dari rumah ke sana tidak terlalu memakan waktu jika lalulintas lancar.
"Boleh ya Dad?" Kata Val mengangkat nugget dan sosis.
"Boleh."
"Bakso sekalian ya?"
"Iya" Kata Mario menurut sementara makanan itu tidak membahayakan kesehatan.
"Ambil daging dan ayamnya sekalian By."
"Iya."
"Aku beliin anak anak cemilan ya Dad. Biar mereka nggak rewel nanti."
"Iya. Ambil aja." Val memasukkan beberapa biscuit, keripik, coklat dan susu kotak ke dalam troli.
"Sudah semua Dad. Ayo bayar."
"Yakin nggak ada yang kelupaan?"
"Enggak. Semuanya udah lengkap."
"Yaudah Ayo." Mario menggandeng tangan istrinya dan tangan satunya lagi mendorong troli belanja.
Val menyiapkan segala kebutuhan sementara anak anak dan suaminya masih sholat Jumat di masjid.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Mom. Kita berangkat sekarang kan?"
"Iya. Tapi ganti baju dulu."
"Ok Mom."
"By."
"Baju kamu udah aku siapin Dad."
"Iya." Mario langsung menuju kamarnya.
Perjalanan lebih lama dari biasanya karena hari ini mancet. Keluarga Mario sampai di Villa. Hanya mereka yang ada disini karena penjaga Villa sedang cuti.
Mario memasukkan barang barangnya ke dalam. Ia tak membiarkan sang istri mengangkat apapun padahal bukan sesuatu yang berat juga.
Val telah sampai di dapur langsung memasukkan belanjaannya di kulkas dan membiarkan beberapa di luar untuk dimasak. Ia akan masak sekarang untuk persiapan nanti makan malam.
Mario datang kemudian memeluk istrinya yang tengah sibuk memotong sayuran.
"Anak anak mana?"
"Lagi nonton."
"Setelah masak kita jalan jalan sebentar ya Dad."
"Ini sudah sore lo."
"Sebentar saja."
"Iya."
"Kamu duduk dulu. Aku mau masak."
"Nggak mau. Maunya sama kamu."
__ADS_1
"Terserah." Val membiarkan apa yang dilakukan suaminya.
Sore hari setelah mandi, Val dan Mario mengajak anak anak untuk jalan jalan melihat kebun teh.
"Hati hati. Jangan lari lari. Nanti jatuh lo."Tegur Val kepada ketiga anaknya.
"Iya Mom."
"Mom. Kita kesana yuk." Tunjuk Veer pada Air terjun yang jaraknya cukup jauh dari sana.
"Jangan ah. Ini udah sore lo. Bahaya. Besok saja ya."
"Iya Mom."
"Mom."
"Iya sayang."
"Kenapa Daddy beli Villanya disini?"
"Nggak tau. Coba tanya Daddy."
"Kenapa Dad?"
"Disini nyaman. Jauh dari kebisingan."
"Tapi kan jauh dari swalayan Dad. Jadi kalo butuh apa apa repot."
"Makannya Daddy sama Mom kan selalu bawa kebutuhan dari rumah biar nggak repot."
"Ah iya juga."
"Kita pulang yuk. Udah mau magrib."
"Iya Mom."
Val, suami dan anak anaknya tengah makan malam bersama. Seperti biasa Mario selalu manja dan minta disuapi istrinya.
"Masakan Mommy selalu enak. Kita kangen masakan Mommy."
"Iya. Kalo di rumah kan yang masak koki bukan Mommy."
"Mommy kan nggak boleh masak sama Daddy." Van menyahuti kedua kakaknya.
"Mom butuh istirahat, jadi nggak boleh kecapean. Makannya Daddy suruh Koki buat masak."
"Mom sakit lagi?"
"Enggak. Mom cuman kadang suka pusing aja." Jawab Val.
Udara di puncak memang dingin. Val sudah memastikan anak anaknya tidur dengan pulas kemudian kembali ke kamarnya.
"Kirain udah tidur." Kata Val sambil melepas jilbabnya.
"Belum. Aku nunggu kamu lah."
"Aku mau nonton dulu ya Dad."
"Iya. Aku ikut." Mario beranjak dari ranjang dan ikut duduk bersama istrinya. Pria itu merebahkan kepalanya di pangkuan Val.
"TVnya di sana. Kenapa ngadep sini?" Tanya Val melihat pria itu malah memeluk perut ratanya.
"Nggak papa. Pengen aja." Ia menduselkan kepalanya di perut Val.
"Geli Dad."
Mario duduk berselonjor. Pria itu membawa Val ke pangkuan. Ia menyenderkan kepala sang istri ke dada bidangnya. Wangi rambut Val begitu menenangkan. Mario mengelus lembut kepala sang istri dan mengecupnya beberapa kali.
__ADS_1
"Aku mau nonton Dad."
"Nonton sambil begini kan bisa."
"Kamu nanti capek. Aku berat tau."
"Kamu nggak berat sama sekali. Makan aja susah. Susunya nggak kamu minum ya kalo aku lagi kerja?"
"Aku minum kok. Kalo nggak percaya tanya sama Bibi aja."
"Berat badan kamu kok nggak baik naik."
"Ya enggak tau." Val menggeliat menyenggol milik suaminya membuat Mario mendesah.
"Ah..." katanya sambil memejamkan mata.
"Kamu sengaja By?"
"Apa?" Tanya Val dengan polosnya.
"Kamu sengaja bikin aku Turn On."
"Enggak. Aku nggak bermaksud."
"Kamu harus tanggung jawab lo."
"Aku lagi haid."
"Alasan."
"Bener. Aku kan nggak sholat Dad."
"Yaudah. Jangan gerak gerak lagi kalo kamu nggak mau bantu aku."
"Iya."
Mario memperhatikan istrinya yang tengah fokus dengan film.
"Suka aktornya? ganteng ya?" Tanya Mario merasa diabaikan.
"Biasa saja."
"Masa? kok liatnya fokus begitu?"
"Kan emang lagi nonton."
"Udah. Kita tidur." Mario mematikan TVnya.
"Dad. Belum selesai." Protes Val.
"Nggak. Kita tidur." Mario menggendong istrinya dan meletakkan di ranjang.
"Matiin lampunya. Tutup jendela dan gordennya."
"Baik Nyonya." Mario langsung melaksanakan perintah sang istri.
Setelah selesai Ia menyusul Val di ranjang dan membawa wanita itu dalam dekapnya.
"By."
"Hm."
"Kamu janji kan nggak akan ninggalin aku?"
"Iya."
"Terimakasih." Mario mengecupi wajah istrinya.
__ADS_1