Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Daddy


__ADS_3

Val merasa sedih. Namun sebisa mungkin Ia juga akan menerima. Bagaimanapun juga Mario adalah suaminya. Pria itu berhak mendapatkan apa yang sudah menjadi haknya.


Suaminya sudah begitu baik menjaga dan menyayangi Val. Ia juga sadar semua itu. Namun di hati Val belum ada cinta. Akan Val lakukan sekuat tenaga agar hatinya bisa menerima sang suami.


"By. Nanti malem temani aku ya. Ada acara peringatan perusahaan teman aku di salah satu hotel." Mario memeluk Val yang sibuk menonton dengan cemilan berada di tangannya.


"Duh maaf pak Bos. Malam ini aku dah janjian Mabar sama teman teman."


"Mabar apa? Kamu jangan macam macam."


"Main bareng. Main game bareng. Tapi aku dirumah aja kok."


"Aku cuman pengen kenalin kamu ke semua orang. Mereka ga percaya aku udah punya istri."


"Tinggal tunjukin buku nikah beres."


"Tapi mereka pengen ketemu kamu."


"Maaf ya pak Bos. Ini penting banget buat aku."


"Yaudah gapapa. Tapi kamu dirumah aja ya. Jangan kemana mana. Satu lagi jangan panggil aku begitu. Aku suami kamu."


"Panggil apa dong?"


"Mas."


"Nggak ah. Geli aku."


"Sayang."


"Mulut aku belibet. Kepanjangan. Ganti."


"Honey."


"Ah lebay."


"Daddy?"


"Om nggak ketuaan aku panggil begitu?"


"Asal kamu nyaman nggak papa."


"Ok."


Val dan Mario tengah berada di walk in closet. Pria itu duduk memperhatikan istrinya yang tengah memilihkan baju untuknya.


Mario melihat ke kanan dan ke kiri. Membandingkan sisi miliknya dan milik sang istri. Miliknya begitu rapi dan tertata. Sedangkan Val berantakan. Kardus dan paper bag berserakan dan sepatu tidak pada tempatnya.


"Dad mau ngapain?"


"Mau beresin punya kamu tuh. Berantakan udah kaya kena sunami aja."


"Biarin nanti aku beresin sendiri."


"Dari kemarin nanti nanti mulu. Ujung ujungnya nggak jadi."


"Iya. Habis aku pilihan kamu baju. Pokoknya jangan sentuh barang aku."


"Kenapa?"


"Pokoknya jangan."


"Yaudah." Mario duduk kembali.


Val selesai memilihkan baju untuk suaminya langsung berberes.


"Dad nggak keluar aja. Aku mau beres beres."

__ADS_1


"Aku tungguin."


"Keluar gih. Nanti banyak debu."


"Enggak." Kata Mario karena merasa ada yang disembunyikan oleh istrinya.


Val membuka lemari pakaiannya. Puluhan bungkus mie instan berbagai rasa tumpah keluar.


"Pantas saja barang barang kamu berserakan diluar. Ternyata buat nyimpen ini?" Kata Mario sambil bersedekap dada.


"Maaf Dad."


"Kan sudah dibilangin jangan makan mie."


"Lagi pengen."


"Kamu emang doyan. Kalo orang pengen nggak nimbun sebanyak ini."


"Iya. Emang doyan."


Mario membantu Val membereskan barang barangnya.


"Mau bikin satu boleh ya?"


"Nggak."


"Dua kalo gitu."


"Satu aja enggak apalagi dua. Nggak boleh."


"Satu deh."


"Yaudah. Besok jangan lagi."


"Makasih Dad." Kata Val tersenyum manis.


Mario memperhatikan istrinya yang tengah makan dengan lahap.


"Nggak. Kamu aja."


"Ok." Val melanjutkan makan sambil sesekali meneguk susu dinginnya.


"Kamu mulai sekarang jangan makan tangan aneh aneh?"


"Aneh gimana? ini masih makanan manusia."


"Makanan nggak sehat maksudnya."


"Tapi enak." Mario mengecup bibir istrinya yang begitu pintar mencari alasan.


Val sendiri di rumah tengah bermain game sesaat setelah suaminya berangkat. Kalau dipikir pikir Ia kasihan juga dengan Mario. Pasti pria kaku itu disana kesepian karena semuanya membawa pasangan. Val beranjak dari duduk dan bergegas menuju kamar.


Mario sudah sampai di tempat acara.


"Mana istri kamu?" Tanya Seorang pria sambil menepuk bahu Mario.


"Lagi capek di rumah."


"Kamu ajak main ya."


"Hm.."


"Sayang." Laura tiba tiba datang dan menggandeng tangan Mario.


"Lepas." Geram pria itu.


"Nggak."

__ADS_1


"Lepas. Atau aku permalukan kamu disini."


"Iya." Laura melepaskan tangannya dengan terpaksa.


"Laura istri kamu?"


"Nggak."


Sosok wanita cantik memasuki tempat acara. Memakai gaun dengan belahan sampai ke paha menampilkan kakinya yang mulus. Lekuk tubuhnya begitu sempurna. Leher jenjangnya terekspose di hiasi kalung berlian cantik dengan permata hitam di tengah. Val tampil begitu menggoda malam ini membuat siapapun tak bisa melepaskan pandangan mereka dari wanita itu.


Val menghampiri suaminya yang masih terbengong disana.


"Dad."


"Dad.."


"Ah. Iya By."


"Maaf ya telat. Aku tadi masih ngobrol sama Papi." bohongnya.


"Ini istri kamu?"


"Iya."


"Kenalin. Temannya Mario. Frans."


"Valerie." Kata Val ingin menjabat tangan pria itu namun langsung di cegah oleh suaminya. Mario tak malu menunjukkan kemesraan nya pada semua orang. Itu membuat Laura geram dan pergi dari sana.


"Hah. Capek." Keluh Val langsung merebahkan diri di ranjang setelah berganti pakaian.


"Aku pijitin." Mario memijit kaki istrinya pelan.


"Katanya tadi nggak mau datang."


"Berubah pikiran. Kasihan aku lihat kamu nanti diledekin perjaka tua sama teman teman kamu."


"Makasih ya udah datang. Tapi kalo kamu jadi pusat perhatian begitu aku juga nggak rela."


"Memangnya aku kesana harus pakai apa? Kimono?"


"Enggak enggak." Mario memeluk sang istri dan membawanya ke dalam pangkuan.


"Ini masih sakit?" Tanya Mario menyentuh area sensitif istrinya.


"Enggak."


"Ayo. Kita main."


"Aku capek."


"Kamu kalo capek tidur. Biar aku yang kerja."


Mario mulai melepaskan pakaiannya dan sang istri hingga keduanya benar benar telanjang.


Pria itu mulai menyusuri tubuh indah sang istri hingga Val menggeliat di bawahnya.


Mario menjilati milik istrinya hingga basah. Pria itu mulai memasukkan miliknya dan memompa dengan perlahan.


"Ah....ah...ah....Mendesahlah Baby." Kata Mario merasakan nikmat yang tida duanya.


"Dad. ah...."


"Panggil aku By...Ah...."


"Dad...."


Mario membalik posisi hingga Val berada di atasnya. Wanita itu duduk tegak dan memejamkan mata menikmati permainan suaminya. Mario ikut duduk dan membawa istrinya bangkit dari ranjang. Ia terus melakukan, menyandarkan istrinya di jendela. Mengarahkan Val untuk meremas kepalanya.

__ADS_1


Dirasa sang istri sudah tak berdaya Mario menggendong Val. Mereka tidur dengan posisi Val yang masih berada di atasnya.


Mario terbangun dengan posisi yang masih sama. Ia mengecup bibir istrinya dan tersenyum mengingat percintaan indah yang keduanya lakukan semalam. Mario memiringkan tubuhnya. Ia menyelimuti sang istri agar nyaman. Pria itu bergegas menyiapkan air mandi, pakaian dan sarapan untuk sang istri.


__ADS_2