
Sudah lima hari lamanya Frans dirawat di rumah sakit. Pria itu diperbolehkan pulang pagi ini. Mario dan Val menjemput sedangkan anak anak menunggu di rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Papa. Pelan pelan jalannya." Kata Ladit langsung beranjak dari duduk diikuti anak anak Mario.
"Iya. Papa ini masih muda. Kamu pikir kakek kakek apa."
"Om gimana keadaannya?"
"Om baik. Om sudah sembuh kok."
"Om. Ingat kata dokter tadi. Jauhi yang namanya pola hidup tidak sehat. Terutama Alkohol. Bahaya itu."
"Iya."
"Kalo gitu Val bantu. Dad. Dimana tempat Om Frans simpan semua minuman haram itu?"
"Di ruang kerjanya."
"Ok. Ayo kesana. Aku mau buang. Boleh kan?"
"Boleh." Jawab Frans sambil tersenyum.
Mereka sedang mengamati Val yang sedang memakai sarung tangannya. Wanita itu membuka satu persatu botol wine, sampanye dan bir lalu menuangkannya ke wastafel.
"Punya suami kamu dulu juga kamu giniin?"
"Dia sendiri yang lakukan."
"Hebat. Patut di beri apresiasi."
"Sebelum tersesat terlalu jauh untung aku ketemu sama istri tercinta." Kata Mario sambil memeluk Val.
"Awas ah. Bikin riweh aja."
"Aku kira Om udah nggak simpen ini di rumah. Ternyata masih banyak."
"Masih aku simpen. Sering aku minum juga ketika lagi pengen."
"Lagi pengen atau lagi banyak masalah?"
"Ya. Dua duanya sih."
"Hm. Kalo ada masalah cerita bukan larinya ke minuman. Jadi sakit begini kan."
"Iya. Kedepannya nggak lagi. Aku sungkan aja masa ngrepotin kamu sama Mario mulu."
"Situ punya rasa sungkan juga ternyata."
"Iyalah."
"Udah semua. Buang botolnya."
"Buang dit."
"Kok aku Pa."
"Nurut aja kenapa sih."
"Iya." Ladit langsung mengangkat kardus berisi botol kaca itu untuk dibuang ke tempat sampah depan rumah.
"Mau dimasakin apa?" Tanya Val ketika mereka sedang berkumpul di ruang tengah.
"Apa aja boleh. Masakan kamu enak semua Val."
"Em. Belanja dulu deh. Nggak ada bahan di kulkas."
"Gitu ya. Suruh bini orang masak. Nggak ada bahan pula."
"Ya maap."
"Ayo aku anter By."
"Kita ikut Dad."
"Nggak. Kalian disini aja."
"Yaudah. Bawain cemilan ya Mom."
"Iya. Kita berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Mario langsung menggandeng istrinya untuk segera berangkat.
Sampai di sana Val langsung memilih bahan bahan makanan.
"Kamu mau dimasakin apa Dad?"
"Kentang balado boleh?"
"Boleh."
__ADS_1
"Dad."
"Ya Sayang."
"Om Frans itu sakitnya sudah lama ya?"
"Sudah dari dulu. Dulu banget sebelum anak anak masuk sekolah. Itu juga jadi salah satu faktor istrinya ninggalin dia."
"Oh ya? Nggak nyangka. Aku kira dia sehat sehat aja."
"Dia memang begitu. Nggak mau sakitnya dilihat orang."
"Kasian ya. Istrinya tega begitu. Yang namanya suami sakit harus di support bukan di tinggalin."
"Namanya juga ******. Bukan cuman satu laki laki. Sering Gonta ganti. Dibawa pulang ke rumah lagi. Ladit waktu itu juga sering lihat."
"By..."
"Ya."
"Kalo aku sakit kaya Frans. Apa kamu juga bakal ninggalin aku?"
"Emang aku serendah itu jadi istri?"
"Enggak. Aku percaya kok. Kamu paling setia." Kata Mario sambil memeluk istrinya.
"Jangan peluk peluk. Nggak tau tempat. Bikin malu aja." Val meninggalkan suaminya menuju tempat kasir.
Selesai menata belanjaan Val langsung memasak di dapur. Ia ditemani Mario sedangkan yang lain menunggu sambil menonton TV.
"Ini udah belum By?" Tanya Mario saat membantu Val menggoreng kentang.
"Sebentar lagi."
"Ok."
"Udang asam manisnya udah mateng." Katanya sambil meletakkan piring di meja.
"Kamu bikin apa aja sih?"
"Udang asam manis kesukaan Val. Ayam rica rica itu yang minta si kembar. Kentang balado itu yang minta kamu. Tumis daging itu Ladit yang minta. Kalo Om Frans sih dia aku bikinin Ikan panggang, capcay sama sambal goreng tempe. Ini baik semua buat jantung. Aku masak pakai minyak zaitun."
"Oh."
"Udah. Kentangnya di tiriskan."
"Iya."
Selesai sholat berjamaah mereka makan siang bersama.
"Ngapain malu."
Frans berdecih mendengar jawaban sahabatnya itu.
"Em....Makasih ya Val. Udah dimasakin khusus. Semuanya enak. Nggak kaya makanan rumah sakit."
"Bayar dong. Jangan cuman makasih aja."
"Bayar pake apa? Nggak mungkin kalian mau uang."
"Nggak usah pake uang. Nanti aku pikirkan harus pake apa."
"Apaan sih Dad. Nolong orang kok itung itungan. Ga ikhlas itu namanya. Udah Om. Om nggak usah bayar apa apa. Jangan dengerin."
"Beneran Val?"
"Iya."
"Makasih ya."
"Iya."
"Kalian nginep disini kan? Masa aku sama Ladit aja yang nginep di rumah kalian."
"Iya. Mom. Sesekali nginep disini."
"Nggak. Kita pulang aja. Anak anak rewel nanti."
"Sama Daddy-nya jangan lupa. Dia rewel juga." Tambah Val.
"By.."
"Tuh kan." Kata Val melihat suaminya merengek.
Sampai di rumah Val langsung menuju kamarnya setelah ngobrol sebentar dengan anak anak. Wanita itu merebahkan tubuh di ranjang tanpa bersih bersih dahulu. Mario memasuki kamar. Ia mendapati sang istri sudah tertidur pulas. Pria itu mendekat dan melepaskan jilbab Val. Tangannya mengelus lembut rambut sang istri yang begitu halus. Ia mengecup bibir Val dan mendekap tubuh wanita itu dengan hangat. Mario tau istrinya kelelahan hari ini. Wanita itu harus mondar mandir mengurus rumah dan sekarang ditambah Frans yang sedang sakit.
"By."
"Hm."
"Kamu lagi ngapain sih? kok cuekin aku."
"Lagi cek laporan keuangan."
__ADS_1
"Kamu tatap aku dong. Aku mau ngomong."
Val menghela napasnya kemudian menatap suaminya.
"Apa?"
"I love you." Kaya Mario sambil tersenyum manis. Val tidak menanggapi. Wanita itu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena sikap kekanakan sang suami.
"By....Kamu kok nggak ada tanggapan sih." Keluh Mario.
"Aku harus ngapain?"
"Jawab dong."
"Aku sibuk."
"Jawab dong Sayang."
"Hm.. Too."
"Kamu kok cuek banget sih."
"Ya. Love you too."
"Makasih." Mario memeluk istrinya.
"Jangan peluk peluk. Aku lagi serius. Jangan ganggu."
"Iya." Kata Mario melihat kegalakan istrinya ketika sedang serius seperti ini.
Van menghampiri kedua orangtuanya yang sedang duduk bersama.
"Mom." Panggilnya sambil duduk di samping Val.
"Ya sayang." Jawab Val dengan lembut.
"Kamu kok gitu By. Sama aku aja galak."
"Haish...jangan mulai deh Dad."
"Ada apa?" Tanya Val masih fokus dengan dokumen yang dipegangnya.
"Van boleh beli jilbab Mom? kaya yang Mommy kasih waktu itu. Tapi warnanya yang beda."
"Bukannya jilbab kamu banyak. Semua warna kalo nggak salah kamu punya. Kenapa masih beli juga?"
"Van mau jilbab instan seperti yang dikasih Mom waktu itu. Dipakenya enak Dad. Cepet dan nggak ribet sama sekali."
"Iya. Nanti kita beli."
"Mom temani ya."
"Iya."
"Makasih Mom. Kita perginya kapan?"
"Nanti malam."
"Ok."
Malam hari Val, Mario dan anak anaknya sudah berada di Mall. Mereka hanya menunggu anak anak yang sibuk berbelanja.
"Mom. Bagus yang mana?"
"Bagus semua."
"kalau Van pakai cocok yang mana?"
"Cocok semua. Kamu pakai warna apa aja bagus. Tapi yang kanan itu lebih soft. Cocok sama kamu."
"Van ambil yang ini ya Mom."
"Iya."
"Mom. Ved ambil ini ya."
"Iya. Ambil aja sesuka kalian."
"Makasih Mom."
"Iya."
"Kamu nggak beli By?"
"Enggak. Aku antar mereka aja."
"Kalau pengen apa apa bilang. Aku turuti."
"Pulang nanti beli sate yuk."
"Nggak. Nanti aku suruh bikinkan saja."
"Baiklah." Kata Val menurut. Mario memeluk dan mencium istrinya tanpa malu di tempat umum.
__ADS_1
"Ih. Nggak tau tempat."
"Biarin." Katanya tak peduli.