
Mario bergegas memasuki rumah. Ia tak sabar ingin berjumpa dengan istrinya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Dad."
"Mom mana?"
"Mom sedang keluar sama temannya Dad. Tadi Mom bilang sudah kirim pesan ke Dad tapi Dad tidak balas."
"Oh. Yasudah Dad ke kamar dulu ya."
"Iya Dad." Jawab ketiganya bersamaan.
Mario sampai di kamar langsung menghubungi istrinya.
"Assalamualaikum By."
"Waalaikumsalam."
"Kamu dimana? kamu kok kelayapan padahal baru aja sembuh."
"Aku lagi di rumah teman aku Dad. Lagi ngobrol. Tadi aku chat kamu tapi nggak dibalas."
"Maaf. Aku lagi sibuk mungkin. Di rumah teman kamu yang mana?"
"Itu yang dekat taman kota."
"Aku jemput ya."
"Nanti dulu lah. Aku juga bawa supir kok. Ngapain kamu jemput. Aku pulang nanti. Kalo kamu mau mandi bajunya udah aku siapkan. Kalo mau makan juga sudah siap. Udah dulu ya Dad. Aku mau ngobrol penting. Jangan telpon telpon lagi."
"Tapi By..."
"Assalamualaikum Dad."
"Waalaikumsalam."
Mario menghembuskan nafasnya kasar. Ia merebahkan badannya di ranjang menatap langit langit kamar. Niat ingin cepat pulang bertemu istri malah sekarang istrinya tidak ada di rumah.
Disisi lain Val tengah sibuk memanggang adonan cake. Setelah matang wanita itu menatanya menjadi tiga tumpuk dengan posisi paling bawah adalah cake paling besar. Agar lebih rapi Val mengolesinya dengan coklat dan menghiasnya dengan indah. Val memasukkannya ke dalam kotak agar tetap dalam keadaan sempurna sampai tujuan.
Sampai malam hari istrinya belum juga pulang membuat Mario khawatir. Ia baru saja memarkirkan mobilnya di halaman karena baru saja mencari istrinya di rumah yang Val maksud tadi siang. Suasana tampak sepi dan lampu di dalam juga mati.
"By." Panggil Mario namun tidak mendapat jawaban. Susah payah Ia berjalan menuju ruang tengah. Tepat saat itu lampu menyala. Disitu ada sebuah kue cantik dan kado kado yang berjejer di meja.
"Selamat ulang tahun Dad." Val memeluk suaminya.
"Terimakasih sayang. Aku sendiri lupa hari ini hari ulang tahunku." Mario membalas pelukan sang istri dan mengecup kedua pipi dan kening Val.
"Selamat ulang tahun Daddy." Kata ketiga anaknya bersamaan.
"Terimakasih sayang." Mario memeluk dan mencium ketiganya.
"Selamat ulang tahun Dad. Semoga Daddy panjang umur dan sehat selalu."
"Iya Istriku terimakasih."
"Mau buka hadiahnya sekarang?"
"Iya."
Mario membuka kadonya satu persatu sampai selesai.
__ADS_1
Kado pertama adalah setelan jas untuk ke kantor. Kado kedua berisi parfum dan jam tangan. Kado ketiga berisi sebuah pena yang begitu elegan.
"Terimakasih. Sangat indah." Kata Mario memperhatikan kado pertamanya.
"Itu aku yang buat sendiri. Daddy suka?"
"Suka sayang. Sangat suka. Terimakasih banyak." Mario memeluk istrinya.
"Mom."
"Ya sayang."
"Boleh makan kuenya?"
"Boleh. Mom ambilkan." Val menyiapkan kue untuk anak anak dan suaminya.
"Jadi hari ini kamu bohong kan?"
"Maaf Dad. Aku tadi siapin kue buat kamu."
"Pantesan aku cari di rumah teman kamu nggak ada."
"Kamu kesana?"
"Iya lah."
"Maaf."
"Nggak papa."
Selesai merayakan ulang tahun Mario dengan sederhana mereka makan malam bersama.
"Nasi kuning enak ya Mom."
"Iya."
Mario dan keluarga kecilnya berkumpul di ruang keluarga.
"Iyakan. Makannya aku nggak kasih izin kamu keluar sendiri ya ini alasannya. Suka jajan sembarangan." Kata Mario melihat macam macam makanan di atas meja.
"Lagi pengen Dad."
"Kamu kalo dibilangin."
Val makan dengan lahap bersama anak anaknya. Sedangkan Mario hanya duduk diam memperhatikan karena tidak tertarik sama sekali.
Wanita itu asyik makan jagung rebus. Entah apa yang disukai istrinya hingga Val sangat tergila gila dengan makanan sederhana itu.
"Emang enak ya By. Kamu setiap keluar mintanya jagung rebus mulu."
"Enak. Daddy mau."
"Kamu aja."
"Yakin nggak mau? enak lo." Mendapat godaan dari istrinya Mario jadi tergiur.
"Suapi."
"Iya." Val langsung menyuapi suaminya.
"Enak kan?"
"Enak. Mau lagi."
__ADS_1
"Aku ambilin yang baru."
"Nggak mau. Maunya makan sama kamu."
"Selalu begitu." Kata Val harus berbagi dengan suami manjanya.
"Piyama aku kamu kemanain semua Dad?" Teriak Val dari Walk in closet.
Mario menghampiri istrinya yang masih memakai gamis.
"Ada apa sih By. Itu kan ada."
"Ini bukan piyama. Ini lingerie."
"Ya pakai seadanya aja."
"Aku maunya piyama. Kamu kemanain semua piyama aku?"
"Aku buang."
"Kok kamu tega banget."
"Udah pakai itu aja."
"Gamau. Aku mau tidur paket gamis aja."
"By. Kamu kok gitu sih." Rengek Mario. Ia sebenarnya ingin mengerjai sang istri untuk memakai lingerie tapi kenyataannya sekarang malah Val menggunakan gamisnya yang lebih tertutup dari piyama.
Val langsung keluar dan berbaring di ranjang.
"By." Mario menggosokkan kepalanya di perut sang istri.
"Jangan gitu ah. Aku mau tidur."
"Ayo dong pakai itu."
"Gamau aku nggak nyaman."
"Kamu itu lo. Hari ini kan hari ulang tahun aku."
"Iya emang. Kalo aku pake itu kamu bisa janji nggak minta jatah. Udah tiap hari aku dibuat begadang sama kamu. Aku capek."
"Iya. Kamu libur hari ini."
"Bener?"
"Iya."
"Yaudah aku ganti dulu." Val beranjak dari ranjang dan mengganti pakaiannya.
Wanita itu kembali dengan menggunakan lingerie yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang indah. Kulitnya seputih susu kontras dengan warna hitam lingerie itu. Val menggerai rambut coklat indahnya. Mario menelan ludahnya susah payah. Apalagi saat ini Val sudah berbaring di sampingnya. Jantungnya berdegup kencang dan yang di bawah sana juga sudah tegak berdiri.
"By." Mario menggesekkan miliknya ke paha sang istri sambil merengek.
"Apa? Kamu udah janji. Aku mau tidur."
"Kamu begitu. Satu ronde aja. Habis itu kamu tidur. Hari ini kan ulang tahun aku." tidak mendapat jawaban Mario langsung menjamah istrinya. Bekas luka Val sudah hilang kulitnya kembali mulus tanpa cacat sedikitpun. Mario melebarkan kaki istrinya dan mengaitkan ke pinggangnya. Ia terus memompa seiring seirama. Val hanya bisa memeluk tubuh kokoh suaminya yang sedang bekerja.
"Hanya sekali." Kata Val sambil memejamkan mata setelah suaminya mencapai pelepasan pertamanya.
"Ah....aku ingin lagi." Kata Mario tak berhenti dan mengulanginya berkali kali.
"Katanya hanya satu." Protes Val.
__ADS_1
"Ah...nikmat..By....istriku...Sayang.." Katanya dengan nafas terengah engah tak memperdulikan Val.
Mario ingkar janji. Nyatanya sampai berkali kali Ia belum juga melepaskan istrinya. Ia menidurkan Val yang kelelahan di atasnya sambil memeluk erat. Val seperti bayi kecil yang polos. Mario mencium istrinya dan ikut tidur sambil memeluk sang istri.