
Val benar benar kesal pada suaminya. Pria itu selesai memandikan Sang istri namun tak mengizinkan Val menggunakan pakaiannya.
"Dad. Sini baju aku. Aku bisa pake sendiri."
"Nggak boleh. Kamu gini aja udah cantik. Nggak perlu pakai baju segala." Kata Mario tersenyum melihat istrinya hanya menggunakan handuk.
"Dad. Aku dingin ini lo. Jangan main main kamu. Ato nggak, tidur di luar sana. Jangan tidur sama aku."
"Ah. Iya iya. Sebentar Sayang. Aku pakaikan." Mario bergegas memakaikan gamis istrinya karena telah mendapat ancaman.
"Jilbabnya sekalian."
"Iya."
"Nah. Sudah cantik." Katanya setelah selesai mendandani sang istri. Ia kemudian duduk jongkok di depan Val dan memeluk istrinya. Mario menempelkan kepalanya di dada sang istri.
"Jangan suruh aku tidur di luar ya." Pintanya selembut mungkin.
"Iya."
"Makasih sayang. Kita main lagi yuk."
"Jangan ngada ngada kamu. Tadi sudah. Baru saja mandi. Kamu jangan macam macam atau beneran aku suruh tidur di luar."
"Ah iya iya. Jangan ngambek."
Val menghampiri anak anaknya yang sedang bermain dengan kucing mereka.
"Kalian sudah mandi sayang?"
"Sudah Mom."
"Pinter."
"Lihat deh Mom. Mochi makin berat."
"Iya. Makannya banyak. Makin gede dia."
__ADS_1
"Sudah pernah di mandiin?"
"Belum Mom."
"Nanti kita suruh Daddy aja Mom."
"Apa suruh Daddy?" Tanya Mario sambil duduk di samping istrinya.
"Mandiin kucing kita dong Dad."
"Ogah. Mandiin sendiri. Kalian kan yang mau. Ya harus di rawat sendiri dong. Kok bawa bawa Daddy segala." Kata Mario dengan kesal.
"Kita nggak bisa."
"Mandiin aja kaya kalian mandi. Bagian kepala jangan sampai kena."
"Mandiinnya dimana?"
"Di kamar mandi sana. Kalo udah di keringin pake handuk dan hair dryer. Minta Bibi sama Paman temani sana."
"Mau sama Mom."
"Tapi Dad..."
"Nggak pake tapi tapian. Atau Daddy buang kucing kalian."
"Yah. Jangan dong. Iya kita mandiin." Ketiganya membawa kucing masing masing untuk dimandikan.
"Kamu mau kemana?" Tanya Mario melihat istrinya hendak berdiri.
"Mau lihat mereka."
"Disini aja."
"Tapi Dad..."
"Disini. Temani aku. Mereka udah ada yang bantu. Jangan terlalu khawatir."
__ADS_1
"Kucingnya galak nggak sih? Takutnya mereka di gigit nanti."
"Enggak. Kucingnya baik kok. Sebaik aku." Katanya dengan percaya diri.
"Kamu galak tau."
"Mana ada."
"Kamu nggak nyadar ya kalo suka marahin aku."
"Itu karna kamu udah bikin aku cemburu."
"Cemburu apa?"
"Kalo kamu bicara sama laki laki selain aku. Aku nggak suka. Aku cemburu."
"Kamunya aja yang kebangetan."
"Biarin."
Val tengah disuapi makan malam oleh suaminya. Mario begitu telaten. Pria itu sudah banyak berubah sekarang. Lebih sabar, dan Tidak sekaku dulu lagi. Ibadahnya juga bagus. Bahkan kini Ia membangun beberapa mushola di daerah pelosok. Hartanya yang berlimpah tak Ia sia sialan hanya untuk bermewah mewahan seperti dulu. Berkat Val Ia tau apa artinya berbagi dan bersedekah. Berkat istrinya juga Ia mengenal agama yang begitu awam baginya.
Mario meletakkan piring kotor di atas meja. Tugasnya untuk menyuapi sang istri sudah usai. Ia memeluk Val dengan penuh cinta. Mengabaikan anak anaknya yang sedang berlarian kesana kemari bersama kucing kucingnya. Dunia seakan milik Mario saja. Ia berbuat sesuka hati dan dengan berani mencium bibir istrinya.
"Kamu apa apaan sih Dad?" Pekik Val karena khawatir anak anaknya akan melihat.
"Terimakasih Istriku."
"Untuk?"
"Semua yang kamu lakukan. Sudah setia pada suamimu ini. Terimakasih atas segalanya. Ilmu dan pelajaran hidup yang begitu berharga. Aku menjadi lebih baik sekarang. Aku mempunyai kebahagiaan yang lengkap. Istri yang baik dan anak anak yang baik. Semua nikmat dan titipan yang Allah berikan akan aku jaga dengan baik. Terimakasih. Membuat hati beku laki laki kejam ini menghangat karena mengenal apa itu cinta dan keluarga."
Val tersenyum manis pada suaminya. Ia menggenggam tangan Mario. Memberikan rasa nyaman pada pria itu.
"Aku juga berterimakasih atas semuanya Dad. Terimakasih sudah melindungi dan menjaga kami dengan baik. Terimakasih sudah mau berubah menjadi orang yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Semua perjuanganmu demi kita. Aku sangat bangga. Menjaga mata dan hati kamu hanya untuk aku. Itu luar biasa. Kita sama sama belajar. Kita sama sama berubah. Aku bersyukur memiliki Daddy dan anak anak.Ini adalah hal yang paling membahagiakan dalam hidup."
Mario memeluk istrinya dan Val membalas pelukan suaminya dengan hangat.
__ADS_1
"Ikut." Kata anak anak ikut bergabung memeluk Mommy dan Daddynya. Mario tersenyum bahagia. "Kesayanganku." Gumamnya merasakan kehangatan keluarga.