Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Ini Semua Untuk Kamu


__ADS_3

Sudah lewat tengah malam kedua insan yang belum halal itu masih sama sama terjaga. Val tidur leluasa di ranjang sementara Mario tersiksa karena tidur di sofa. Pria itu sudah terbiasa tidur seranjang dengan Val. Begitu pulas dan nyaman. Namun kini Ia harus tidur sendiri, di sofa pula.


"Sayang. Kamu sudah tidur?"


"Sayang."


"Val sayang."


"Apa?"


"Kamu sudah tidur?"


"Belum lah. Kan lagi jawab Om. Artinya Val belum tidur."


"Kamu juga nggak bisa tidur kan. Jadi kasih izin aku tidur di ranjang ya."


"Nggak. Ntar Om peluk aku kaya semalem lagi."


"Nggak kok. Janji deh. Aku nggak bisa tidur kaya gini."


"Sukurin."


"Ngomong ngomong kamu lagi mikirin apa kok belum tidur."


"Val kangen rumah. Kangen Papi sama Mami juga."


"Tiap hari kan kamu video call sama mereka."


"Ya beda lah sama ketemu langsung."


"Yaudah. Besok aku suruh Papi sama Mami kamu kesini."


"Om serius?"


"Iya. Tau kan sekarang kalo aku ini penculik paling baik."


"Tau ah. Tetep aja jahat."


Val menghampiri Mario di sofa.


"Pengen tidur disini? Aku peluk. Tempatnya sempit. Pasti lebih romantis."


"Jangan ngada ngada. Pindah ke ranjang sana."


"Serius?"


"Yaudah kalo gamau."


"Mau mau." Mario dengan semangat menggendong Val dan mendudukkannya di ranjang dengan hati hati.

__ADS_1


"Om apa apaan sih."


"Maaf maaf. Aku lagi seneng. Kita tidur ya. Dah ngantuk banget."


"Jangan kepedean aku suruh Om tidur di ranjang karena rasa terimakasih aja. Satu lagi, jangan melewati batas. Kalo sampai melewati batas Val nggak akan pernah mau ngomong lagi sama Om."


"Iya Sayang. Aku nggak akan melewati batas. Kita tidur ya. Good night." Kata Mario namun tak mendapat jawaban.


Pagi hari Val selesai sarapan tengah bersemangat menunggu Mami dan Papinya datang.


"Sayang." Wanita itu langsung berhambur memeluk anak gadisnya.


"Val kangen Mami."


"Mami juga kangen kamu sayang. Kamu baik baik aja kan?"


"Baik Mi."


"Kamu nggak di sakiti dia kan?"


"Enggak Pi."


"Ngobrolnya sambil duduk biar enak."Kata Mario.


"Aku ingin anakku kembali." Tegas Papi Val.


"Apa maksudmu?"


"Aku ingin menjadi suami Val kak. Hanya itu yang aku mau."


"Bukan begini caranya Mario. Kau ini bodoh atau apa?"


"Aku bodoh karena cinta. Aku cinta sama anak kakak."


"Kami hanya orang tua Mario. Kami menuruti semua kenyamanan anak. Semua keputusan kami serahkan pada Val. Kami tidak ingin memaksa."


"Val sudah bilang sama Om. Val nggak mau nikah. Val masih muda. Val masih pengen menikmati masa muda Val."


"Baiklah. Itu artinya Val harus tetap tinggal disini."


"Mario. Kamu jangan keterlaluan."


"Maaf kak. Aku cinta sama anak kakak. Aku kesepian. Selalu kesepian. Dari kecil aku nggak ada yang memperhatikan. Keluarga aku tak punya. Hubungan orang tua berantakan. Tidak ada kebahagiaan dalam diriku. Satu satunya kebahagiaanku adalah Val. Dia membuat hidupku lebih berwarna. Tidak hanya hitam putih dan abu abu saja. Berkatnya aku tau hal baru. Tau apa itu menunggu dan memperjuangkan." Katanya sambil menunduk. Papi Val hanya pasrah. Ia sangat ingin membawa anaknya pulang namun keadaan tidak memungkinkan. Mario cukup cerdik. Papi Val tidak bisa melapor ke pihak berwajib karena ancaman yang pria itu lakukan. Sebagai pendatang baru. Sekaya apapun Papi Val namun kekuasaannya di sini masih kalah dengan Mario.


"Tadi happy. Sekarang kok sedih lagi?" Mario menghampiri Val yang sedang asyik menonton.


"Eskrim."


"Sebentar aku ambilin."

__ADS_1


"Makasih."Val menerima es krim dari Mario dan langsung memakannya.


"Masih manyun aja. Ada yang dipengen lagi?"


"Keripik kentang." Pria itu bergegas mengambil keripik kentang untuk Valnya.


"Jangan banyak banyak. Nanti tenggorokan kamu sakit."


"Hm."


"Om."


"Iya sayang."


"Aku pengen keluar. Aku bosan di dalam mansion terus. Aku butuh udara segar."


"Baiklah. Tidak boleh melewati tembok dan gerbang. Mengerti?"


"Ya." Kata Val malas.


Mario mengajak Val berjalan jalan di taman Mansionnya. Val tak menyangka pria itu ternyata pengoleksi bunga mawar. Tamannya di dominasi dengan tanaman hijau dan bunga mawar dengan berbagai warna dan jenis.


"Ini semua untuk kamu." Kata Mario sambil menggandeng tangan Val membuat gadis itu berhenti melangkah.


"Iya Sayang. Semua ini untuk kamu. Taman ini dibangun sekitar dua Minggu yang lalu. Aku tanam semua jenis bunga mawar untuk kamu. Apalagi mawar hitam. Aku tau kamu suka itu."


Val cukup takjub. Mawar hitam bukan tanaman yang mudah di dapat. Apalagi Mario menanamnya sangat banyak. Entah berapa dana yang digelontorkan pria itu untuk semua ini.


"Itu apa?" Tanya Val pada patung dengan inisial MV yang berdiri kokoh.


"Ini adalah Inisial kita Mario, Valerie. Taman ini milik kita. Aku juga membangun perusahaan baru dengan nama tersebut."


"Apa?" Kata Val terkejut atas sikap pria itu. Apakah Mario tidak berfikir panjang melakukan semua ini? Apakah pria itu tidak takut semuanya akan sia sia? Dia belum tentu bisa memiliki Val karena Val sudah terang terangan menolaknya. Apa pria itu tidak waras? melakukan semua ini yang nantinya tidak bisa memiliki Val. Apa yang akan dia lakukan jika impiannya bersanding dengan Val tidak terwujud.


"Om buat ini semu nggak mikir panjang ya?"


"Hah?"


"Maksud aku. Belum tentu kita jodoh. Kenapa Om senekat ini?"


"Aku tau kita jodoh."


"Darimana Om tau?"


"Dari sini." Mario menunjuk dadanya.


"Om. Val bilang sama Om. Jodoh, maut dan rezeki itu sudah ada yang atur. Kita sebagai manusia nggak tau. Jadi Om jangan terlalu optimis gitu. Ya boleh namanya juga usaha. Tapi jangan terlalu maksa juga."


"Nggak tau ah. Pokoknya yang ada di hati sama pikiran aku cuman kamu. Nggak ada yang lain." Mario memeluk Val dengan hangat.

__ADS_1


__ADS_2