Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
My Baby


__ADS_3

Beginilah keadaan Val sekarang. Duduk sambil diomeli suami dan anak anaknya. Tangannya patah dan keningnya mendapat beberapa jahitan karena terjatuh dari tangga. Mami dan Papinya sudah pulang tadi setelah selesai memarahinya. Sekarang giliran Suami dan ketiga anaknya.


"Kan aku udah bilang. Biar aku aja yang kasih makan. Kamu ngeyel. Gini kan jadinya."


"Iya nih Mom. Kalo dibilangin suka bendel."


"Iya iya. Udah ah. Kalian kok marahin aku."


"Udah. Udah. Kamu...."


"Udah ya. Ngantuk. Mau tidur dulu. Kalian juga tidur ya. Sudah malem banget."


"Iya. Cepat sembuh Mom. Selamat malam."


"Malam sayang." Val mengecup dan memeluk anak anaknya bergantian.


"Hati hati kata Mario menuntun istrinya ke ranjang."


"Kamu kenapa?"


"Khawatir tau. Duduknya hati hati."


"Iya. Yang sakit kan tangan. Apa hubungannya sama duduk harus hati hati?" Val berbaring dan Mario menyusulnya.


"Kamu Kalo dibilangin." Pria itu memeluk istrinya pelan agas tidak menyakiti.


"Lain kali kalo dibilang jangan ngeyel."


"Iya."


"Kamu bilang iya kaya gini beneran ngerti nggak?"


"Iya ngerti."


"Bilangnya Iya. Nanti lain waktu diulangi lagi."


"Enggak."


"Yasudah tidur."


"Iya. Ini mau tidur."


"Selamat malam sayang." Kecupan mendarat di bibir Val.


"Malam Dad." Jawabnya mulai memejamkan mata karena mengantuk.


Pagi hari Val menyiapkan baju untuk suaminya.


"Aku bisa sendiri By. Kamu duduk aja."


"Udah ini. Kamu ganti baju. Aku tunggu di bawah ya."


"Tunggu disini aja. Kita ke bawah sama sama."


"Eh tunggu deh By. Aku nggak masuk aja. Biar nanti asisten aku yang handle."


"Kok gitu. Kamu yang adain meeting kok malah nggak datang."


"Ga papa. Aku temani kamu di rumah."


"Jangan ngada ngada. Aku nggak papa. Kamu kerja aja. orang di rumah kan juga banyak. Kamu nggak usah Khawatir."


"Yasudah nanti kalo ada apa apa kabari aku ya."


"Iya. Kamu cepetan dong. Kasihan anak anak nunggu sarapan."


"Sebentar. Aku skincare wajah dulu."


"Halah ribet kamu dad."


"Biar tetep muda dan tampan biar kamu nggak lirik kemana mana."


"Apaan sih. Siapa yang lirik lirik?"


"Kamu."


"Enggak ya."


"Iya Iya. Aku tau kamu setia."


"Jangan peluk peluk. Jangan banyak tingkah kamu. Bikin lama aja."


"Iya sebentar lagi kelar kok."


Mereka sudah duduk di ruang makan untuk sarapan.


"Aku suapi By."


"Sama Ved."


"Sama Veer Mom."

__ADS_1


"Sama Van aja Mom."


"Nggak. Makan sendiri aja. Kan yang sakit tangan kiri. Tangan kanan kan bisa."


"Pokoknya aku suapi." Kata Mario mulai menyuapi Istrinya. Mau tidak mau Val hanya bisa menurut.


"Kamu baik baik di rumah. Jangan aneh aneh." Nasihat Mario pada istrinya sebelum berangkat kerja.


"Iya."


"Yaudah Aku berangkat dulu."Mario mencium kening istrinya.


"Hati hati ya."


"Iya Sayang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Val menunggu sampai mobil keluar gerbang. Ia baru masuk setelahnya.


Mario sampai di kantor langsung menuju ruangannya. Ia mengecek berkas berkas yang sudah bertumpuk di meja. Suara ketukan pintu tak mengganggu konsentrasi pria tersebut.


"Masuk." Katanya diiringi pintu yang terbuka dan sosok pria masuk.


"Permisi Tuan. Ini coklat pesanan Tuan."


"Ah iya. Taro di meja."


"Baik Tuan. Saya permisi."


"Ya."


Mario memang sengaja memesan coklat untuk istrinya. Ia tau Val sangat suka makanan manis itu.


Pria itu baru saja keluar dari ruangan meeting. Ia bergegas keluar untuk segera pulang menemui istrinya sambil membawa beberapa paper bag besar berisi coklat mahal untuk sang istri dan anak anaknya.


"Silahkan Tuan." Supir membukakan pintu mobil untuk Mario.


Dalam perjalanan pulang Mario menghubungi istrinya namun tidak diangkat. Sedari tadi sudah berkali kali mencoba namun hasilnya tetap sama. Mario kemudian mengecek CCTV di rumah. Ia menggelengkan kepalanya melihat sang istri tengah asik bermain dengan para kucing dan ketiga anaknya. "Diabaikan." kesal Mario karena istrinya sedang bersama hewan berbulu itu.


"Makan terus. Daritadi makan nggak kelar kelar." Kata Val mengelus kucing gembul milik Veer.


"Lihat Mom. Nyaman banget Bruno tidur di pangkuan aku."


"Enggak berat ya?"


"Berat. Kucing Ved kan paling besar."


"Kucing kucing ini mahal ya Mom?"


"Assalamualaikum." Mario menghampiri istri dan anak anaknya.


"Waalaikumsalam."


"Pantesan di telpon nggak diangkat. Lagi sibuk ternyata."


"Maaf Dad. Ada apa?"


"Ini untuk kamu. Dan ini untuk kalian bertiga." Kata Mario memberikan paper bag untuk istri dan anak anaknya.


"Makasih Dad."


"Sama sama."


"Makasih ya Dad."


"Bilang makasih begitu. Cium."


"Iya." Val mencium pipi Suaminya. Merasa ada kesempatan Mario menarik istrinya dan mencium bibir Val dengan rakus.


"Hah. Kalo anak anak liat gimana?"


"Ya biarin."


"Eh kalian jangan langsung makan. Cuci tangan dulu. Tadi habis mainan kucing."


"Iya Mom."


"Mom kucingnya ikut kita terus."


"Biarin. Mereka memang begitu."


"Ke kamar yuk."


"Kamu aja. Aku mau disini."


"Ayo. Nanti balik kesini lagi."


"Iya."


"Kamu sudah makan?"


"Belum."

__ADS_1


"Nanti kita makan sama sama."


"Kamu aja Dad. Aku mau makan ini."


"Kalo kamu nggak makan nggak boleh makan Ini. Aku ambil lagi."


"Ih kok gitu."


"Makannya makan."


"Iya iya." Kata Val sambil cemberut.


Selesai mandi dan sholat Mario makan sambil menyuapi istrinya. Mereka makan sepiring berdua.


"Jangan pakai brokoli. Kamu aja yang makan sayurnya."


"Gimana sih. Ini sehat lo."


"Aku nggak mau."


"Yaudah aku ganti."


"By."


"Hm."


"Kamu cinta nggak sama aku."


"Cinta." Balasnya cepat sambil mengunyah makanannya.


"Beneran?"


"Ya."


"Kamu jawabnya kok nggak serius begitu."


"La harus bagaimana?"


"Yang serius gitu lo."


"Ini juga serius."


"Kamu serius sama enggak ga ada bedanya."


"Ini serius Dad."


"Buktiin kalo kamu cinta sama aku."


"Gimana caranya. Aku setia sama kamu sampai sekarang udah jadi bukti."


"Bukti yang lain."


"Apa?"


"Makan brokolinya." Kata Mario agar istrinya mau makan sayur.


"Nggak ah."


"Oh. Berati kamu nggak cinta sama aku."


"Kenapa harus gini sih?"


"Udah makan aja. Sekali ini aja."


"Ya. Satu aja."


"Iya." Mario mulai menyuapi istrinya brokoli.


"Kunyah By." Katanya menahan tawa melihat ekspresi sang istri.


Val mengunyahnya pelan sambil menahan rasa tidak enak di dalam mulutnya. Ia cepat cepat menelan.


"Minta air." Katanya sambil berkaca kaca.


"Iya." Dengan cepat Mario membatu istrinya minum.


"Udah. Maaf ya. Jangan nangis." Panik Mario merasa bersalah karna istrinya mulai meneteskan air mata.


"Nggak enak. Daddy jahat." tangis Val sambil merengek.


"Maaf sayang. Nggak lagi lagi. Maaf ya." Mario memeluk istrinya.


"Mau coklat."


"Iya iya."


"Makan." Mario menyuapi istrinya coklat mahal itu.


"Jangan nangis lagi ya." Mario mengusap air mata Val. Pria itu mencium gemas istrinya beberapa kali. Val begitu imut seperti ini. Mario sangat ingin menggigit pipi wanita di depannya itu.


"My Baby." Mario memeluk istrinya.

__ADS_1


__ADS_2