Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Curhatan Anak Remaja


__ADS_3

Val tengah menemani suaminya bermain golf di lapangan belakang.


"Ayo aku ajarin By."


"Nggak usah. Kamu aja." Kata Val sambil memainkan ponselnya. Mario kesal karena istrinya sibuk sendiri. Ia langsung menghampiri dan merebut ponsel Sang Istri.


"Ih. Dad."


"Kamu lagi ngapain? Aku kan minta temenin bukan kamu cuekin kaya gini."


"Aku lagi balas chat Ladit."


"Kalo sama aku jangan pegang HP."


"Dad kok gitu."


"Aku nggak mau kamu cuekin."


"Iya iya."


Mario duduk kemudian memeluk istrinya.


"Ayo aku ajarin."


"Iya." Val berdiri di ikuti suaminya. Pria itu memegang kedua tangan Val yang sudah siap dengan stick golfnya.


"Ayunin pelan. Tangan kamu lemes aja."


"Iya." Val mengayunkan stick golfnya dibantu sang suami.


"Bagus."


"Coba kamu madep sini."


"Madep apa?"


"Hadap sini."


"Kena...."


"Cup." Mario tiba tiba mencium bibir Val sebelum wanita itu menyelesaikan pertanyaannya.


"Ih Daddy apaan sih. Bikin kaget aja."


"Maaf. Maaf." Kata Mario sambil tertawa dengan keterkejutan istrinya.


"Cari apa dek?" Tanya Ved pada adiknya.


"Kakak lihat kucing aku?"


"Enggak. Paling juga di halaman belakang."


"Nggak. Tadi Van sudah cari kesana tapi nggak ada."


"Yaudah kakak bantu cari."


"Iya."


"Kalian cari apa?" Val dan Mario menghampiri keduanya.


"Mom tau kucing Van?"


"Nggak tau. Van sudah cari di belakang?"


"Sudah Mom."


"Tadi keluar."


"Keluar kemana Dad?"


"Keluar gerbang. Main ke rumah sebelah kali. Bosen di rumah terus. Kucing kakak kamu kan udah mati. Jadi nggak ada temen."


"Ih kok Daddy biarin."


"La terus Daddy harus apa?"


"Jangan biarin kucing Van keluar dong." Gadis itu langsung pergi diikuti kakaknya.


"Van." Veer menghampiri Van dan Ved yang baru saja keluar gerbang.


"Kenapa Kak?"


"Kucing kamu mati di dekat taman."


"Kok bisa?" Van langsung menangis mendengar kabar tersebut.


"Nggak tau. Aku juga dikasih tau pak RT."


"Ayo kita lihat."

__ADS_1


"Iya."


Sampai disana Van langsung memeluk kucingnya yang sudah tidak bernyawa.


"Kok kamu mati sih." Katanya sambil membawa kucingnya pulang.


"Jangan di peluk peluk begitu. Kucingnya kotor dek."


"Kakak. Kucing aku matinya kenapa? Nggak ada luka. Mulutnya juga nggak berbusa kaya kucing kakak dulu."


"Mungkin digigit ular berbisa kali. Udah jangan nangis." Keduanya menenangkan sang adik.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Sayang kok nangis? kucingnya kenapa?" Panik Val langsung menghampiri anaknya.


"Mati Mom. Di dekat taman."


"Mom. Kucing Van mati." Tangisnya semakin kencang.


"Sudah jangan nangis lagi. Ikhlaskan sayang."


"Ini semua gara gara Daddy. Coba aja Daddy cegah kucing Van biar nggak keluar. Pasti kucing Van masih hidup. Van kan udah bilang jangan biarin kucing Van keluar. Nanti mati kaya kucing kakak."


"Kamu kok salahin Daddy. Itu kucing kamu. Harusnya kamu yang jaga dong. Pake salahin Daddy segala." Kata Mario membela diri.


"Sudah. Minta pak Bon buat kuburin di belakang ya."


"Iya Mom. Temenin Van."


"Iya ayo."


"Gitu aja minta temenin."


"Dad." Geram Val melihat tingkah suaminya.


Val membungkus kucing Van dengan kain.


"Lubangnya sudah siap Nyonya."


"Iya. Makasih ya pak."


"Sama sama Nyonya."


"Sudah jangan nangis lagi." Val memeluk untuk menenangkan anaknya.


"Jangan begitu sayang. Semuanya Kehendak Allah. Mungkin umur kucing Van memang sampai hari ini saja."


"Dengerin tuh. Pake nyalahin orang segala. Dasar." Kata Mario puas karena merasa dibela istrinya.


"Dad. Beli iguana dong."


"Nggak sekalian macan, singa atau badak. Kalian aneh aneh aja. Daddy nggak mau."


"Yah..." Keluh keduanya.


"Kenapa pengen pelihara iguana?"


"Teman kita ada yang pelihara Mom."


"Bahaya nggak sih?"


"Nggak tau juga Mom."


"Hm. Yaudah ayo masuk. Mau hujan kayanya."


"Iya Mom." Jawab mereka patuh.


"By. Ayo tidur siang." Mario menghampiri istrinya yang sedang menemani anak anak.


"Aku nggak ngantuk. Kamu kalo ngantuk tidur aja."


"Temenin."


"Aku nggak ngantuk Dad." Mario duduk di dekat istrinya.


"Van mau kucing lagi?" Tanya Van melihat anak gadisnya masih bersedih.


"Nggak Mom. Van takut nanti kucing Van mati lagi."


"Yasudah. Jangan sedih. Van harus ikhlas."


"Iya Mom."


"Van mau apa biar nggak sedih lagi?"


"Van mau bubur sum sum boleh?"


"Banyak maunya. Dasar modus."

__ADS_1


"Dad." Tegur Val pada suaminya.


"Iya Mom bikinin. Van mau sekarang?"


"Nanti sore saja Mom. Van masih kenyang."


"Yasudah."


"Kak balikin Hp aku." Veer mengejar kakaknya.


"Kalian kenapa sih ribut ribut."


"Kakak ambil HP aku Dad."


"Balikin Ved. Jangan godain adik kamu."


"Ini." Ved mengembalikan HP adiknya.


"Mom. Ved sama Veer mau cerita."


"Mau cerita apa?"


"Kita bertiga aja. Daddy sama Van pergi dulu."


"Kalian ngusir Daddy?"


"Iya. Kita maunya ngomong sama Mom aja."


"Memangnya mau ngomong apa sih?"


"Ini rahasia Mom." Kata keduanya menarik tangan Val untuk menjauh dari sana karena Van dan Daddynya tak mau pindah.


Ketiganya tengah duduk bersama di tempat yang agak jauh. Mario dan Van hanya bisa mengamati mereka tanpa mendengar apa yang sedang dibahas.


"Jadi mau ngomong apa?"


"Begini Mom. Ved sama Veer diajak pacaran sama cewek." Kata mereka membuat Val tersenyum. Val tak menyangka bahwa Ia menjadi Ibu dari anak anak yang sudah remaja. Senang rasanya anak anaknya bisa terbuka seperti ini.


"Masa cewek nyatain perasaan duluan?"


"Iya Mom. Mereka adik kelas kita. Sebenarnya banyak yang begitu juga. Tapi yang kali ini susah banget buat dibilangin. Mereka terus gangguin kita. Deket Deket mulu. Aku sama kak Ved kan jadi risih Mom."


"Kalian menolaknya bagaimana?"


"Ya kita bilang kalo ga suka begitu. Tapi mereka tetep deketin kita terus. Gimana caranya biar mereka nggak gangguin kita Mom. Apa perlu di maki maki?"


"Eh. Ya jangan dong. Mom nggak pernah ajarin kalian begitu. Pakai cara yang halus."


"Gimana Mom?"


"Begini. Ajak mereka duduk berempat. Bilang sama mereka secara baik baik. 'Maaf ya aku pengen fokus belajar. Aku nggak mau pacaran. Kata Mom pacaran itu dosa. Tolong ngerti ya. Jangan seperti ini. Kita bisa jadi teman kok. Tapi yang wajar saja. Perempuan dan laki laki harus menjaga batasan. Apalagi kita sudah sama sama balig.' Begitu kalian ngomongnya."


"Ok Mom. Besok kita coba."


"Makasih ya Mom."


"Sama sama sayang." Val membalas pelukan anak kembarnya.


"Mereka ngomong apa?" Tanya Mario membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Ved sama Veer diajakin adik kelasnya pacaran. Mereka tanya caranya nolak gimana. Soalnya udah di tolak tetep aja masih di deketin."


"Alah ngomong gitu aja ribet ngumpet ngumpet."


"Mereka malu kali Dad."


"Hm. Terus kamu kasih sarannya gimana?"


"Ya tolaknya secara halus. Ngomong baik baik begitu."


"Oh. Dulu kamu juga berkali kali nolak aku kan ya?" Kata Mario bernostalgia mengingat pahitnya masa masa saat ditolak sang istri.


"Kamu inget nggak aku udah lamar berkali kali pakai segala cara kamu tolak juga. Aku sampai frustasi dan larinya ke alkohol."


"Ingat. Aku kan belum mau nikah. Kamu paksa terus."


"Maaf. Dulu aku terlalu memaksa kamu. Tapi kalo nggak begitu sampai sekarang mungkin yang jadi suami kamu bukan aku."


"Iya mungkin. Mungkin aku nikahnya di umur 20 an dan bukan sama kamu."


"Sama siapa?"


"Ya nggak tau."


"Udah aku bilang kan. Kalo kamu hanya milik aku. Semua yang aku lakukan sebagai bentuk usaha agar takdir berpihak untuk mempersatukan kita."


"Dan akhirnya...."


"Akhirnya kamu jadi istri aku. Aku sangat bersyukur By. Hidup dan menua bersamamu seperti yang aku impikan terwujud. Semuanya berjalan sempurna. Alhamdulillah." Mario memeluk perut rata istrinya.

__ADS_1


__ADS_2