
Van mengintip keluar kamar.
"Bibi." Panggilnya pada pelayan yang sedang lewat.
"Iya Non."
"Tolong panggilkan Mom ya."
"Ok. Non."
"Makasih Bi."
"Sama sama Non." Wanita itu langsung bergegas untuk mencari Val.
"Masuk deh. Panas ini lo." Kata Mario melihat istrinya masih sibuk menyiram tanaman.
"Nanti."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kalian dari mana keringetan begitu?"
"Kita habis futsal di lapangan komplek Mom."
"Oh. Kalian keluar kok nggak bilang."
"Tadi sudah pamit sama Daddy. Mau pamit sama Mom kata Daddy Mom masih mandi. Emang Daddy nggak bilang ke Mommy?"
"Enggak."
"Dad."
"Lupa." Jawabnya dengan malas.
"Yasudah. Kalian mandi ya."
"Iya Mom. Kita masuk dulu."
"Iya."
"By. Ayo masuk."
"Nanti dulu. Masih kurang sedikit. Kasihan dong kalo nggak di siram juga."
"Suruh pak Bon itu lo."
"Nggak mau."
"Nyonya." Seorang pelayan menghampiri Val.
"Ada apa Bi?"
"Nyonya di suruh ke kamar Non Van."
"Van kenapa?"
"Tidak tau Nyonya."
"Baiklah. Aku kesana dulu Bi."
"Iya Nyonya."
Val mengabaikan suaminya langsung masuk ke dalam.
"Suami sendiri di cuekin." Gerutu Mario langsung menyusul istrinya.
Sampai di depan kamar, Val hendak masuk namun pintu sudah di dibuka dari dalam.
"Mom."
"Ada apa Sayang?"
"Van mau ngomong."
"Iya."
"Kenapa kamu sembunyi begitu? Buka pintunya."
"Aku maunya sama Mom. Daddy nggak boleh ikut."
"Daddy ikut."
"Nggak boleh."
"Boleh."
"Dad. Udah deh. Kamu ngalah kenapa sih. Ayo. Mom masuk ya."
"Iya Mom."
"Kamu jangan ikut Dad." Kata Val langsung menutup dan mengunci pintunya.
Van memegang tangan Mommynya.
"Ada apa sayang?"
"Mom. Van keluar darah waktu pipis tadi." Katanya sambil menunduk.
"Van sudah balig. Itu namanya haid Sayang. Semua wanita pasti mengalami." Kata Val tersenyum sambil mengelus kepala anak gadisnya.
"Darahnya keluar terus. Celana Van kotor."
__ADS_1
"Iya. Kamu ganti dulu ya. Mom ambilkan pembalut."
"Iya Mom."
Val mengajari anaknya cara memakai pembalut dengan telaten.
"Van nggak boleh sholat ya Mom?"
"Iya. Nanti kalau sudah selesai haidnya baru boleh sholat lagi. Dengan catatan Van sudah mandi wajib untuk mensucikan diri."
"Iya. Dulu Mom pernah ajari Van cara dan niatnya."
"Van masih ingat?"
"Masih Mom."
"Bagus."
"Mom. Perut Van sakit."
"Ah. Itu biasa sayang. Kamu tunggu sebentar ya. Mom ambilkan air hangat dan obat."
"Iya Mom."
"By." Mario langsung memeluk Istrinya yang sedang sibuk di dapur.
"Hm."
"Ayo tidur siang."
"Nanti dulu. Aku mau ke kamar Van lagi."
"Kamu sama dia mulu."
"Kamu tunggu di kamar. Nanti aku susulin kalo udah selesai."
"Jangan lama lama."
"Iya. Ngalah dikit sama anak kenapa sih." Kata Val sambil berjalan pergi.
Wanita itu kembali lagi ke kamar anak gadisnya. Ia menghampiri Van yang berbaring di ranjang.
"Minum dulu sayang."
"Ini apa Mom?"
"Ini minuman biar nyeri di perut kamu hilang. Herbal kok. Rasanya enak. Diminum ya."
"Iya Mom."
Val menyeka perut Van dengan kantung yang berisi air hangat sembari gadis itu minum obatnya.
"Sudah enakan Mom. Makasih ya."
"Iya Mom." Val mengecup kening anaknya sebelum pergi.
"Kamu lama By." Mario menghampiri istrinya yang baru masuk dan membawa wanita itu ke ranjang.
"Perut Van sakit."
"Aku nggak boleh masuk tadi gegara dia sakit perut?" Tanya Mario sambil melepas jilbab istrinya.
"Bukan. Van lagi haid. Dia malu dong kalo kamu ikut masuk juga."
"Oh. Haid. Dah baligh dia."
"Iya. Usianya sudah 12."
"Emang di sekolah nggak pernah diajari begitu. Kok masih panggil kamu."
"Diajari juga namanya baru pertama kali ya masih bingung dong Dad."
"Dulu kamu juga begitu?"
"Tau. Dah lupa."
"Haid itu katanya sakit ya?"
"Iya. Kram di perut. Rasanya nggak nyaman."
"Masih sakit aku di sunat dulu. Masih enakan jadi wanita."
"Wah kamu ngeremehin. Sakitnya wanita itu tiap bulan kalo lagi haid. Laki laki cuma sekali waktu di sunat aja. Belum lagi kalo malam pertama juga sakit. Melahirkan juga sakit." Kata Val tidak terima dengan yang dikatakan suaminya barusan.
"Ah iya iya. Sadar aku. Kamu dulu malam pertama juga sakit ya?" Tanya Mario menggoda istrinya.
"Iya. Apalagi waktu itu aku masih umur 16."
"Aku inget waktu itu. Rasanya puas banget."
"Kamu puas. Aku yang kesakitan."
"Sekarang udah nggak sakit kan?"
"Enggak."
"Kalo gitu ayo." Mario mulai memainkan tangannya dengan nakal di balik gamis sang istri.
"Dad. Tiap hari kamu minta nggak pernah libur lo."
"Itu ibadah. Ayo main siang siang begini."
__ADS_1
"Nggak ah. Aku ngantuk." Val mengubah posisi memunggungi suaminya. Mario tak tinggal diam. Pria itu dengan gencar menggoda istrinya. Ia menggesek gesekkan miliknya di paha sang istri.
"Aku sunat lagi kalo kamu nggak bisa diem." Kata Val kesal. Semalam Ia kurang tidur karena di buat begadang oleh pria menyebalkan yang berstatus sebagai suaminya itu.
"By."
"Nggak." Tegas Val tak peduli dengan Mario yang sudah merengek.
"Yaudah. Nanti malem sampai pagi." Kata Mario membalikkan badan Val tiba tiba dan memeluknya. Pria itu mengecup bibir istrinya beberapa kali kemudian ikut tidur.
"By. Aku kok gatel gatel ya." Keluh Mario sambil menghampiri istrinya.
"Jangan dekat dekat. Nanti aku ketularan lagi."
"Kamu kok tega banget."
"Bercanda. Sini aku kasih obat."
"Iya." Mario langsung duduk di dekat istrinya.
Val mengoleskan salep pada bentol bentol di lengan dan leher pria itu.
"Kamu kena ulat kayanya."
"Dimana?"
"Bukannya tadi kamu di kebun?"
"Iya. Wah harus di semprot lagi biar nggak ada ulatnya."
"Daddy kenapa Mom?"
"Gatel. Kena ulat di kebun kayanya. Kalian jangan kesana ya. Nanti ikutan gatel gatel."
"Yah. Padahal kita mau ambil mangga sama jambu."
"Minta tolong sama pak Bon aja."
"Iya Mom." Kata si kembar.
"Mom itu belum di cuci." Veer memperingati Mommynya.
"Nggak papa. Udah Mom lap pakai tissue."
"Ih Mommy kebiasaan."
"Van perutnya sudah sembuh Sayang?"
"Sudah Mom."
"Kamu sakit perut dek?"
"Iya. Tapi sudah sembuh kok."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Mami sama Papi kesini kok nggak bilang bilang."
"Kita mampir habis dari acara reuni. Ini buat kalian."
"Makasih Oma. Opa." Kata ketiganya senang dibawakan macam macam makanan.
"Sama sama Sayang."
"Aku buatin minum dulu ya Mi."
"Nggak usah. Kita masih kenyang. Belum haus juga."
"Ok."
"Heh mantu. Kenapa tangan sama leher kamu merah merah begitu?"
"Kena ulat mungkin Pi. Mario tadi habis dari kebun langsung gatal gatal."
"Oh. Makannya rutin di semprot biar nggak ada ulatnya. Kalo yang kena anak sama cucu cucu aku kan bahaya."
"Iya Pi. Tapi Mario udah suruh orang semprot secara rutin kok."
"Kalian udah seminggu ini nggak nginep di rumah Mami."
"Kan tiap hari juga kesana Mi."
"Mami bilang nginep Mantu. Bukan main aja."
"Anak anak yang rewel Mi."
"Anak anak atau kamu?" Tanya Papi pada menantunya.
"Ya itu juga sih Pi." Jawab Mario salah tingkah.
"Kenapa? kalo disana malu minta di suapi istri? Nggak bisa manja sama istri?"
"Iya." Jawab Mario membuat Val menahan tawanya.
"Heh. Punya Mantu gini amat. Kamu dengar ya. Mami sama Papi udah anggap kamu anak sendiri. Sama kita biasa aja. Jangan kaya orang mau sidang aja bawaannya tegang. Yang santai gitu lo."
"Iya Pi."
"Dulu aja kamu nggak punya malu. Kenapa sekarang malu malu gini sih?"
"Dulu nggak punya malu Pi. Sekarang udah beli entah darimana." Jawab Val sambil tertawa melihat tingkah suaminya yang seketika ciut di depan mertua.
__ADS_1
"Seneng kamu?" Gumam Mario yang masih dapat di dengar oleh istrinya.