
Val mengerjapkan matanya Ia melihat sang suami masih memeluknya erat. Badannya sakit semua.
"Tidurlah. Kamu pasti lelah." Kata Mario membenarkan selimut istrinya.
"Maaf." Katanya lagi menatap manik mata Val dalam dalam.
"Aku mau mandi."
"Iya. Aku bantu." Mario menggendong istrinya ke kamar mandi.
Val sudah berganti pakaian dengan gamis dan jilbabnya. Untung saja sekarang Ia berhijab. Jika tidak, memar memar yang ada di badannya pasti akan terlihat. Mario mengajak istrinya untuk ke kamar sebelah karena kamarnya akan di bersihkan. Val belum bertemu anak anaknya. Mereka sudah berangkat ke sekolah sebelum Val bangun dari tidurnya. Ia juga tau sekarang banyak pengawal dan pelayan yang mulai bekerja di rumah lagi.
"Makan dulu." Val tidak menjawab hanya menerima suapan dari suaminya. Jujur, Ia takut dengan Mario. Takut dengan kemarahan pria itu. Mario semalam begitu menakutkan. Val tak mau hal serupa terjadi lagi.
"Aku minta maaf." Kata Mario dan Val hanya mengangguk.
"Mulai sekarang. Aku tidak mengizinkanmu kemanapun tanpa aku. Mengerti?"
"Iya." Jawab Val singkat tanpa protes.
"Semua urusan rumah mereka yang akan kerjakan. Kamu tinggal diam saja. Jika aku tau kamu melakukan sesuatu. Aku akan hukum kamu."
"Anak anak. Jika mereka ingin sesuatu?"
"Buatkan jika mereka minta."
"Iya." Jawabnya patuh.
Val merasa sangat pusing. Pandangannya berkunang-kunang dan kemudian pingsan.
"By."
"By Bangun."
Mario yang baru datang mendapati istrinya pingsan langsung memindahkan ke ranjang. Pria itu segera menghubungi dokter.
"Bagaimana?" tanya Mario khawatir.
"Nyonya mengalami demam, kelelahan dan trauma. Nyonya akan siuman sebentar lagi. Tolong obatnya diminum secara rutin ya."
"Baik. Terimakasih."
"Sama sama Tuan. Saya permisi."
"Ya."
Mario membaringkan tubuhnya di ranjang. Ia menghadap Val yang masih belum membuka mata. Ia mengusap memar yang ada di kening istrinya. Mario meneteskan air mata. Ia khilaf. Bukan maksudnya melukai sang istri. Namun Ia hilang kendali. Mario begitu menyesal. Ia memaki dirinya sendiri melihat kondisi Val seperti ini.
"Mommy." Anak anak Val menemani Mommynya yang sedang terbaring lemah.
__ADS_1
"Kalian sudah makan?"
"Sudah Mom."
"Pinter."
"Mommy sakit apa?"
"Mommy hanya demam sayang."
"Kening Mommy kenapa?" Tanya Veer membuat hati Mario teriris.
"Tadi kena pintu." Bohong Val.
"Lain kali hati hati ya Mom. Kita nggak mau Mom terluka lagi. Kalau ada yang berani melukai Mom. Kita akan turun tangan."
Mario hanya bisa diam mendengarkan celotehan anaknya. Bagaimana jika mereka tahu bahwa yang melukai Mommynya adalah Daddy mereka sendiri.
"Dah..Kalian keluar ya. Biarkan Mommy istirahat. Biar cepat sembuh."
"Iya Dad. Jawab mereka patuh."
Mario memeluk istrinya setelah anak anaknya pergi.
"Mau makan By?"
"Minum."
Mario langsung duduk untuk membantu istrinya minum. Val berbaring lagi. Kepalanya masih pusing. Ia juga merasakan dingin di tubuhnya. Mario membenarkan selimut sang istri dan memeluknya agar hangat. Beberapa saat kemudian Val sudah terlelap karena efek obat.
Keadaan Val belum membaik juga sampai malam hari. Malah lebih parah dari sebelumnya. Dokter baru saja pulang selesai memasang infus untuk Val.
"Makan dulu. Kamu belum makan."
"Perut aku nggak enak."
"Sedikit aja."
"Enggak mau. Perut aku nggak enak."
"Yasudah. Kamu istirahat lagi aja."
"Iya." Val membaringkan tubuhnya kembali.
Tiga hari Val sakit dan kini keadaannya sudah pulih. Namun badannya sekarang lebih kurus. Ia tak berselera untuk makan meskipun sudah di paksa oleh suami dan anak anaknya. Kini Ia di rumah saja. Tidak keluar kemanapun baik untuk menjemput anak anak maupun berbelanja. Suaminya melarang Val. Bahkan kemarin Mario menambah beberapa penjaga di rumah untuk menjaganya agar tidak keluar. Val hanya menyibukkan diri dengan membaca dan mengurus anak anaknya. Untuk sekedar masak saja Val tidak diperbolehkan oleh Mario. Ia akan masak ketika anaknya meminta dibuatkan cemilan atau dessert saja. Sikap suaminya semakin hari semakin over protective. Val merasa terkekang namun tak bisa kemana mana. Mario mengancam dengan menggunakan anak anaknya.
"By." Mario memeluk istrinya yang sedang membersihkan wajah di depan meja rias.
"Sudah pulang?"
__ADS_1
"Sudah." Val melepaskan pelukan suaminya kemudian duduk di sofa.
"Kenapa di lepas?" Tanya Mario ikut duduk di samping istrinya.
"Aku pengen duduk disini."
"Oh." Kata Mario merebahkan kepalanya di pangkuan Val.
"Minta elus." Val tak menjawab langsung melaksanakan apa yang diperintahkan suaminya. Ia mengelus kepala suaminya dengan lembut.
"Aku mau tanya sesuatu."
"Apa By?"
"Sudah berapa orang yang kamu bunuh?"
"Kenapa tanya begitu?"
"Hanya ingin tau. Aku ingin kamu jujur."
"Aku tidak pernah membunuh orang?"
"Lantas?"
"Aku menyiksa dan membuangnya."
"Kenapa?"
"Karena mereka pantas mendapatkannya. Mereka yang berani macam macam denganku akan seperti itu. Tapi sudah aku jamin. Dengan luka yang mereka dapat hanya sekian persen kesempatannya untuk hidup. Sangat tipis."
"Apakah menyakiti orang membuatmu senang?"
Mario mendudukkan diri dan menatap istrinya.
"Ini bukan soal kesenangan. Ini semua adalah harga yang harus mereka bayar karena telah mengusik hidupku."
Mario memeluk Val karena melihat rasa takut di mata istrinya.
"Aku tidak akan menyakiti kamu." Katanya penuh kejujuran.
"Jangan takut."
"Jangan menatapku dengan tatapan seperti itu."
"Aku suamimu."
Mario mengelus punggung istrinya.
"Aku minta maaf. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Kita buka lembaran baru. Kita mulai dari awal lagi ya? Kamu istriku. Kamu segalanya. Jangan takut lagi."
__ADS_1
"Iya."
"Terimakasih By. Terimakasih atas segalanya. Terimakasih mau menerima sisi lainku. Aku mencintaimu." Mario mengecup singkat bibir istrinya dan memeluknya lagi.