
Satu tahun telah berlalu. Keluarga Mario hidup dengan damai. Pria itu kini sudah meninggalkan sisi gelap dalam hidupnya. Ia juga tidak lagi minum minuman haram lagi. Kehidupannya lebih agamis berkat dorongan sang istri. Mario dan kedua anaknya rajin sholat lima waktu dan menjalankan ibadah wajib hingga sunah dengan tekun. Val mendidik anaknya dengan baik. Mereka dibekali ilmu agama dan sopan santun sejak dini. Meskipun masih menuruni sikap arogan dari sang Daddy, namun Ved dan Veer bisa berubah perlahan lahan dengan bimbingan Val. Sikap posessive ketiganya yang sulit diatasi oleh Val. Hanya untuk sekedar keluar sebentar saja. Ketiga prianya itu akan selalu menemani. Untuk makan tetap sama. Mereka akan mengatur makanan yang sehat untuk Val.
"Assalamualaikum." Ketiganya terbiasa mengucapkan salam ketika akan masuk dan keluar rumah.
"Waalaikumsalam." Jawab Val sambil menggendong bayi mungilnya yang masih berusia dua bulan. Bayi cantik itu diberi nama Vanessa Xavia Albert. Begitu cantik mirip Mommynya.
Val mencium tangan suaminya. Ved dan Veer mencium tangan Ibunya sambil mengecup pipi Val bergantian.
"Wah. Anak Mommy bangun ya. Mau lihat Daddy sama Kakak ya."
"Iya." jawab Veer menirukan suara bayi.
"Kita Habis sholat Jumat sayang." Mario mengelus lembut pipi anak perempuannya.
"Ganti baju dulu gih. Mommy sudah siapkan."
"Iya Mom."
"Kita ganti dulu ya. Jangan tidur lagi. Kita main nanti." Kata Ved sebelum pergi menyusul Veer.
"Kamu juga ganti Dad."
"Iya Sayangku." Mario mengecup pipi istrinya dengan gemas lalu bergegas pergi ke kamar.
Mario memeluk istrinya. Mereka tengah tidur siang mupung Van sedang tidur juga.
"Makasih By." Mario mengecup bibir istrinya.
"Makasih atas semuanya. Berkat kamu aku berubah. Makasih sudah menjadi istri dan Mommy yang terbaik untuk aku dan anak anak. Makasih telah membimbing aku ke jalan yang benar. Memberikan bekal anak anak agama yang belum bisa aku berikan sebagai seorang imam. Berkat didikan kamu mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik. Sekali lagi terimakasih cintaku. Kamu segalanya bagiku. Aku mencintaimu hari ini, esok dan selamanya. Hanya kamu yang ada di hati aku. Hanya kamu wanita pertama, satu satunya, untuk aku selamanya."
"Aku juga terimakasih sama Dad karena sudah mau berubah dan berusaha untuk menjadi lebih baik. Makasih selalu ada untuk aku dan anak anak. Makasih sudah menjadi suami terbaik. Suami siaga yang selalu melindungi keluarganya. Makasih atas segalanya yang Daddy berikan bagi kami."
"Itu sudah kewajibanku By. Sekarang tidur ya. Kamu pasti capek jagain Van terus."
"Iya." Mario mengecup kening istrinya dan membawa wanita itu dalam dekapannya.
Sore hari Mario dan Val tengah mengawasi si kembar yang sedang bermain basket di lapangan belakang. Val juga mengajak anak perempuannya. Gadis kecil itu tertidur pulas di gendongan Mommynya.
"Anak Daddy kok mirip Mommynya semua."
__ADS_1
"Iyalah Dad?" Tanya Ved yang baru datang diikuti Veer di belakangnya.
"Iya. Kalian nggak sadar ya?"
"Sadar Dad. Kata teman teman juga begitu. Mata kita, hidung dan bibir mirip Mommy semua. Satu ada yang mirip Daddy."
"Apa?"
"Alis."
"Masa?"
"Iya Dad. Semua anak kita alisnya seperti kamu."
"Baru tau aku."
"Kalian habis mandi main basket keringat lagi."
"Nanti mandi Mom."
"Ini minum dulu." Val menyerahkan dua botol minum untuk anak anaknya.
"Sama sama sayang. Minumnya sambil duduk."
"Iya Mom." mereka duduk di bangku yang berhadapan dengan Val sambil minum.
"Sini Mommy lap keringatnya." Mereka mendekat dan Val mengelap keringat keduanya bergantian.
"Mom yang urus perusahaan Opa nanti siapa?"
"Daddy. Mommy nggak boleh kerja."
"Iya Mom?"
"Iya. Daddy nggak kasih izin Mommy buat kerja."
"Yang kerja nanti Daddy. Tapi uangnya nanti masuk ke rekening Mommy."
"Gapapa Dad. Harta Dad kan harta Mom semua. Kemarin Daddy bilang sudah alihkan semua harta Daddy ke Mommy."
__ADS_1
"Dad?" Tanya Val terkejut.
"Iya By. Kemari aku minta ke pengacara aku buat alihkan semua harta atas nama kamu."
"Kok gitu?"
"Itu semua adalah bukti kalo aku cinta sama kamu."
"Tapi nggak gitu juga Dad. Kamu mau apa apa kok nggak bilang bilang."
"Maaf. Aku cuman mau semua harta di pegang kamu."
"Dad."
"Terima ya. Biar aku seneng." Mario menetap istrinya dengan tulus.
"Baiklah."
"makasih By."
"Stop. Jangan peluk nanti Van kebangun." Kata Val melihat Mario hendak memeluknya.
"Iya." Pria itu mengecup pipi istrinya sebagai ganti.
"Kita juga mau." Ved dan Veer ikut mengecup pipi sang Mommy.
Mario memeluk istrinya yang mengamati pemandangan malam di balkon kamar.
Ia sangat bersyukur dengan kehidupannya yang sempurna. Istri yang di paksa untuk menikah dulu kini sudah membalas cintanya dengan tulus. Tiga anak cukup menjadi bukti cinta sang istri padanya.
"Dad." Val berbalik dan memeluk suaminya.
"Aku mencintaimu By."
"Aku juga mencintai Daddy." Mario menangkup wajah istrinya. Ia menatap mata Val dalam dalam.
"Katakan lagi."
"Aku mencintaimu Daddy." Mario menelisik tatapan istrinya. Begitu jujur tanpa keraguan sedikitpun dalam ucapannya.
__ADS_1
"Aku lebih mencintaimu dari apapun." Mario mencium bibir istrinya dengan rakus. Pria itu segera membawa istrinya ke dalam dan menutup jendela serta gorden yang masih terbuka. Ia melakukan kegiatan yang bisa membuatnya ingin lagi dan lagi. Mario mendekap hangat tubuh istrinya yang tertidur pulas karena kelelahan. "Istriku, Kesayanganku." gumam Mario menyusul istrinya untuk menyelami alam mimpi.