
"Mommy." Ved dan Veer memeluk Val yang tengah sibuk menyuapi gadis kecilnya. Vanessa sudah berusia 5 tahun sekarang. Ia juga sudah bersekolah. Vaness tumbuh menjadi anak yang cantik dan lemah lembut dan cerdas seperti kedua kakaknya. Entah menurun dari siapa Val dan Mario pribadinya tidak lemah lembut sama sekali. Namun Val sekarang lebih dewasa dan keibuan. Wanita itu selalu bijak menasehati anaknya dan bersikap adil. Sikapnya yang sabar dalam mendidik membuat anak anaknya patuh tanpa harus diomeli.
"Hayo. Salamnya mana?"
"Assalamualaikum Mom. Van."
"waalaikumsalam." Jawab keduanya.
"Kakak sudah pulang?"
"Iya."
"Daddy belum pulang Mom?"
"Tumben nanyain Daddy."
"Kita ada perlu sama Daddy. Urgent banget."
"Ada apa?"
"Kita mau minta Dad buat bikin kebun. "
"Ada ada aja. Ganti baju dulu. Mom sudah siapkan makan."
"Iya. Mom." Ved dan Veer mengecup pipi Mommynya dan sang adik sebelum pergi.
"Sudah habis makannya. Kamu tidur siang dulu ya sayang."
"Van belum sholat Mom."
"Yasudah. Sholat dulu terus tidur siang."
"Mom temani ya."
"Iya. Ayo."
Val menggendong anaknya.
"Makin berat ya kamu." Val mencubit gemas hidup anaknya membuat Van kegelian.
"Mommy mana?" Tanyanya pada Ved dan Veer yang tengah duduk di ruang tengah.
"Di kamar Van."
"Oh."
"Dad kita mau ngomong."
"Ntar ya. Daddy mau mandi dulu. Gerah."
"Iya deh. Kita tunggu."
Mario bergegas menuju ke kamar putrinya.
"By." Panggil Mario pelan karena Van sudah tertidur pulas. Val dengan perlahan turun dari ranjang menghampiri suaminya.
"Hah?"
"Aku mau mandi. Habis itu makan."
"Emang udah sholat?"
"Udah tadi."
"Yaudah mandi aja. Baju sama makan siang kamu sudah aku siapin."
"Temenin."
"Ya ampun Dad. Kebiasaan deh."
"Ayolah." Mario dengan semangat menarik tangan istrinya.
Val dengan telaten memandikan suaminya. Sekarang wanita itu tengah mengeringkan rambut Mario.
"Dah kering. Katanya mau makan. Makan gih."
__ADS_1
"Ayo."
"Astaga. Kamu itu."
"Ayo dong."
"Iya. Iya. Aku simpen handuknya dulu."
"Ok."
Val menyuapi suami manjanya.
"Dad tadi anak anak nanyain kamu katanya mau ngomong sesuatu."
"Ngomong apa?"
"Nggak tau. Pokoknya masalah kebun atau apa tadi. Lah itu mereka." Kata Val melihat si kembar datang.
"Daddy ditungguin ternyata disini."
"Kan Daddy mau makan."
"Dad." Veer memijat pundak Daddy-nya.
"Ya. Kalo mau sesuatu langsung ngomong aja nggak usah basa basi."
"Tau aja Daddy."
"Dad. Kita bikin kebun di belakang yuk."
"Kebun apa? Tinggal beli kan enak nggak usah tanam."
"Kalo tanam sendiri lebih enak Dad. Kita bikin kebun buah. Mommy juga pengen. Iya kan Mom?" Kata Ved sambil memberi kode ke Mommynya.
"Hah?"
"Emang kamu pengen By?"
"Ya gimana anak anak aja."
"Nanti Daddy suruh orang buat taman."
"Makasih Dad. Kita nanti juga bantu tanam kok."
"Hm. Sama sama. Ngomong ngomong kalian lagi nganggur kan?"
"Iya Dad."
"Kalian pergi ke tempat jual benih yang ada di dekat restoran Mommy. Terus beli sesuka kalian. Suruh antar kesini."
"Sama Mommy deh. Biar Mommy bisa pilih juga."
"Mommy di rumah. Kalian sama pak supir."
"Uangnya?"
"Nanti biar Daddy transfer ke penjualnya. Daddy udah kenal."
"Ok. Kita berangkat dulu. assalamualaikum."
"waalaikumsalam."
"Ada ada aja." Gumam Val melihat kepergian dua anak berusia 10 tahun itu.
Sore hari truk truk memindahkan tanaman ke halaman belakang. Para pekerja langsung bergegas menanam sesuai dengan permintaan Tuan mereka dibantu Ved dan Veer yang ikut menanam juga.
"Istirahat dulu pak. Ini aku bawain minum dan makanan."
"Iya Nyonya." jawab mereka langsung bergabung dengan Val untuk duduk bersama di tikar.
"Pasti capek ya?"
"Lumayan Nyonya." Kata Mereka sambil minum.
"Masih kurang banyak?"
__ADS_1
"Sedikit kok Nyonya. Yang kerja kan banyak jadi cepat selesai."
"Oh."
Mario membiarkan istrinya duduk di bawah berbaur dengan mereka. Ia tau kesederhanaan Val hanya bisa menurutinya saja asalkan tidak membahayakan atau menyakiti wanita itu.
"Mommy." Panggil Vaness yang datang dengan salah satu pelayan.
"Eh sayang."
Val langsung memeluk putri kecilnya.
"Tadi Nona muda mencari Nyonya. Saya permisi."
"Iya Bi. Bilang makasih sama Bibi karena sudah diantar."
"Terimakasih Bibi."
"Sama sama Non."
Mario duduk bersama istri dan anak anak melihat kebun yang baru saja selesai pengerjaannya.
"Sudah di siram belum?"
"Sudah Mom. Ini kebun dari kita untuk Nyonya." Kata Vad dan Veer bangga mempersembahkan kebun buah untuk Mommynya.
"Makasih. Kalian memang hebat habiskan uang Daddy." Kata Val membuat si kembar tertawa.
"Adek duduk sendiri. Kakak mau sama Mommy."
"Van mau sama Mommy." Gadis itu malah memeluk Mommynya. Ved dan Veer berpindah duduk mengapit Val hingga memisahkan jarak antara Daddy dan Mommynya.
"Kalian sukanya duduk nyela nyela. Di sana kan masih ada ruang."
"Mau sama Mommy Dad."
"Haish. Bisa bisanya."
"Katanya puasa sebentar lagi ya Mom?"
"Iya."
"Kapan?"
"seminggu lagi. Kalian kalo puasa full Mommy kasih hadiah seperti tahun tahun sebelumnya."
"Van juga Mom?"
"Iya. Van kuat puasa seperti tahun lalu kan?"
"Kuat Mom."
"Pinter."
"Kita kan puasanya full terus Mom."
"Bagus. Mommy bangga sama kalian." Val mengusap dan mengecup kepala ketiga anaknya.
"Oh iya By, tadi Mami telfon katanya kangen."
"Iya? kok nggak langsung telpon ke aku?"
"Kamunya di telpon nggak diangkat."
"Masa sih?"
"Iya."
"Aku nggak lagi pegang Hp mungkin."
"Kita nanti main ke rumah Mami ya Dad."
"Iya. Nginep disana juga boleh. Kasihan kesepian. Anak satu satunya dan pewaris tunggal aku bawa. Tapi malah dapet cucu tiga lagi."
"Apaan sih." Kata Val mencubit lengan suaminya.
__ADS_1