
Mario baru saja pulang dari kantornya. Ia langsung menuju ruang keluarga dimana istrinya berada saat ini.
"By." Katanya mencium Val dengan tiba tiba.
"Kamu sudah pulang."
"Iya."
"Ladit. Kamu ditelpon Papa kamu kok nggak diangkat?"
"Hp Ladit lagi di charge di kamar Om."
"Pantesan."
"Makan siang sama baju ganti kamu sudah aku siapin. Kamu mandi dulu gih."
"Ayo temani."
"Sudah tua. Masa gitu aja minta di temani. Malu Dad." Kata Ved jengah dengan Daddynya yang manja.
"Kamu sendiri dong Dad. Aku mau nonton sama anak anak."
"Ayo dong By." Kata Pria itu mulai merengek manja.
"Yah kumat lagi. Perasaan kemarin kemarin galak." Gerutu Val.
"Ayo kalo gitu."
"Makasih." Mario membantu istrinya untuk berdiri.
Sampai di kamar Val langsung melepaskan dasi dan jas suaminya.
"Dah. Mandi sana."
"Mandiin. Aku lagi males sabunan."
"Yaudah nggak usah mandi."
"Eh...Kamu kok gitu By." Mario mencekal tangan Val yang hendak pergi.
"La iya. Kalo males nggak usah mandi."
"Kan aku minta mandiin."
"Halah...Jagan kata anak kecil deh.."
"Ayo dong."
"Iya. Iya. Cepetan. Aku udah ada janji sama Bibi di dapur."
"Mau ngapain?"
"Mau bikin kue putu sama wajik."
"Makanan apa itu?"
"Enak kok. Aku pernah coba. Yang dikasih Bu Ida waktu itu."
"Nggak tau ah. Makanan mereka aneh semua."
"Mulutnya."
"Biarin. Emang begitu."
"Yaudah. Mandi sendiri sana."
"Eh. Jangan ngambek dong. Ayo mandi."
"Iya iya." Kata Val menuruti suaminya karena begitu risih mendengar Mario merengek.
Selesai mengurus suami manjanya, Val langsung menuju ke dapur. Disana anak anak sudah menunggu. Mereka akan membantu. Val membuat kue.
"Mom."
"Maaf ya kelamaan, Daddy kalian rewel."
"Kata siapa aku rewel." Mario tiba tiba datang ikut bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Kataku tadi."
"Aku bantu By."
"Nggak usah. Malah ribet kalo kamu ikut ikutan bantu."
"Yah. Aku harus ngapain dong?"
"Biasanya kamu tidur siang."
"Iya kalo ada kamu. Kalo kamunya sibuk begini aku nggak kamu temani, mana bisa tidur."
"Yasudah. Kamu duduk disitu saja."
"Iya."
"Bos." Frans datang ikut duduk di samping Mario.
"Papa kaya setan aja tiba tiba muncul."
"Wah. Kurang ajar kamu jadi anak. Papa sendiri di bilang kaya setan. Papa ogah kasih kamu uang jajan."
"Tinggal minta Mom kan bisa."
"Jangan kamu kasih Val."
"Mana tega." Kata Val sambil fokus memasak.
"Mom memang yang terbaik." Ladit memeluk wanita yang tengah sibuk itu.
"Ini pakai ketan ya Bi?"
"Iya Nyonya. Selain pakai ketan, pakai gula aren dan kelapa juga."
"Oh. Kata Bu Ida dia pakai gula merah."
"Kalau pakai gula aren itu lebih enak nyonya."
"Bibi belinya dimana? Bentuknya lucu kecil kecil begini."
"Oh. Ini saya belinya di pasar."
"Iya Nyonya. Jaman sekarang memang serba praktis."
"Iya. Kalo bambu ini buat apa Bi?"
"Itu cetakan untuk kue Putunya Nyonya."
"Oh. Baru tau." Kata Val cukup terkesan.
"Duh, sia sia aku tinggal disini udah belasan tahun tapi nggak paham sama aneka jajanan pasarnya. Gara-gara Daddy tuh."
"Apa By?"
"Kamu. Selalu larang larang aku, makannya aku nggak tau kalo ada makanan enak enak kaya gini."
"Semuanya demi kebaikan kamu. Kalo kamu pengen suruh bikinkan bukan malah beli diluar. Bahaya."
"Bahaya kenapa?"
"Tidak semua pedagang itu jujur Nyonya. Wajar jika Tuan khawatir. Soalnya banyak dari mereka yang menggunakan bahan pengawet, pewarna textil dan bahan berbahaya lainnya."
"Tuh dengerin."
"Iya Mom. Makannya kita larang Mom untuk jajan di luar ya itu sebabnya."
"Ya..Ya.." Val mau tidak mau harus mengalah jika sudah diserang seperti ini.
Kue sudah matang mereka menyantapnya setelah makan malam. Dia antara semuanya Val lah yang paling lahap.
"Enak ya By?"
"Enak banget. Daddy nggak mau lagi?"
"Enggak. Aku makan satu udah eneg."
"Iya. Mom nggak eneg ya?"
__ADS_1
"Enggak. Mom suka." Katanya tiba tiba berhenti. Val dengan cepat berlari menuju kamar mandi. Disana ia memuntahkan seluruh makanan yang barusan masuk ke dalam perutnya.
"By. Kamu kenapa?" Mario mengusap punggung istrinya.
"Nggak tau. Mual."
"Kumur dulu. Aku bawa kamu ke kamar."
Val sudah berbaring dengan wajahnya yang pucat. Semua orang bernafas lega karena wanita itu hanya masuk angin. Bukan menderita sakit serius atau bahkan hamil seperti yang ditakutkan mereka.
"Kok bisa begini sih?"
"Kata dokter tadi kan kecapean Dad."
"Kamu sih bandel. Dibilang jangan masak juga masih aja ngeyel. Jadi sakit begini kan." Mario mengomeli istrinya.
"Udah Dad. Iya aku salah udah nggak dengerin kamu. Aku minta maaf."
"Begitu aja terus. Hari ini minta maaf besok diulangi lagi. Bikin orang cemas aja. Aku nggak mau kamu sakit. Kamu ngerti nggak sih."
"Maaf."
"Yasudah. Kamu istirahat aja." Mario membenarkan selimut istrinya agar hangat.
"Kita tidur disini sama Mom ya."
"Nggak. Kalian ke kamar kalian masing masing. Mom butuh istirahat. Kalo kalian tidur disini malah terganggu nanti."
"Tapi Dad..."
"Biar mereka tidur disini kenapa sih Dad."
"Nggak. Mereka udah gede. Masa tidur aja harus sama kamu. Nggak ada. Lagian kalo mereka disini bukannya tidur tapi malah mengoceh mulu. Udah. Biarin Mom Istirahat. Kalian keluar."
"Baiklah, Daddy menang kali ini. Kita ngalah."
"Cepat sembuh Mom." Mereka mencium Val bergantian.
"Terimakasih Sayang. Kalian tidur ya. Jangan tidur kemalaman."
"Iya Mom." Jawab mereka kemudian meninggalkan kamar.
Mario tidur sambil memeluk istrinya dengan erat agar tubuh Val merasa hangat.
"Masih mual Sayang?"
"Sudah berkurang. Perut aku nggak enak."
"Apa gara gara makanan tadi?"
"Bukan. Kata dokter kan kecapean."
"Tapi aku juga curiga sama makanan itu. Kamu kayanya nggak cocok makan makanan tadi. Itu sebabnya kamu seperti ini."
"Bukan Dad."
"Pokonya kamu nggak boleh makan macam macam lagi. Mulai sekarang aku harus kontrol terus semua yang masuk ke perut kamu."
"Ih Dad kok gitu."
"Biarin. Badan kamu kurus nanti kalo kamu sering sakit begini."
"Daddy nggak ganti baju?" Tanya Val mengalihkan pembicaraan.
"Nggak. Aku mau telanjang aja."Mario mulai melepas kaosnya. Pria itu hendak melepas celana namun dicegah oleh sang istri.
"Kamu nanti masuk angin."
"Biasanya kan juga begini."
"Cuaca dingin. Sekarang kan lagi musim hujan juga. Kamu masuk angin nanti. Bajunya pake lagi."
"Nggak ah. Tidur sambil meluk kamu kan anget." Pria itu memeluk Val lagi lebih erat dari sebelumnya.
"Dad. Kalo kamu begini aku nggak bisa napas."
"Iya. Maaf." Kata Pria itu melonggarkan pelukannya.
__ADS_1
"Sekarang kamu tidur ya Sayang."
"Iya." Marion mengecupi wajah istrinya sebagai ritual sebelum tidur yang wajib Ia lakukan.