
Papi dan Mami Val sudah mengizinkan anak, menantu dan cucu cucunya untuk pulang hari ini. Tidak muda, mereka harus menyelesaikan segala kesepakatan yang di buat oleh Papi Val.
"Lega." Kata Mario merebahkan diri di ranjang yang begitu Ia rindukan. Tinggal dengan mertua bukan perkara yang mudah. Ia harus menjaga tingkah lakunya. Tidak seperti di rumah sendiri yang dengan bebas melakukan apapun.
"By." Mario mendudukkan diri melihat istrinya baru kembali dari kamar anak anak.
"Hm." Pria itu langsung memeluk sang istri dan mengajaknya duduk di sofa. Mario membawa kaki Val di pangkuannya. Ia mulai memijit kaki Val dengan nyaman.
"Ga usah di pijit. Aku nggak papa."
"Diam. Kalo disini kamu nggak bisa melawan." Katanya dengan bangga karena tidak ada kedua mertuanya yang akan membela sang istri.
"Udah ah Dad. Aku mau istirahat."
"Yaudah istirahat aja. Aku pijitin."
"Awas ah."
"Nggak boleh."
"Aku ngantuk."
"Yaudah. Ayo pindah ke ranjang." Mario menggendong istrinya dan meletakkan di ranjang dengan hati hati.
"Udah. Diem aja kamu. Jangan pijitin aku lagi. Aku mau tidur."
"Iya Iya. Tidurlah By." Mario ikut berbaring dan memeluk istrinya.
"Jilbab kamu nggak di lepas dulu?"
"Ah iya lupa."
"Sini aku bantu."
Mario mengelus lembut kepala sang istri. Ia juga mengecup bibir Val beberapa kali.
Beberapa menit kemudian Val sudah tertidur dengan pulas. Ini adalah efek obat yang Ia minum sehabis makan siang tadi. Mario memandangi wajah istrinya. Rasa bersalah itu terus muncul. Ia rasanya ingin mati saja karena gara gara dia istrinya harus cacat seumur hidup. Paru paru Val terluka karena insiden itu. Tak mungkin bisa membuatnya hidup normal kembali dengan kondisi yang seperti ini.
Mario menangis dalam diam. Wanita tak bersalah itu harus menanggung dosa yang Ia perbuat selama ini. "Maafkan aku." Katanya sudah ribuan kali namun belum bisa menghapus rasa bersalah pada dirinya. Kadang Mario berfikir. Apakah dia bukan jodoh istrinya? Ia pernah mendengar dari sang istri jika jodoh itu cerminan diri. 'Laki laki baik untuk wanita baik, dan wanita baik untuk laki laki yang baik pula' begitu kata Val dulu. Jika istrinya orang baik dan dia bukan orang baik, Apakah bukan jodoh? Apakah Mario terlalu memaksakan kehendaknya? Mario akui jika memang Ia terlalu memaksakan. Dia telah mendorong istrinya melakukan pernikahan sepihak seperti ini. Perlahan istrinya menerima dan mereka hidup bersama sampai sekarang. Kadang Mario merasa sangat jahat kepada Val. Namun bagaimana lagi, cinta membutakan hati dan pikirannya.
Mario menggandeng tangan istrinya. Val minta untuk jalan jalan di taman belakang. Dua bulan tinggal di rumah Papinya membuat wanita itu begitu rindu dengan taman belakang mansion. Ternyata masih sama, rapi dan juga indah. Suaminya tak akan membiarkan Mansion dan semua yang ada disini tak terawat. Pria itu akan memerintahkan tukang kebun di rumahnya untuk menjaga secara ekstra.
"Mom. Buahnya banyak."
"Iyakah?"
"Iya. Ayo petik Mom."
"Ayo."
"Hati hati.", tegur Mario pada istrinya yang berjalan lebih cepat.
"Kamu mau apa By? Biar aku petikkan."
"Apa aja boleh."
"Mom mau jeruk?"
"Boleh."
"Ok. Veer ambilkan." Katanya bersemangat.
"Mom Van petikkan kelengkeng."
__ADS_1
"Terimakasih sayang."
"Mom mau anggur nggak?"
"Boleh. Tapi petiknya jangan yang tinggi tinggi ya."
"Iya Mom." Kata Ved berlalu pergi.
"Capek?"
"Enggak kok Dad. Aku baik baik saja."
"Kalau capek bilang ya. Kit istirahat."
"Iya."
"Mau minum."
"Iya."
Mario membuka botol air mineral yang Ia bawa dan membantu istrinya untuk minum.
"Makasih Dad."
"Sama sama Sayang." Mario tersenyum sambil mengusap bibir istrinya lembut. Pria itu memeluk Val pelan.
"Ada apa?"
"pengen peluk aja. Aku kangen sama kamu."
"Astaga Dad. Setiap hari juga kamu sama aku"
"Iya." Mario melepaskan pelukannya dan mengecup bibir serta kening sang istri.
"Mom coba jeruknya. Manis." Ved menyuapi Mommynya.
"Manis kan?"
"Iya manis."
"Ini apelnya By." Mario menyuapi istrinya.
"Makasih."
"Sama sama Sayang."
"Mom."
"Iya Sayang."
"Van boleh duduk sama Mom?"
"Boleh. Sini sini. Kalian juga sini." Kata Val menyuruh anak anaknya mendekat.
Wanita itu memeluk ketiganya dengan hangat.
"Mom."
"Iya."
"Pakai hijab itu wajib ya?"
"Iya bagi perempuan muslim."
__ADS_1
"Untuk apa Mom?"
"Untuk melindungi diri dan menutup aurat."
"Aurat itu apa Mom?"
"Aurat itu adalah bagian tubuh yang tidak boleh di perlihatkan ke orang lain."
"Berati jika Mommy pakaiannya seperti ini. Aurat perempuan itu seluruh tubuh dong?"
"Iya kecuali wajah dan telapak tangan."
"Tapi kalo sama Daddy sama Opa dan Oma juga sama kita Mom buka jilbab?"
"Karena Daddy suami Mom jadi boleh tidak pakai jilbab. Oma, Opa kan orang tua Mom Jadi boleh juga. Mom boleh tidak pakai jilbab jika di depan mahram."
"Mahram itu apa Mom?"
Mario juga memperhatikan penjelasan dari istrinya. Ia juga perlu belajar banyak mulai sekarang. Mario juga sering bertanya pada istrinya jika ia tidak tau.
"Mahram itu adalah orang yang haram untuk dinikahi."
"Oh. Siapa saja Mom?"
"Ini agak panjang ya. Yang pertama adalah mahram bersifat abadi. Yaitu sampai kapanpun tidak boleh dinikahi.
Yang pertama Mahram karena nasab yaitu Al-Umm, yaitu Ibu kandung dengan anak laki-lakinya adalah mahram. Dan demikian juga seterusnya ke atas seperti antara nenek dengan cucu laki-lakinya.
Al-Bint, yaitu anak wanita dengan ayah kandungnya.
Al-ukht, yaitu saudara kandung wanita kepada saudara laki-lakinya.
`Ammat, yaitu seorang bibi dengan keponakan laki-lakinya.
Khaalaat, yaitu seorang bibi (saudara wanita ibu) dengan keponakan laki-lakinya.
Banatul Akh / Anak wanita dari saudara laki-laki dengan pamannya.
Banatul Ukht/ anak wanita dari saudara wanita dengan pamannya.
Kedua mahram karena pernikahan.
Ibu dari isteri (mertua wanita) dengan menantu laki-lakinya.
Anak wanita dari isteri (anak tiri) dengan ayah tirinya.
Isteri dari anak laki-laki (menantu perempuan) dengan mertua laki-lakinya.
Isteri dari ayah (ibu tiri) kepada anak tiri laki-lakinya.
yang ketiga adalah mahram karena penyusuan. Misalnya ada anak laki laki di susui oleh Mom dan Mom punya anak perempuan. Anak laki laki itu tidak boleh menikah dengan anak perempuan Mom."
"Ada lagi Mom?"
"Ada satu lagi Kemahraman jenis yang kedua adalah kemahraman ini bersifat sementara. Maksudnya, seorang wanita diharamkan menikah dengan seorang laki-laki karena alasan yang bersifat sementara saja."
"Oh banyak juga ya."
"Iya."
"Pintarnya istriku Sayang." Mario ikut memeluk istrinya.
"Dad Dangan ikutan. Sempit." Kata Ved yang berada di antara Mommy dan Daddynya.
__ADS_1