
Mario bangun mendapati sang istri sudah tidak ada dalam dekapannya. Ia bergegas mencari Val di setiap ruangan yang berada di kamar. Baju kerjanya sudah di siapkan. Mungkin sang istri sedang berada di dapur.
Mario sudah mengecek dapur namun Val tetap tidak ada. Ia beralih ke ruang makan.
"Isti saya mana?" Tanya Mario melihat sarapan sudah tersaji di meja namun istrinya tidak ada.
"Tadi Nyonya keluar Tuan."
"Kemana?"
"Katanya mau beli nasi pecel. Nona tadi jalan kaki."
"Kau boleh pergi. Jika istri saya pulang. Beritahu saya menunggu di ruang makan."
"Baik Tuan. Permisi."
Mario duduk sambil menunggu istrinya.
"Nyonya." Seorang pelayan tergopoh gopoh menghampiri Val yang baru masuk ke dalam.
"Ada apa?"
"Tuan sudah menunggu Nyonya di ruang makan."
"Baiklah aku akan kesana." Kata Val santai.
Val duduk sambil menyiapkan makanan yang di bungkus daun ke dalam piring.
"Kamu darimana By?"
"Beli nasi pecel."
"Kok nggak kasih tau aku?"
"Kamu kan tidur."
"Bangunin kan bisa. Aku nanti antar."
"Nggak usah. Makan sarapannya. Nanti keburu dingin."
"Aku..."
"Jangan minta suapi. Aku juga mau makan." Kata Val memotong.
"Baiklah." Mario memakan sarapannya sendiri sambil memperhatikan sang istri yang makan makanan pinggir jalan itu dengan semangat. Val juga makan tanpa menggunakan sendok. Ia makan dengan tangan kosong.
"Pagi pagi begini kamu minum es. Nanti pilek."
"Haus. Kalo cuma air putih nggak seger." jawabnya sambil melanjutkan makan.
"Hari ini ada acara? nanti antar makan siang untuk aku ya."
"Aku ada pemotretan lagi. Tapi tenang aja. Aku antar makan siang kamu kok."
"Makasih."
"Sama sama."
"Pemotretannya dimana?"
"Di studio milik aku."
"Nggak di luar lagi?"
"Nggak."
"Modelnya cewek atau cowok?"
__ADS_1
"Cewek."
"Oh."Mario merasa tenang.
Val mengoperasikan Hp dengan tangan kirinya.
"Aku bantu." Kata Mario melihat Val kesulitan.
"Iya. Tolong telponin Papi."
"Iya." Mario segera menelpon Mertuanya.
"Ya sayang."
"Val mau tuker HP Pi."
"Tuker HP apa?"
"Astaga. Tuker mobil maksudnya."
"Mobil yang mana?"
"yang Jeep Grand Cherokee Limited."
"Kamu ngapain sih By. Kamu kan bisa minta ke aku." Kata Mario pelan yang masih bisa di dengar mertuanya.
"Di rumah dah ada."
"Kamu ngapain pake mobil begitu? cewek pakai yang mini aja."
"Kalau pake itu keren Pi. Muat barang banyak. Hari ini Val ada pemotretan. Jadi butuh mobil yang spacenya luas."
"Yaudah Papi tunggu di rumah."
"Ok." Kata Val menutup panggilannya.
"Enggak. Mobil kamu rata rata sport dua pintu semua. Aku pake mobil aku aja. Itu hasil kerja aku. Aku beli sebulan yang lalu. Udah ah. Aku berangkat dulu."
"Sebentar." Mario memeluk istrinya dan mencium seluruh bagian wajah Val beberapa kali.
"dah kan. Aku berangkat ya. Kamu hati hati. Nanti siang aku antar makan."
"Iya. Kamu juga hati hati By."
"Iya." Val mengecup pipi suaminya membuat Mario membeku di tempat. Val dengan santai pergi dari hadapan suaminya sambil menggendong ransel dan tas kameranya. Mario tersenyum atas perlakuan istrinya barusan. Terkesan cuek namun manis.
"Papi." Teriak Val memasuki Mansionnya.
"Kamu datang juga." Papi Val memeluk putrinya.
"Kalo masuk ke rumah teriak teriak Mami lakban mulut kamu."
"Maaf Mi."
"Ayo sarapan dulu."
"Duh Val udah sarapan pakai nasi pecel. Val buru buru. Mana kuncinya Pi."
"Ini."
"Makasih Pi. Mi. Val pergi dulu." Val berlari setelah mengecup pipi kedua orang tuanya. Ia bergegas melajukan mobil gahar berwarna hitam itu menuju studionya.
Val membereskan barangnya dan memasukkan ke dalam mobil. Ia akan ke restoran sebentar untuk mengecek dan membuatkan makan siang untuk Mario.
Val turun dari mobilnya langsung menjadi pusat perhatian. Kabar Ia sudah baikan dengan suami dan perihal tentang kebenaran anak yang dikandung Laura sudah mencuat ke publik. Banyak yang mendukung dan mengapresiasi sikap Val yang begitu elegan, santai dan tenang dalam menghadapi masalah.
"Nona." Sapa mereka ramah.
__ADS_1
"Kebetulan. Aku bawa brownies dan redvelvet dari restoran. Untuk semuanya ya." Val menyerahkan sepuluh boxs dan beberapa box minuman dibantu oleh satpam.
"Nona..." Kata mereka terkejut.
"Jangan ditolak rezeki itu."
"Terimakasih Nona." Kata mereka senang.
"Sama sama. Aku ke atas dulu."
"Ya Nona. Silahkan."
"Baik banget."
"Iya." Mereka langsung membagikan kue dan minuman yang Val bawa. Ternyata bukan hanya itu saja. Mereka juga kedatangan puluhan boxs lagi agar dibagikan rata.
Mario tersenyum melihat gerak gerik istrinya dari CCTV. Val memasuki ruangan suaminya. Mario langsung bangkit dan memeluk sang istri.
"Makan sendiri ya. Aku mau sholat dulu." Val menyiapkan makan untuk Mario dan mengeluarkan mukena dari tasnya.
"Iya. Aku tunggu kamu selesai sholat aja."
"Kamu nggak sholat?"
"Aku belum bisa. Masih lupa."
"Kirain aku pergi kamu memperdalam agama."
"Maaf."
"Gapapa. Nanti aku ajarin." Val bergegas ke ruangan pribadi sang suami. Disana ternyata banyak sekali fotonya. Foto yang diam diam Mario ambil. Val cukup terkejut karena baru pertama kali masuk ke sana.
Selesai sholat Val langsung menyuapi suaminya karena Mario yang meminta.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah."
"Makan apa?"
"Martabak."
"Kamu harus makan nasi."
" Masih kenyang. Kamu aja."
"By."
"Hm."
"Kita bulan madu gimana?"
"Jadwal aku padet banget. Aku ada pemotretan terus."
"Nggak bisa di cancel ya?"
"Nggak dong. Udah janji sama klien. Kasihan mereka dong kalo sampai aku cancel."
"Bayaran kamu berapa sih? Kamu nggak perlu kerja. Aku bisa cukupi segala kebutuhan kamu."
"Bukan masalah gaji. Ini tentang passion.Gaji memang aku juga butuh. Lumayan. Sehari puluhan juta dapat. Aku pengen mandiri. Beli apa apa hasil aku sendiri."
"kamu capek nanti. Harus kerja dan urus aku."
"Enggak."
Mario memeluk istrinya. Ia begitu ingin menikmati waktunya berdua. Namun Val terlalu sibuk dengan kegiatannya sendiri. Mereka hanya bisa bertemu saat makan siang, sarapan dan tidur ketika malam. Mario butuh di perhatikan. Ia sangat ingin dimanja oleh istrinya.
__ADS_1