
Val menghampiri suaminya di ruang kerja. Mario mendongakkan kepala melihat sang istri membawa nampan. Gadis itu mendekat menyajikan secangkir latte dan black forest.
Mario menarik tangan Val. Membawa sang istri untuk duduk di pangkuannya.
"Om."
"Ya By." Jawab Mario sambil menghirup aroma harum dari istrinya.
"Aku boleh minta satu ruangan di mansion ini nggak?"
"Boleh. Kamu mau semuanya juga boleh. Semuanya milik kamu."
"Oh. Ok. Satu lagi."
"Apa?"
"Aku mau bawa PS 5 aku yang ada di rumah kesini boleh kan?"
"Boleh. Asal itu bikin kamu betah disini boleh. Tapi aku minta sesuatu sama kamu."
"Apa?"
"Cium."
"Iya." Val mencium kening suaminya.
"Di bibir By."
"Ah. Iya." Gadis itu melakukan sesuai yang diperintahkan suaminya.
Mario menahan tengkuk istrinya. Pria itu memperdalam ciuman. ******* bibir candu itu dengan penuh hasrat.
"Manis." Kata Mario tersenyum puas.
Malam itu juga PS 5 Val sudah sampai di mansion Mario. Gadis itu begitu girang dan menata ruangannya.
"Makasih Om." Val memeluk Mario menyalurkan rasa bahagianya.
"Sama sama By. Tidur yuk. Ini sudah jam 11 malam."
"Iya." Val menggandeng tangan suaminya.
Mario mengamati Val yang tertidur pulas seperti bayi. Wajahnya begitu cantik dan damai. Gadis polos yang berhati baik. Mario merasa beruntung bisa memiliki Val. Pria itu mendekap Val dengan erat. Begitu nyaman dan hangat. Ia bisa tidur nyenyak setiap hari dengan posisi seperti ini.
Val membangunkan suaminya pagi pagi sekali untuk diajak joging.
"Ayolah Om. Katanya suka olahraga. Masa males begitu. Yang semangat dong. Aku masakin sarapan enak nanti."
"Masih ngantuk By. kita tidur lagi aja." Kata Mario berjalan malas mengikuti istrinya.
__ADS_1
"Duh. Jangan tidur lagi. Ayo lari. Kejar aku." Kata Val berlari menjauh dari suaminya.
"Wah macam macam." Mario tak tinggal diam. Pria itu mengejar istrinya. Begitu dapat Ia langsung memeluk Val dengan erat. Mario menggelitik sang istri hingga Ia sendiri dan Val tertawa keras. Para pelayan dan penjaga di mansion bahagia. Semenjak kehadiran Val di mansion Ini mereka merasakan hal yang positif. Apalagi Mario, Pria itu lebih banyak tertawa dan senyum sekarang.
Val dan Mario memasuki mansion setelah puas dengan olahraga paginya.
"Mandi dulu. Aku sudah siapin bajunya. Aku mau bikin sarapan dulu buat Om."
"Iya." Mario menurut dan pergi untuk mandi setelah mencium kening istrinya.
Keduanya tengah sarapan bersama. Seperti biasa Mario tak pernah absen untuk meminta sang istri menyuapinya.
"By. Nanti aku makan di rumah. Jadi kamu nggak perlu antar makan siang ke kantor ya."
"Iya."
"Nanti kalau aku pulang. kamu harus sudah ada dirumah."
"Ok. Lagian hari ini aku nggak kemana mana kok. Cuman di rumah aja. Eh lupa. Mau ke rumah Mami sebentar."
"Iya. Nanti aku antar."
"Iya."
Mario selesai dari rumah mertuanya langsung ke kantor. Kini hanya tersisa Val dan Maminya yang duduk berdua di ruang tengah.
"Jeje memutuskan untuk ke Jogja lagi. Dia tinggal sama orangtuanya."
"Dia sudah lulus dua hari yang lalu. Dia nggak kasih kabar ke kamu?"
"Nggak. Dia nggak ada hubungi aku semenjak. Itulah. Mami pasti tau."
Mami sebenarnya sudah tau tentang perasaan Jeje ke putrinya. Namun Ia tak mau terlalu ikut campur.
Val pulang dari rumah Maminya segera menyiapkan segala kebutuhan sang suami. Makan siang, baju, hingga handuk sudah ditatanya sedemikian rupa. Ia beralih menuju ruangannya setelah semua dirasa beres. Ruangan pribadi khusus untuk menyalurkan hobinya di dunia game.
Gadis itu duduk di depan monitor lengkap dengan headphone yang menutup kedua telinganya. Val duduk begitu dekat dengan layar. Mario yang khawatir tentang kesehatan mata istrinya berkali kali mencoba menelepon untuk menegur namun tidak diangkat. Pria itu sedaritadi mengawasi kegiatan sang istri dari CCTV yang terhubung ke Tabnya.
Mario baru sampai di Mansion setelah menyelesaikan meetingnya. Pria itu langsung menuju ke ruangan istrinya karena Val masih berada disana.
Tanpa mengetuk pria itu langsung masuk dan menarik kursi Val hingga gadis itu terkejut.
"Om."
"Jangan dekat dekat nanti mata kamu sakit."
"Apa?"
Mario melepas headphone dari kepala istrinya.
__ADS_1
"Mata kamu sakit nanti. Jangan terlalu dekat."
"Iya. Iya. Om sudah pulang. Bajunya sudah Val siapin, makan siang juga. Om bersih bersih terus makan ya." katanya masih fokus dengan game yang Ia mainkan.
"Temenin."
"Yaampun Om. Gitu aja minta di temenin. Yang mandiri ah."
"Kamu istri aku. Aku minta temenin."
"Tunggu. Nanti kalo aku keluar AFK lagi."
"Ya." Mario memeluk Val sambil menunggu gadis itu selesai dengan kegiatannya.
"Sudah." Kata Val beranjak dari duduknya.
"Ayo. Katanya mau makan." Val menarik tangan suaminya.
"Om kaya Bayi deh. Makan aja minta disuapi." Kata Val menyuapi suaminya.
"Biarin. Aku gini kan cuma sama kamu."
"Masa?"
"Iya By."
"Ya ok. Percaya kok."
"Kamu kalo main game jangan kelewatan, ga baik. Selain mata kamu bisa rusak duduk begitu terus sampai berjam jam juga bikin punggung sakit."
"Namanya juga anak muda Om. Kaya Om nggak pernah muda aja."
"Kalo dikasih tau."
"Iya maaf. Eh Om rumah yang diujung sana Om tau nggak? Yang warnanya biru itu Lo."
"Iya. Kenapa?"
"Anaknya yang hamil itu nggak pernah keluar kenapa? padahal kalo hamil itu bagusnya jalan jalan."
"Dia hamil pacarnya kabur nggak tanggung jawab."
"Om suka ngegosip juga ternyata."
"Enggak. Aku cuman denger dari tukang kebun. Rumahnya kan deket situ."
"Oh. Kenapa nggak Om nikahin aja?" Mario tersedak mendengar penuturan istrinya. Val dengan cepat memberi suaminya minum.
"Hati hati Om." Val menepuk punggung Mario lembut.
__ADS_1
"Lagian kamu ada ada aja. Ogah lah aku nikahin dia. Perawan aja gamau apalagi dia hamil begitu. Aku maunya cuman sama kamu."
"Iya. Paham." Kata Val melanjutkan menyuapi suaminya.