Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Cuman Kamu


__ADS_3

Val sibuk membangunkan suaminya. Entah kenapa Pria itu membuatnya jengkel pagi ini. Mario tak kunjung bersiap padahal ini sudah pukul tujuh lebih.


"Dad. Terserah kamu bangun atau enggak. Aku mau samperin anak anak di bawah." Putusnya setelah berkali kali mencoba membangunkan namun gagal.


"Em...Kamu tungguin aku dong By." Katanya sambil mendudukkan diri.


"Nggak. Baju kamu udah aku siapin. Terserah kamu." Kata Val benar benar pergi. Mario segera beranjak dari ranjang. Ia dengan cepat menuju kamar mandi. Pria itu tak mau membuat istrinya marah.


Val menghampiri anak anaknya yang sedang sarapan.


"Sayang. Ini surat dokter adik kamu tolong berikan wali kelasnya ya."


"Iya Mom."


"Kak Veer belum sembuh Mom?"


"Sudah. Tapi belum boleh sekolah dulu. Harus banyak banyak istirahat. Gara gara kehujanan kemarin dia jadi demam tinggi."


"Daddy mana Mom?"


"Nggak tau tuh. Dibangunin susah. Mom sampai kesel sama dia. Kalian habiskan sarapan kalian. Nanti telat. Mom mau antar sarapan ke kamar Veer dulu ya."


"Iya Mom."


Val memasuki kamar anaknya.


"Mom." Kata Veer ingin beranjak untuk membantu Mommynya namun langsung dicegah oleh Val.


"Kamu disitu aja."


Wanita itu berjalan lalu duduk di tepi ranjang anaknya.


"Ayo makan dulu."


"Iya Mom."


Remaja itu menerima suapan dari Mommynya.


"Jangan diulangi lagi. Mom nggak mau kamu nonton balapan liar segala. Disana pasti nggak cuman balapan aja kan. Banyak orang minum sama cewek cewek yang pakaiannya kurang bahan kan?"


"Iya Mom." Jawabnya sambil menunduk.


"Kamu tau kan kalo itu salah?"


"Tau Mom."


"Jadi kenapa kamu pergi kesana? Sampai berani bohong sama Mom segala."


"Veer cuman diajak David Mom."


"Kamu kan bisa nolak."


"Veer sudah nolak. Tapi dia maksa terus."


"Kalo kamu suka bohong dan sering datang ke tempat seperti itu. Mommy khawatir sama masa depan kamu. Mommy nggak pernah ya larang kamu buat main sama siapa siapa. Tapi kamu sudah dewasa. Sudah punya kontrol diri. Sudah mengerti mana yang benar dan mana yang salah."


"Veer minta maaf Mom. Veer nggak akan ulangi lagi. Veer janji."


"Mom nggak butuh janji kamu. Mom cuman butuh pembuktian. Orang tua merasa gagal nak, hatinya akan hancur jika anaknya salah jalan. Dunia mereka seakan runtuh melihat anak yang dibesarkannya dan dididik dengan penuh kasih sayang berbuat yang tidak baik. Begitu juga dengan Mom. Karena itu Mom ingatkan kamu sebelum terlambat."


"Terimakasih Mom sudah diingatkan. Veer janji nggak akan ulangi lagi. Veer minta maaf." Katanya sambil memeluk Val.


"Iya. Makannya di teruskan. Obatnya juga diminum."


"Iya Mom."


Val melanjutkan menyuapi anaknya. Wanita itu begitu telaten. Veer dibuat kagum dengan sosok wanita yang dipanggilnya Mom itu. Ia sadar telah membuat kesalahan besar. Membuat wanita yang tak pernah marah itu kecewa.


Mario mencari istrinya namun belum juga bertemu.

__ADS_1


"Sayang." Katanya langsung terburu buru menghampiri Val yang baru saja keluar dari kamar anaknya.


"Hm. Kamu belum sarapan?"


"Belum. Aku cariin kamu kemana mana nggak ketemu. Ayo sarapan."


"Iya. Aku taro ini dulu di dapur."


Mario hanya mengikuti sang istri seperti anak ayam yang mengikuti induknya.


Keduanya sedang duduk di ruang makan sekarang. Val dengan cekatan mengambilkan sarapan untuk suaminya.


"Udah. Ayo dimakan. Nanti kamu kesiangan."


"Pakaikan dasi aku dulu By."


"Iya."


Setelah dasinya selesai dipakaikan Mario masih tetap diam.


"Kenapa masih diam. Kamu mau berangkat jam berapa? Ini sudah jam delapan lebih."


"Suapi."


"Astaga. Iya iya." Val menyuapi suaminya agar pria itu tidak bertele tele.


"Kamu kerja berangkat jam 9, nanti pulangnya jam setengah dua belas. Kamu kerja atau cuman cuci mata aja sih."


"Aku kerja By. Astaga kamu itu. Yang lainnya kan sudah diurus sama Frans. Aku kerjanya santai."


"Hm. Terserah deh."


"Lagian mau cuci mata kaya apa kalo di rumah aja udah ada yang bening." Katanya menggoda sang istri.


"Udah. Jangan senyam senyum kamu. Cepet habisin sarapannya."


"Iya iya. Jangan galak galak dong."


Val kembali masuk ke dalam setelah memastikan suaminya berangkat bekerja.


"Mom."


"Kamu kok jalan jalan. Kan Mom suruh istirahat di kamar aja."


"Veer bosen Mom."


"Yaudah. Kamu maunya apa?"


"Mom mau kemana?" Veer malah balik bertanya.


"Mom mau ke dapur. Tadi Van minta dibikinkan Pastel."


"Oh. Veer ikut Mom aja. Ayo." Katanya begitu bersemangat menggandeng tangan Val.


Ved menghampiri David saat jam istirahat.


"Ada apa?" Tanyanya melihat Ved sudah duduk di kursi dekatnya.


"Kamu ngapain ngajak adek aku ke tempat balap liar segala."


"Aku iseng aja. Biar dia nggak jadi anak Mommy."


"Kenapa kalo dia jadi anak Mommy. Ada yang salah?"


"Nggak juga sih. Tapi terlalu manja aja."


"Manja juga dia nggak ngerepotin kamu. Dia manja juga sama orang tua sendiri. Jadi jangan pengaruhi adik aku ke hal hal yang nggak baik. Ini adalah pertama kali dan terakhirnya aku peringati kamu. Kalo kamu masih macam macam buat pengaruhi adik aku nggak bener. Aku bakal kasih perhitungan." Kata Ved langsung pergi dari sana.


Semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga. Mereka baru saja makan siang bersama.

__ADS_1


"Veer. Kamu sudah sembuh?"


"Sudah. Tapi masih belum pulih total. Memangnya kenapa Dad?"


"Nggak Papa. Lain kali aja." Kata Mario.


"Mom. Ladit mau es krim."


"Ambil aja."


"Ok Mom."


"Bawa yang paling besar. Kita makan sama sama."


"Iya Mom."


"Kamu sudah tanya ada tugas atau enggak. Hari ini kamu kan nggak masuk."


"Belum Mom. Kelupaan. Nanti Veer akan tanya teman Veer."


"Hm. Iya. Jangan di tunda."


"Iya Mom."


"Ayo makan." Kata Ladit membawa eskrim dengan ukuran besar dan beberapa sendok.


"Iya."


"Kamu nggak mau Dad?"


"Nggak. Kamu makanannya jangan kebanyakan, nanti pilek."


"Iya."


"Ikan Dad mau mati kayanya."


"Jangan doain yang jelek jelek kamu."


"Van kan cuman bilang kayanya. Soalnya dari kemarin berenangnya di situ mulu."


"Enggak. Orang Daddy kasih makan tadi pagi juga berenang pindah pindah."


"Hari pertama kuliah gimana?"


"Biasa aja sih Mom."


"Belum kenalan sama cewek kamu?"


"Om apaan sih. Ya belum lah."


"Kalah kamu sama Papa kamu."


"Ladit nggak mau kaya Papa. Ladit mau cari cewek baik baik. Yang sabar dan ngerti agama kaya Mom. Nanti kalo Ladit salah ada yang lurusin."


"Susah carinya. Kamu harus selektif."


"Iya Om. Em... Om dulu bisa dapat Mom gimana? Om kan sebelas dua belas sama Papa. Bedanya Om lebih galak aja."


"Wah. Kurang ajar kamu. Om nggak kaya Papa kamu. Om nggak suka main cewek kaya Papa kamu. Om juga bertemu sama satu cewek dan langsung nikah. Iya nggak By?" Kata Mario memeluk istrinya.


"Mana aku tau."


"Kamu kok gitu."


"Ya mana aku tau kalo sebelum sama aku kamu punya mantan."


"Enggak. Sumpah demi apapun. Cuman kamu dari dulu sampai sekarang dan kedepannya." Kata Pria itu penuh kesungguhan.


"Iya. Percaya."

__ADS_1


Mario mencium pipi istrinya membuat semuanya jengah melihat sikap bucin pria itu.


__ADS_2