Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Ada Maunya


__ADS_3

Mario masih sarapan bersama istrinya setelah anak anak berangkat ke sekolah.


"Kamu nggak ke kantor Dad?"


"Nggak. Hari ini nggak ada meeting. Jadi aku bisa cek berkasnya di rumah aja."


"Hm. Ok."


"Val." Panggil Frans langsung menerobos masuk ke ruang makan.


"Pagi pagi udah ribut aja kamu. Ada apa? bukannya ke kantor."


"Iya nanti dulu." Kata Pria itu sambil meneguk jus jeruk milik Val.


"Om. Itu bekas aku."


"Ga papa. Haus. Lagian rumah kalian terlalu besar. Buat ke ruang makan aja butuh tenaga banyak."


"Kurang ajar kamu. Beraninya minum bekas istri aku." Kesal Mario.


"Marahnya nanti aja. Val tolongin aku."


"Ada apa Om?"


"Dari semalem badan Ladit panas. Udah aku kasih obat tapi waktu aku mau berangkat ke kantor tadi malah makin panas."


"Panggil dokter dong. Bukannya istri aku."


"Istri kamu kan dokter."


"Yaudah. Kita kesana."


"By."


"Ayo Dad." Val langsung menggandeng tangan suaminya.


Sampai di rumah Frans Val langsung berlari menuju kamar Ladit.


"Pelan pelan By." Tegur suaminya.


"Ladit." Val mengecek suhu tubuh remaja itu.


"Mom." Katanya lemah.


"Tadi dia muntah muntah juga. Mau dibawa ke rumah sakit nggak mau."


"Ini gejala tipes. Sebentar aku pesankan obat dulu." Kata Val setelah memeriksa.


"Iya."


"Kenapa bisa tipes begini?"


"Infeksi yang disebabkan bakteri Salmonella typhi. Terjadi kontaminasi melalui makanan atau minuman yang mengandung bakteri itu."


"Nah itu. Kebanyakan bergaul sama temannya jadi makan sembarangan."


"Dingin Mom."


"Iya. Sabar ya. Obatnya sebentar lagi datang Sayang." Val membenarkan selimut Ladit agar hangat.


Paket obat yang di pesan Val telah sampai. Wanita itu langsung membantu Ladit untuk minum obat dan memasangkan plester demam agar panasnya cepat turun.


"Parah banget ya Val?"


"Enggak. Masih aman."


"Oh."


"Biarin istirahat dulu. Tadi Ladit sudah makan Om?"


"Belum. Tadi nggak mau makan gara gara muntah terus."


"Yaudah. Biarin dulu. Aku bikini makanan kalo gitu."


"Maaf ya ngrepotin."


"Nggak kok. Aku ke dapur dulu kalo gitu."


"Aku temenin By."


"Iya."


Mario sedang menemani istrinya menyiapkan makanan di dapur. Pria itu tak berhenti memeluk istrinya.


"Kok jus alpukat By?"

__ADS_1


"Orang tipes makannya harus yang tinggi kalori sama protein. Jadi aku siapin jus alpukat dicampur susu. Makannya telur, Ayam sama daging."


"Porsinya kecil ya."


"Iya. Makan porsi kecil tapi harus sering."


"Ah. Pintar istriku."


"Udah siap semuanya. Ayo ke kamar Ladit."


"Biar aku yang bawa."


"Makasih."


"Sama sama Sayang." Pria itu mencium gemas pipi Sang Istri.


"Gimana keadaan kamu sayang?"


"Udah mendingan Mom. Tapi masih lemas."


"Memang begitu. Kamu harus istirahat total sampai pulih. Nanti Mom hubungi guru kamu. Sekarang makan dulu ya. Mom sudah masakin enak buat kamu."


"Suapi."


"Yah Dia mulai manja." Kata Frans melihat tingkah anaknya.


"Iya. Mom suapi."


"Enak Mom." Katanya makan masakan Val dengan semangat.


"Lain kali jangan makan sembarangan ya. Juga jaga kebersihan. Jangan sampai sakit seperti ini lagi."


"Iya Mom."


"Dengerin tuh."


"Iya Pa."


"Keseringan bergaul sama anak pinggir kali. Mainnya di tempat kotor."


"Frans."


"Ya."


"Bikinin aku lemon tea. Aku haus."


"Aku disini tamu. Statusnya juga bos kamu."


"Iya. Iya." Katanya langsung pergi melaksanakan perintah Mario.


"Maaf ya ngerepotin kalian." Kata Frans mengantarkan pasangan suami istri itu ke depan. Val tidak bisa selalu menjaga Ladit. Ia akan kembali lagi nanti karena anak anaknya juga membutuhkan dia. Apalagi Mario sedaritadi merengek minta segera pulang.


"Ladit tadi sudah tidur Om. Panasnya juga sudah turun. Minum obatnya jangan sampai telat ya. Untuk makannya udah aku siapin. Makannya porsi kecil tapi harus sering. Banyakin minum air, makan makanan yang tinggi protein sama kalori. Juga jangan lupa buat jaga kebersihan."


"Iya Val. Makasih ya."


"Sama sama. Aku pulang dulu Om. Nanti kesini lagi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Daddy." Val menyenderkan kepalanya di lengan Mario yang sedang menyetir.


"Ada apa By?" Tanya Mario hafal dengan kelakuan istrinya. Jika sudah begini pasti Val pasti mau minta sesuatu.


"Dad. Mampir beli cakwe dulu ya."


"Nggak. Makanan pinggir jalan. Tadi aja kamu nasehatin Ladit. Sekarang kok malah gini. Nanti aku suruh orang buat bikinkan."


"Rasanya beda Dad."


"Sama aja."


"Pinggir jalan juga belum tentu kotor. Ayo dong Dad. Aku selalu nurut sama kamu lo. Masa aku minta cakwe aja nggak boleh."


"Aku khawatir sama kesehatan kamu By."


"Bersih kok. Boleh ya."


"Hm."


"Makasih Dad." Val langsung mencium Mario tanpa di suruh seperti biasanya karena terlalu senang.


Selesai makan siang semuanya tengah berkumpul di ruang keluarga. Mario kesal dengan istrinya. Kata Val hanya ingin beli cakwe. Namun sampai di sana Val membeli makaroni super pedas dan macam macam gorengan.


"Kamu nggak makan nasi malah makan itu mulu."

__ADS_1


"Iya nih. Mom suka jajan sembarangan aja."


"Nanti Mom batuk makan gorengan. Minyaknya itu pasti di buat goreng berkali kali."


Omel Mario dan anak anaknya.


"Udah ya Mom. Jangan makan lagi." Kata Van khawatir dengan Mommynya.


"Van sekarang kok ikut ikutan Daddy sama Kakak?"


"Van takut nanti Mom batuk."


"Bagus dek. Kamu akhirnya sadar sekarang."


"By. Udah dong. Lihat tangan kamu sampai berminyak." Mario meraih tissue dan mengelap tangan istrinya.


"Dad. Belum habis."


"Stop. Kamu udah makan banyak ya. Udah nggak makan nasi. Makan gorengan mulu. Makan yang pedes pedes. Mana nggak mau makan sayur. Kalian tolong buangin makanan Mom itu."


"Siap Dad."


"Ih Dad. Mubazir." Keluh Val.


"Biarin. Daripada kamu kenapa napa."


"Ini di buang semuanya Dad?"


"Iya. Kecuali jagung rebus. Itu aman buat Mom."


"Ok." Ketiganya langsung membuang semua gorengan dan makaroni milik Val.


"Ih kalian tega."


"Demi kesehatan kamu By." Mario memeluk istrinya berharap wanita itu bisa mengerti.


Mario memeluk istrinya yang sedang menutup gorden kamar. Pria itu membawa Val untuk duduk di pangkuannya.


"Kamu ngambek By?"


"Enggak."


"Kirain ngambek."


"Enggak. Kamu ngapain nggak pake baju?"


"Gerah." Mario memeluk istrinya hingga kepala Val bersandar di dadanya yang berotot. Pria itu mulai mencium bibir sang istri. Namun suara ketukan pintu dari luar menghentikan aksinya.


Mario sedang kesal menunggu istrinya yang sedang mengobrol dengan tetangga di ruang tamu.


"Gimana? udah pulang?" Mario langsung memeluk istrinya begitu melihat kedatangan Val.


"Sudah." Kata Val sambil duduk di sofa.


"Ngobrol apa sih? Lama banget."


"Dia curiga suaminya selingkuh. Katanya sering pulang malam gitu akhir akhir ini dan sikapnya kasar juga."


"Oh. Tapi kok curhatnya sama kamu?"


"Sama siapa lagi. Sama tetangga yang lain kan dia nggak akur Dad."


"Masa sih?"


"Iya."


"Kamu kasih sarannya gimana?"


"Ya aku saranin buat cari tau dulu. Jangan suudzon."


"Kao dilihat dari sikapnya Aku yakin kalo suaminya itu selingkuh."


"Dad Jangan berburuk sangka."


"Iya Istriku. Maaf."


"Dad."


"Ya sayang."


"Mau anak cewek satu lagi." Kata Val bergelayut manja di lengan suaminya.


"Nggak." Tolak Mario dengan tegas.


"Ayolah Dad. Biar tambah rame."

__ADS_1


"Udah ya. Tiga aja bikin pusing. Kamu ngerti ya sayang. Aku udah nggak mau tambah momongan lagi." Katanya dengan lembut sambil memeluk sang istri. Ia tersenyum melihat Val yang pandai merayu jika ada maunya.


__ADS_2