Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Sisi Lain


__ADS_3

Val terbangun di tengah malam. Suara gaduh dari luar membuatnya penasaran. Apalagi Mario tidak ada. Val perlahan turun dari ranjang. Ia membuka pintu dan celingukan mencari suaminya.


"Dad..." Panggil Val namun tak mendapat jawaban. Suara gaduh yang sempat berhenti itu muncul lagi. Val terus mengikutinya hingga tertuju pada tangga yang menuju ke bawah. Itu pintu gudang yang beberapa hari lalu sang suami melarangnya untuk ke sana.


Namun rasa penasaran mengalahkan segalanya. Val perlahan berjalan menapaki satu demi satu anak tangga menuju ke bawah. Suara jeritan pilu seorang wanita membuat jantungnya berdebar dengan cepat. Val tidak menyerah Ia terus berjalan hingga sampai di depan pintu.


Apa yang suaminya sembunyikan sebenarnya? pertanyaan itu tidak akan pernah ada jawabannya jika Val tidak mencari tahunya sendiri. Suara tamparan keras terdengar lagi diiringi isakan tangis. Val meraih gagang pintu dan membukanya.


"By..." Mario terkejut melihat istrinya berdiri di ambang pintu.


Val membeku di tempat. Bau anyir darah membuatnya merasa mual namun tertahan. Ia melihat sosok wanita tengah diikat di kursi dengan wajah dan tubuh yang penuh luka.


Val takut. Sangat takut dengan situasi seperti ini. Begitu mengingatkannya pada penculikan yang pernah Ia alami. Ia di sekap di ruang dengan kondisi minim cahaya. Untung saja Papinya dengan cepat mampu membebaskan Val.


"By..." Panggil Mario yang tiba tiba sudah memeluknya. Tepat saat itu pandangan Val menggelap dan jatuh pingsan.


Mario tak berhenti menggenggam tangan istrinya. Ia begitu khawatir karena sudah dua jam namun Val belum juga siuman. Padahal dokter sudah menjelaskan jika Val baik baik saja dan hanya syok. Namun Mario tetap khawatir dengan keadaan sang istri. Selain itu Ia juga takut Val meninggalkannya karena sudah mengetahui sisi gelap dalam dirinya.


Mario seorang CEO sukses juga seorang penguasa dunia bawah. Dia seorang mafia yang paling berkuasa. Bisnisnya dalam bidang senjata ilegal adalah salah satu andil yang membuatnya kaya seperti ini.


Val membuka matanya perlahan. Kepalanya begitu pusing. Begitu Ia melihat Mario Val langsung menarik tangannya dari genggaman pria itu. Val takut dengan Mario sekarang. Terlihat jelas dari tatapannya pada pria itu.


"By..." Kata Mario mencoba mendekati istrinya yang tengah ketakutan.


"Jangan dekat dekat." Kata Val duduk dan menjauhkan diri dari suaminya.


"By... dengarkan aku dulu." Mario memeluk erat istrinya hingga tak bisa bergerak. Ia menceritakan semua tentang sisi lain dari hidupnya tanpa terlewat. Val hanya terdiam, Ia tak merespon apapun yang dikatakan suaminya.


"By..."


"Aku tidak mau. Aku tidak mau hidup dengan orang jahat sepertimu."


"Aku tidak akan menyakitimu."


"Tapi kau menyakiti orang."


"Mereka yang menyinggungku harus menderita. Itulah hukuman."


"Aku mau pulang."


"Tidak bisa. Sudah aku katakan hanya disini tempatmu."

__ADS_1


"Aku mau pulang."


"Tidak. Aku tidak mengizinkannya kemanapun. Bahkan keluar dari kamar ini. Kamu akan tetap disini." Bentak Mario membuat Val semakin ketakutan. Pria itu berubah lembut kemudian mengelus kepala istrinya.


Val bangun karena sinar matahari yang mengusik tidurnya. Ia begitu lelah karena ulah suaminya semalam. Mario masih tertidur memeluk istrinya. Mereka sama sama telanjang.


"Sudah bangun By?" tangan pria itu menggerayangi tubuh sang istri di balik selimut.


Val tidak menjawab membuat Mario geram.


"Jawab. Kenapa diam saja?" Tanyanya dengan nada yang sudah meninggi.


"Iya."


"Bagus. Jadilah istri yang patuh. Jadi aku tidak harus mengeluarkan tenaga lebih untuk memberitahumu. Mengerti?"


"Iya."


"Bagus." Mario mengecup singkat bibir istrinya.


"Ayo mandi dulu. Setelah itu sarapan. Kita sarapan di kamar saja. Nanti akan ada pelayan yang mengantar."


Mario bergegas menggendong istrinya menuju kamar mandi.


Mario membaringkan tubuhnya di samping Val dan memeluk wanita itu dengan erat. Ia tak mau Val pergi lagi. Maka dari itu Mario akan menghalalkan segala cara untuk membuat Val tetap berada di sisinya.


Val tampak pendiam tak seperti biasanya setelah mengetahui semua dan Mario menyadari itu.


"Kenapa cemberut begitu?" Tanya Mario sambil mengusap lembut kepala istrinya.


"Mau es."


"Kamu baru sembuh dari pilek. Jangan minum es."


"Aku pengen."


"Yang lain saja."


"Yogurt."


"Aku ambilkan."

__ADS_1


"Aku mau pilih sendiri. Aku bosan di kamar terus."


"Baiklah. Ayo. Jangan sampai kamu macam macam atau berniat kabur. Selain itu percuma, niat kamu untuk kabur juga bisa buat aku marah. Paham?"


"Iya."


"Ayo." Mario menggandeng tangan istrinya.


Sampai di dapur Val langsung mengambil beberapa cup yogurt dan cemilan.


"Aku mau nonton."


"Di kamar saja."


"Aku maunya di ruang keluarga."


"Di kamar." Tegas Mario membuat Val menurut.


Val duduk diam menonton film sementara Mario sibuk mengelus punggung istrinya.


"Kamu makannya berantakan." Mario mengecup bekas yogurt yang ada di bibir istrinya. Val hanya diam tidak protes maupun melawan seperti biasanya. Selesai makan yogurt Val beralih makan coklat, keripik dan beberapa cemilan lainnya. Mulutnya tak berhenti mengunyah membuat Mario gemas.


Ia mengecup pipi dan mencubit hidung Val.


"Sakit." Keluh Val.


"Maaf." Mario mengusap hidung Val yang memerah dengan lembut.


Mario membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri. Pria itu memeluk pinggang istrinya dan mengecup perut rata Val.


"Dad."


"Ya By."


"Aku mual." Val dengan cepat menuju kamar mandi. Mario begitu khawatir dengan keadaan istrinya yang begitu pucat. Ia membantu Val untuk berbaring di ranjang. Pria itu mengusap punggung sang istri agar nyaman.


"Masih mual?"


"Iya."


"Kamu istirahat aja. Aku akan panggil dokter."

__ADS_1


"Nggak usah."


"Pokoknya Aku akan panggil dokter untuk memeriksa kamu." Kata Mario tak mungkin dibantah lagi.


__ADS_2