Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Salah Mengira


__ADS_3

Hari ini Val akan menghadiri acara pernikahan tetangga.


"Nggak datang nggak boleh ya?"


"Boleh kalo kamu nggak malu." Jawabnya sambil merapikan baju batik yang dipakai sang suami. Mario tidak nyaman jika istrinya sudah cantik dengan kebaya seperti ini pastinya akan banyak mata para lelaki kurang ajar yang tergoda.


"Aku nggak malu."


"Kamu nggak malu tapi aku yang malu. Masa satu kompleks kita nggak datang."


"Biarin."


"Kalo kamu nggak datang nggak papa. Aku bisa pergi sendiri."


"Apaan sih. Aku ikut. Kalo aku nggak ikut mereka berani godain kamu."


"Selalu begitu. Udah ah. Ayo berangkat."


"Kita pake mobil ya."


"Astaga. Cuman 200 meter dari rumah kamu mau pake mobil. Bikin malu. Jalan kaki aja."


"Iya. Iya." Mario menggandeng tangan istrinya.


"Kenapa acaranya nggak di hotel atau di gedung aja."


"Ya suka suka dong Dad. Selera orang kan beda beda."


"Kamu mau nggak kita bikin acara resepsi. Kita nikahnya kan belum ada resepsi."


"Nggak perlu."


"Kenapa? kamu malu punya suami tua?"


Val menghentikan langkahnya menatap Mario dengan kesal.


"Ngomong apaan sih? Bukan masalah itu. Aku emang nggak pengen aja. Yang penting sah kan udah cukup. Kamu kalo ngomong suka sembarangan."


"Maaf."


"Tau ah."


"By. Maafin aku."


"Udah jangan banyak tingkah. Pada liatin kita tuh." Kata Val memperingati Suaminya ketika mereka sampai di tempat acara.


"Bu Valerie, Pak Mario. Terimakasih sudah datang."


"Sama sama. Selamat ya. Semoga bahagia selalu dan cepat di beri momongan." Kata Val ramah sementara Mario hanya tersenyum tipis.


"Anak anak nggak diajak?"


"Mereka lagi tidur siang. Capek katanya pulang sekolah. Jadi nggak tega bangunin."


"Oh. Silahkan duduk Bu."


"Iya."


Mario cepat cepat menggandeng tangan istrinya untuk duduk agak jauh dari orang orang.


"Kamu nggak ngobrol sama bapak bapak kompleks Dad?"


"Enggak. Ngobrolnya sama aku nanti matanya ke kamu."


"Ada Ibu ibu juga. Aku gabung sama mereka ya."


"Ga boleh. Disini aja." Mario mengeratkan genggaman tangannya.


"Pengantinnya yang itu?" Tanya Mario sambil mengamati pelaminan.


"Iya lah. Yang mana lagi. Kita kan habis kasih selamat juga tadi."


"Mukanya beda banget kalo nggak dandan. Kalo nggak dandan jelek. Kalo di dandanin aga lumayan. Kalo aku jadi lakinya. Malam pertama auto kabur."


"Kamu itu laki laki mulutnya lemes juga. Jangan ghibah. Dosa tau."


"Beneran By."

__ADS_1


"Emang kamu pernah lihat dia?"


"Pernah sekali waktu aku susulin anak anak main di taman. Dia sapa aku tapi aku cuek aja."


"Kamu kalo sama orang jangan keterlaluan dong."


"Keterlaluan gimana?"


"Ya kalo ada orang nyapa itu di jawab. Yang sopan gitu lo."


"Iya iya."


"Bilangnya Iya. Nanti lupa."


"Enggak sayang." Mario mencubit gemas pipi istrinya.


"Heh. Gatau tempat ya. Malu tau banyak yang liatin."


"Biarin aja." Katanya tidak peduli.


Mario dan istrinya baru saja sampai di rumah langsung disambut tangisan kencang Van.


"Astaga kenapa sayang?" Val langsung memeluk dan menggendong anaknya.


"Nangis Mom. Cariin Mom daritadi."


"Maaf ya. Mom kondangan sebentar."


"Jangan cengeng. Udah besar juga."


"Dad." Tegur Val karena membuat putrinya menangis lebih kencang.


"Sudah, Sudah. Jangan nangis lagi..Cup..cup...cup." Val menenangkan Anaknya. Setelah tenang Ia duduk sambil memangku Van.


"Mom."


"Ya sayang."


"Ved sama Veer boleh minta kucing?"


"Coba minta Dad."


"Kita boleh minta kucing. Tiga Dad. Nanti aku satu, Ved satu dan satu lagi buat Van."


"Boleh." Kata Mario agar mereka sibuk dengan kucingnya dan Ia bisa lebih leluasa bersama sang istri.


"Tapi kalo punya kucing nanti dirawat baik baik ya."


"Iya Mom. Kita cari sekarang ya."


"Iya."


Mereka tengah berbelanja untuk perlengkapan kucing. Mario membiarkan anak anak dan istrinya membeli semua kebutuhan hewan berbulu itu.


"Apa aja banyak banget?" Tanya Mario ketika melihat 3 keranjang belanjaan yang penuh.


"Ada makanan, ada tempat makan dan minum, ada shampo, vitamin, permen, mainan, tali, gunting kuku, parfum, sisir dan masih banyak lagi Dad."


"Astaga. Kaya manusia aja. Daddy aja nggak serumit itu."


"Halah bohong, orang Daddy aja perawatannya lebih banyak dari Mom." Kata Val karena suaminya lebih rempong dengan urusan merawat tubuh daripada dia.


"Apa aja Mom?"


"Duh banyak. Kalo disebutin bisa sampai subuh. Ayo bayar keburu sore nanti."


"Iya Mom."


Makan malam telah usai. Anak anak sibuk bercengkrama dengan kucingnya. Mario mengira jika ketiga anaknya sibuk dengan kucing akan ada banyak waktu dengan sang istri. Ternyata tidak. Istrinya malah ikut ikutan. Ia menghela nafas. Mario juga tak mau kalah. Ia medatangkan orang untuk memasangkan akuarium super besar di ruang keluarga dan telah jadi sekarang. Akuarium berdiameter 2 kali 4 meter itu diisi dengan berbagai ikan ikan mahal dan tanaman air yang estetik.


Anak anak mempunyai kucing yang beda beda Untuk Van memilih kucing Ragdoll, Ved maine coon dan Veer scottish fold.


"Kucing kalian jangan sampai ganggu ikan Dad."


"Itu itu Bruno lagi ke akuarium Dad."


"Ambil. Awas nanti kalo ikan Daddy sampai takut."

__ADS_1


"Iya." Veer cepat cepat mengambil kucingnya.


"Mom Mochi mau tidur."


"Taro di kasur."


"Ciko makan mulu. Pantesan berat." Kata Ved memperhatikan kucingnya yang makan dengan lahap.


"By."


"Hm."


"Duduk sini."


"Enggak. Aku mau di sini." Kata Val tak mau beranjak dari karpet.


"Oh. Begitu. Mau aku gendong atau jalan sendiri."


"Iya Iya." Val menghampiri suaminya sambil membawa kucing gembul milik Veer.


"Ngapain bawa kucing segala. Lepasin."


"Daddy galak." Katanya sambil mengelus kucing itu dengan lembut.


"Tau gini tadi aku nggak beliin." Gumam Mario.


"Lepasin By. Aku mau ngomong sama kamu."


"Ngomong apa?"


"Lepasin dulu kucingnya."


"Iya iya." Val melepaskan kucingnya.


"Mau ngomong apa?"


"Temani aku." Mario membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Ih. Cuman gitu aja."


"Kamu sibuk sama kucing sampai lupa suami sendiri."


"Maaf. Daddy cemburu ya?"


"Jelas."


"Akuarium aku bagus kan?"


"Bagus. Ikannya juga bagus. Pasangnya kok cuman berapa jam aja. Ngebut banget."


"Aku udah pesen dari 2 hari yang lalu. Jadi mereka udah siap siap kebut biar hari ini juga jadi. Aku bayar mahal ya harus karena keras dong."


"Habis berapa?"


"Banyak. Tapi aku puas."


"Itu ikan apa aja Dad? Aku pengen lihat."


"Iya Ayo." Mario menggandeng tangan istrinya untuk mendekat ke akuarium.


"Itu ada ikan koi Jepang, ada arwana platinum, silver dan golden red, yang itu yang lagi berenang kemari itu Nami Green Arwana."


"Oh. Mereka nggak berantem dijadikan satu begitu?"


"Enggak."


"Kalo kasih makan harus naik tangga ini ya Dad?"


"Iya."


"Aku mau kasih."


"Biar aku aja. Kamu liatin. Sebentar aku ambil makanannya dulu."


Mario berjalan menuju meja untuk mengambil pakan ikan.


"Brug...." Suara benturan keras di lantai terdengar membuat mereka panik dan langsung berlari menuju ke sumber suara.

__ADS_1


"Mom."


"By..."


__ADS_2