Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Aku Titip Ladit


__ADS_3

Mario dan kedua anaknya baru saja pulang dari sholat Jumat.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Van kenapa nangis Mom?" Tanya Ved mendekati Mommy dan adiknya.


"Nggak papa. Tadi jatuh aja."


"Cengeng banget. Cuman lebam sedikit aja."


"Sakit Dad."


"Iya. Dasar cengeng. Kirain apaan."


"Kakak." Rengeknya kesal dengan ucapan Veer.


"Udah. Kalian ganti baju sana. Jangan ganggu Van."


"Ayo By."


"Mom disini temani aku." Kata Van mencegah Mommynya pergi.


"Sendiri sana. Udah tau jalannya kan."


"Kamu kok gitu By."


"Bajunya sudah aku siapin. Tinggal ganti aja."


Val tak mau menemani suaminya membuat Mario dengan terpaksa pergi sendiri.


Mario tengah berjalan melewati kamar anaknya. Ia membuka pintu perlahan dan memasuki kamar Van. Sang Istri sudah tertidur pulas bersama anak gadisnya. Mario mendekati ranjang dan mengecup kening dan bibir Val perlahan.


"Mana adik kamu?" Tanya Mario saat berpapasan dengan Ved.


"Di kamarnya Dad."


"Panggilin. Daddy tunggu di lapangan belakang."


"Mau ngapain Dad?"


"Panggilin aja. Kamu nggak usah ikut. Cuman adik kamu aja yang kesana."


"Iya Dad."


Pria itu langsung pergi setelah perintahnya di dengar baik oleh Ved.


"Veer kamu di suruh Daddy ke lapangan belakang. Sudah ditunggu disana."


"Mau ngapain?"


"Nggak tau. Pokoknya Daddy bilang begitu."


"Yaudah aku kesana."


"Hm iya."


"Kamu nggak ikut?"


"Nggak. Kata Daddy yang boleh datang cuman kamu aja."


"Ok." Veer melanjutkan berjalan meninggalkan sang kakak yang masih berada di kamarnya.


Veer celingukan mencari Daddynya. Pria itu ternyata tengah duduk di bangku sambil memainkan ponselnya.


"Ada apa Dad?" Tanya Veer menghampiri Mario


"Duduk dulu."


"Iya." Jawabnya langsung duduk di samping Pria itu.


"Kemarin kemarin kamu buat kesalahan masih ingat?" Tanya Mario.


"Masih."


"Karena kamu sakit bukan berarti Daddy nggak akan hukum kamu. Hari ini kamu sudah sembuh. Daddy mau hukum kamu karena yang pertama, Kamu datang ke tempat seperti itu. Yang kedua, kamu pulang larut malam. Yang ketiga, Kamu sudah bikin Mom cemas. Kamu tau nggak Mom semalaman sakit kepala gara gara kamu."


"Maaf Dad." Katanya penuh penyesalan.

__ADS_1


"Sekarang kamu mulai hukuman Kamu. Berdiri di tengah lapangan. Jangan berhenti sampai Daddy suruh."


"Baik Dad."


Veer langsung melaksanakan perintah Daddynya. Ia berdiri di tengah lapangan dengan cuaca yang begitu terik.


Val terbangun dari tidurnya. Ia turun dari ranjang dengan perlahan agar tidak membangunkan Van yang tengah tertidur pulas.


"Tumben sepi." Katanya karena suasana tak seperti biasa.


"Sayang."


"Iya Mom." Ved bergegas menghampiri Mommynya yang sedang menuruni tangga.


"Daddy kamu mana?"


"Tadi Daddy suruh aku panggilin Veer buat ke lapangan. Mungkin Daddy masih di sana Mom."


"Oh. Yaudah. Mom kesana dulu ya."


"Iya Mom."


Sosok wanita berlari menghampiri anaknya yang tengah berdiri di tengah lapangan. Wajahnya sudah memerah dengan kaos yang basah karena keringat.


"Sayang." Val langsung memeluk anaknya.


"Mom."


"Ayo masuk."


"Tapi Mom. Daddy..."


"Nanti biar Mom yang ngomong." Katanya cepat cepat membawa Veer masuk.


Mario baru saja kembali dari kamar mandi. Pria itu sudah mendapati anaknya tidak ada disana.


Val langsung mendudukkan Veer di sofa. Ia memberi Veer minum agar tidak dehidrasi.


"Veer kenapa Mom?"


"Dihukum sama Daddy. Tolong ambilin kaos. Kaosnya basah."


"Iya Mom."


"Ini bajunya Mom."


"Makasih ya."


"Iya Mom."


"Ganti baju dulu. Biar nggak masuk angin."


"Iya." Jawabnya saat dibantu untuk mengganti baju oleh Mommynya.


"By." Panggil Mario pada istrinya.


"Hm."


"Aku...."


"Udah. Nggak usah dibahas sekarang."


Jawab Val tanpa menoleh pada sang suami.


"Pusing Mom." Keluh Veer dengan wajah pucatnya.


"Kita ke kamar. Kamu istirahat."


"Temani ya Mom."


"Iya."


Val membawa Veer ke kamarnya. Wanita itu ikut tidur memeluk anaknya setelah mengoleskan minyak dan memberi obat.


"Jadi tadi Veer di suruh ke lapangan itu dihukum Daddy Mom?"


"Iya."


"Kirain di suruh ngapain." Kata Ved ikut berbaring di samping adiknya. Beberapa menit berlalu. Kedua anaknya sudah tertidur dengan pulas. Val kembali ke kamar. Ia akan mendengarkan penjelasan dari suaminya.

__ADS_1


"By." Pria itu langsung beranjak dari duduk dan memeluk Val.


"Kamu jangan marah ya."


"Aku mau duduk dulu."


"Iya." Mario membawa Istrinya untuk duduk di sofa.


"Aku kasih hukuman biar dia jera nggak ngulangi kesalahannya lagi. Kamu jangan marah ya."


"Kamu udah bener Dad. Tapi jangan yang keterlaluan dong. Dia baru sembuh. Nanti bisa sakit lagi. Jangan pakai hukuman fisik yang membahayakan dong. Untung aja Veer tadi nggak pingsan. Badannya udah keluar keringat dingin. Wajahnya merah. Dia lemes banget karena kepanasan. Aku khawatir setengah mati tau nggak."


"Maaf. Aku cuman pengen tegas sama anak anak. Biar mereka sadar akan kesalahan mereka. Biar Meraka jera dan nggak berani macam macam lagi."


"Iya. Tapi pakai cara lain kan bisa."


"Maaf." Katanya sambil memeluk Val erat.


"Iya."Jawabnya sambil membalas pelukan sang suami.


Val dan Mario terburu buru pergi ke rumah sakit setelah mendapat telpon. Keduanya berjalan cepat masuk ke dalam setelah sampai di sana.


"Ladit."


"Mom." Ia langsung memeluk Val sambil menangis.


"Gimana keadaan Papa kamu?"


"Papa udah komplikasi parah Mom. Papa nggak pernah cerita sama Ladit sampai separah ini."


"Kita Duduk. Kamu tenang ya." Val mengusap punggung remaja itu dengan lembut.


"Dad. Om Frans nggak pernah cerita sama kamu?"


"Pernah. Udah aku saranin buat berobat dari dulu tapi tetap nggak mau. Katanya sudah nggak bisa sembuh lagi. Dia udah nyerah."


"Memangnya sakit apa?"


"Jantung dan gagal ginjal. Diperparah lagi karena dia peminum." Jawab Mario sambil menunduk.


"Sampai separah itu dan dia nggak kasih tau Ladit?"


"Dia nggak mau Ladit sedih. Makannya nggak mau cerita."


"Dengan keluarga Tuan Frans." Kata Dokter keluar ruangan.


"Iya Dok. Bagaimana keadaannya?"


"Keadaan pasien sudah cukup membaik."


"Bisa kita masuk Dok?"


"Silahkan."


"Terimakasih Dok."


"Sama sama. Saya permisi."


"Ya." Jawab ketiganya langsung masuk setelah dokter pergi.


"Papa." Ladit langsung menghampiri Frans yang terbaring lemah dengan selang oksigennya.


"Jangan nangis. Papa baik baik aja."


"Frans. Kenapa bisa separah ini sih. Aku kan selalu ingetin kamu buat berobat."


"Iya. Emang lagi drop aja. Val, Mario."


"Ya Om."


"Kalo sewaktu waktu aku pergi nanti. Aku titip Ladit ya. Aku pengen dia tumbuh dan dirawat Sama orang orang baik kaya kalian."


"Nggak. Om juga orang baik. Om pasti sembuh." Jawab Val sambil menangis.


"Iya. Papa pasti sembuh."


"Umur orang siapa yang tau. Kondisi aku sudah seperti ini."


"Maka dari itu. Umur nggak ada yang tau. Om harus optimis. Hanya Tuhan yang tau umur Om. Om jangan ngomong seperti itu."

__ADS_1


"Hm Iya." Katanya sambil menatap lekat ketiga orang yang begitu spesial baginya.


__ADS_2