Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Pertanyaan Mertua


__ADS_3

Val duduk sendiri di ruang keluarga. Suami dan Papinya pergi ke kantor, Sementara anak anak sekolah.


"Sayang." Mami menghampiri anak satu satunya itu.


"Iya Mi."


"Kamu mau apa biar Mami siapkan."


"Lagi nggak pengen apa apa Mi."


"Beneran?"


"Iya."


"Keadaan kamu sudah baikan kan?"


"Sudah Mi. Sudah seminggu aku keluar dari rumah sakit. Aku sudah sehat kok."


"Tapi ingat kata dokter. Kamu nggak boleh kelelahan. Paru paru kamu..."


"Iya. Val ngerti Mi." Jawabnya sambil menggenggam tangan Maminya. Val tau kekhawatiran wanita itu tentang kondisinya.


"Yasudah. Mami tinggal sebentar nggak papa ya."


"Mami mau kemana?"


"Ke pasar. Daddy kamu mau dibikinkan gethuk Mami harus beli singkong."


"Val ikut Mi."


"Kamu masih sakit."


"Enggak kok. Val udah sembuh. Val ikut ya."


"Yasudah. Ayo." Putus Mami tak ingin Anaknya bersedih.


Val dan Maminya menelusuri pasar. Mereka sudah mendapatkan singkong dan kelapa yang di butuhkan.


"Mi itu buah apa?"


"Kedondong. Kamu mau?"


"Iya. Pengen coba."


"Bu kedondongnya satu kilo ya." kata Mami memesan.


"Baik Bu."


"Mau apa lagi?"


"Manggis sama duku Mi."


"Ok. Tambah manggis sama Dukunya masing masing dua kilo ya Bu."


"Iya Bu."


Setelah semuanya lengkap Val dan Maminya pulang.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Mom." Mereka langsung memeluk Val.


"Kan sudah dibilang jangan keluar." Kata Papi dan Mario bersamaan. Keduanya saling pandang kemudian memalingkan wajah masing masing.


"Kamu nggak papa kan sayang?"


"Enggak Pi."


"Kamu baik baik aja kan By." Mario memeluk istrinya.


"Iya."


"Dah ya. Mami mau ke dapur dulu."


"Ikut Mi."


"Kamu istirahat aja. Mami suruh Bibi yang buat kok."


"Yasudah." Kata Val menyetujui.


Semuanya tengah duduk di teras belakang.


"Mom. Van mau duduk sama Mom."


"Jangan dulu. Mami masih sakit."


"Gapapa. Ayo." Val memangku anak gadisnya.


"Ini manggisnya sayang."


"Makasih Mi. Van mau?"


"Iya." Val menyuapi anaknya.


"Ved sama Veer mau?"


"Mau." Katanya langsung disuapi Mommynya.


"Dad. Tolong ambilkan dukunya."


"Iya. Aku kupaskan."


"Gimana? Manis?" Tanya Mario setelah menyuapi sang Istri.


"Manis. Tapi banyak getahnya."

__ADS_1


"Iya. Duku memang begitu."


"Ini kedondong nya sudah du potong dan dikupas."


"Makasih Pi."


"Sama sama Sayang."


"Di kebun Opa nggak ada buah ini?"


"Enggak. Opa malas tanamnya."


"Kenapa?"


"Susah cari bibitnya disini."


"Oh."


"Kedondong enak ternyata. Val kira asam."


"Emangnya nggak asam?


" Sedikit, tapi seger."


Mario mengelap bibir istrinya dengan lembut. Semua itu tak luput dari perhatian kedua mertuanya. Semenjak tadi pria itu selalu memperhatikan Val dari hal hal kecil sekalipun.


"Jangan pakai itu Dad. Aku nggak mau." Keluh Val ketika suaminya menambahkan sayur di piringnya.


"Kamu harus makan sayur biar cepat sehat."


"Aku udah sehat. Ga perlu makan sayur."


"Ayo coba. Sedikit saja. Masakan Mami enak lo. Masa kamu nggak mau coba."


"Heh. Aku bukan anak kecil ya. Gamau."


"Jangan di paksa."


"Iya Pi. Makan kalo gitu. Ini udah nggak pake sayur." Mario mulai menyuapi istrinya.


"Enak?"


"Enak."


"Mau minum."


"Iya."


Mario dengan cepat mengambilkan dan membantu istrinya minum.


"Malam Ini keluar ya."


"Kemana? kamu baru aja sembuh. Belum pulih total."


"Suami udah janji Pi. Katanya kalo aku sembuh boleh minta apapun. Ya kan?" Val mengedipkan matanya pada sang suami.


"Mario."


"Iya Pi."


"Maaf Pi. Mario udah terlanjur janji. Ntar Mario dosa kalo sampai di ingkari. Kasih izin ya Pi."


"Baiklah. Jam 9 harus sampai di rumah."


"Terimakasih Pi."


"Hm."


"Mami sama Papi ikut nggak?"


"Enggak. Kalian aja."


"Yasudah."


Seperti yang sudah dijanjikan Mario mengajak istri dan anak anaknya keluar. Mereka berjalan jalan sambil membeli beberapa makanan.


"Mau jagung." Kata Val.


"Iya biar asisten aku belikan." Kata Mario mengajak istrinya melanjutkan jalan lagi.


"Martabak manis. Coklat kacang."


"Iya. Kita bungkus aja ya. Jam 9 kita sudah harus sampai di rumah."


"Takut sama Papi ya."


"Iya. Takut sama mertua itu wajib." Jawab Mario.


"Anak anak mau apa?"


"Mau sate Mom."


"Ok."


Mario selalu menggenggam tangan istrinya. Ia tak melepaskan tangan lembut itu meskipun sebentar saja.


"Tangan kamu dingin By. Kita pulang ya."


"Sebentar lagi. Aku masih mau jalan jalan."


"Kamu dingin lo."


"Aku nggak papa kok."


Val mengajak anak anaknya duduk di bangku taman.

__ADS_1


"Ternyata kalo malam bagus ya Mom."


"Iya."


"Tapi rame."


"Memang ramenya malam. Kalo pagi sama siang malah jarang ada orang datang."


"15 menit lagi pulang ya."


"Cepet banget Dad."


"Nanti Opa marah kalau kita pulang telat."


"Iya."


"Dad takut sama Opa?"


"Bukanya takut. Sama orang tua harus patuh."


"Bener bukan karna takut?"


"Itu juga sih."


"Kenapa?"


"Kalo Dad nggak takut dan patuh sama Opa. Nanti Opa marah dan Mom di pisahkan sama Dad."


"Dah. Ayo pulang."


"Iya."Mario membantu istrinya berdiri.


"Papi sama Mami nggak mau?" Tanya Val ketika mereka akan makan makanan yang barusan dibeli.


"Enggak. Kalian aja."


"Ok."


"Sini aku suapi. Mau yang mana dulu?"


"Martabaknya Dad."


"Iya." Mario menyuapi istrinya.


"Jangan banyak banyak. Itu tinggi lemak."


"Papi tau?"


"Tau lah. Martabak itu selain tinggi lemak juga tinggi gula. Nah, Untuk anak anak juga bisa merusak gigi."


"Nanti sebelum tidur kita sikat gigi kok Opa."


"Harus itu."


"Mario."


"Iya Pi."


"Dari dulu aku mau tanya ini."


"Tanya apa Pi?"


"Katanya kamu nggak pernah punya asisten atau sekertaris perempuan. Dulu aku denger kabar kamu gay. Benar ya."


"Papi." Tegur Val dan Maminya karena ada anak anak disitu.


"Mereka nggak akan dengar. Lagi fokus nonton sama makan."


"Mario nggak gay Pi. Buktinya papi punya cucu tiga."


"Lalu kenapa?"


"Ya kan dulu Mario pernah cerita kalo Mario benci yang namanya wanita."


"Terus sama anak aku?"


"Itu beda Pi. Istri aku spesial. Dari pertama ketemu aku langsung suka."


"Aku mau tanya lagi. Yang pasang alat penyadap dan kamera di kamar Val dulu jangan jangan juga kamu."


"Iya Pi."


"Dasar kurang ajar."


"Dad."


"Maaf." Katanya lemah.


"Tapi nggak ada mecem macem kok. Sumpah Pi. Mi."


"Jadi dulu kamu sering kesini juga buat Val?"


"Iya dong Pi."


"Jadi kamu manfaatin aku buat deketin Val?"


"Maaf Pi. Tapi bisa dibilang begitu."


"Keterlaluan kamu. Aku pecat kamu jadi mantu. Dasar kurang ajar."


"Pi. Itu kan sudah masa lalu. Sekarang Mario nggak gitu lagi."


"Iya karna kamu udah nikah sama Val. Kalau belum juga kamu bisa lebih parah dari itu semua."


"Papi kaya nggak kenal aku aja." Kata Mario membuat kedua Mertuanya mendecakkan lidah.

__ADS_1


"Daddy separah itu ternyata."


"Buat bisa peristri kamu. Apapun aku lakukan." Katanya sambil mencubit pelan hidung mancung Val.


__ADS_2