
Val tengah menjemput putrinya di sekolah setelah mengantarkan makan siang untuk suaminya.
"Assalamualaikum Mommy."
"Waalaikumsalam sayang. Ayo pulang."
"Mom. Van mau bakpao."
"Nanti Mommy bikinin. Ayo pulang."
"Iya Mom. Makasih ya."
"Iya sayang."
Val mengajak anaknya masuk ke dalam mobil.
"Kakak belum pulang Mom?"
"Belum. Kakak pulangnya masih nanti."
"Oh."
"Mommy tadi dari kantor Daddy?"
"Iya sayang." Jawab Val sambil fokus menyetir.
"Kamu bersih bersih ya sayang. Mom sudah siapkan makan siangnya. Mom mau bikin bakpao untuk Van."
"Iya Mom." Jawab gadis kecil itu patuh.
Val langsung menuju dapur. Ia selesai menyiapkan makan siang untuk Anak anak dan akan membuat bakpao seperti kemauan Van.
Ponsel Val berdering. Ia langsung mengangkatnya.
"Assalamualaikum By."
"Waalaikumsalam Dad."
"By. Hari ini aku pulang malam ya. Masih ada urusan di kantor. Kamu jangan keluar keluar. Kalo ada sesuatu segera hubungi aku."
"Iya Dad. Keamanan di rumah kan ada. Daddy nggak perlu khawatir."
"Aku tetep khawatir. Aku pantau dari CCTV. Hati hati ya."
"Iya Dad. Kamu jangan lupa sholat."
"Iya Sayangku. Kamu lagi masak kan?" Tanya Mario memperhatikan Istrinya dari rekaman CCTV yang terhubung dengan laptopnya.
"Iya Dad."
"Hati hati."
"Iya Dad. Udah dulu ya. Aku mau lanjutin. Assalamualaikum."
__ADS_1
"By... Waalaikumsalam." Mario menghela nafas karena sang istri buru buru mematikan telponnya.
"Assalamualaikum."
"waalaikumsalam."
"Mom lagi bikin apa?" Tanya si kembar baru pulang dari sekolah.
"Bikin bakpao. Van pengen bakpao."
"Oh."
"Kalian bersih bersih, sholat terus makan ya. Mom sudah siapkan di ruang makan."
"Baik Mom." Keduanya bergegas ke kamar.
Val menuju ke ruang kerja suaminya untuk mengambil gelas kotor. Ia tak sengaja menyenggol sebuah map. Val begitu terkejut melihat foto foto orang dengan kondisi yang memprihatinkan penuh luka.
"Kamu melanggar janji Dad." Gumamnya sambil menitihkan air mata.
Val kembali ke kamarnya setelah memastikan anak anaknya sudah tidur. Ia bergegas mengganti pakaiannya dengan piyama dan menyiapkan piyama juga untuk suaminya.
"By. kamu belum tidur? Ini sudah jam 12 lo" Mario memeluk istrinya.
"Belum. Aku nungguin kamu. Kamu mau mandi dulu?"
"Iya."
"Aku sudah siapkan Air. Aku ambilin kamu makan."
"Iya."
"Kamu kenapa?"
"Nggak papa."
"Kamu sakit?"
"Enggak. Aku simpen piring dulu ke dapur ya."
"Iya."
Val langsung menghampiri suaminya yang masih duduk di sofa.
"Ini apa Dad?"
Mario membuka map yang diberikan oleh istrinya.
"Kamu bohong sama aku." Kata Val sudah menangis.
"By. Aku nggak bisa lepas gitu aja."
"Kamu peduli aku sama anak anak nggak sih? nyawa kita dan nyawa kamu juga terancam jika masih berhubungan dengan duni bawah."
__ADS_1
"By. Aku peduli sama kalian. Tapi aku nggak bisa lepas gitu aja."
"Kamu menyakiti orang. Bagaimana jika itu juga terjadi di keluarga kamu?"
"By."
"Aku minta kita pisah aja. Aku takut sama keselamatan anak anak. Aku nggak mau kejadian yang lalu terulang lagi." Val mengingat Van ketika masih berusia tujuh bulan diculik oleh musuh suaminya. Meskipun Mario bisa mengatasi, namun seorang Ibu akan tetap khawatir terhadap anak anaknya.
"Nggak. Aku nggak mau." Kata Mario membentak istrinya.
"Sampai kapanpun aku nggak akan cerai sama kamu."
"Aku mau kita pisah."
"Aku nggak mau. Kamu dengar nggak?"
"Kalau kamu bersikeras minta cerai sama aku. Kamu nggak akan bisa lihat anak anak lagi."
"Kamu ngancam aku? Kamu ngancam aku dengan anak kamu sendiri?"
"Terserah bagaimana kamu mengartikannya."
"Dimana Nicolas? kamu apakan dia??"
"Aku buang setelah aku siksa. Dia berani memata matai kamu."
"Kamu jahat."
"Oh jadi kamu bela dia." Mario memegang kedua bahu istrinya erat.
"Sakit Dad."
"Lebih sakit hati aku ketika kamu bilang cerai ke aku."Mario membuka baju istrinya. Pria itu menjamah tubuh Val dengan kasar. Mario memasukkan miliknya ke mulut sang istri agar berhenti mengeluh. Ia menjambak rambut Val sambil memajumundurkan pinggulnya.
"Ah. Nikmat...Ah..." Mario memejamkan matanya.
Ia memangku istrinya dan memasukkan miliknya ke dalam inti tubuh Val dengan kasar.
"Sakit Dad..."
"Ini hukumanmu."
"Dad...Sakit." Mario tidak peduli dan terus bermain dengan kasar. Ia mengangkat tubuh istrinya dan membenturkan ke dinding sambil terus melajukan temponya.
"Dad...aku mohon berhenti."
"Tidak. Ini sangat nikmat..Ah..." Mario meremas rambut istrinya. Ia melepaskan Val sebentar hingga wanita itu terduduk di lantai.
Mario mengulanginya lagi dan lagi padahal Val sudah memohon untuk berhenti. Seakan menulikan telinganya, Mario tidak peduli sama sekali. Setelah menjelang subuh pria itu baru menyudahi kegiatannya. Kamar begitu berantakan. Barang barang berjatuhan dilantai.
Mario membaringkan istrinya yang lemas di ranjang. Ia baru menyadari perbuatannya. Badan istrinya tampak lebam dan membiru di beberapa bagian. Kening istrinya juga memar karena perbuatannya.
Ia mengirim pesan untuk membawa para pelayan dan penjaga di markas untuk kembali ke Mansionnya. Mereka akan mulai menjaga Val agar tidak bisa kabur dan mengurus anak anaknya.
__ADS_1
Mario mengecup bibir Val yang sudah tertidur pulas.
"Maaf." Katanya tidur sambil memeluk Val. Mario menepuk punggung istrinya dengan lembut. Ia bisa membayangkan bagaimana sakitnya tubuh sang istri saat ini.