Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Merajuk


__ADS_3

Mario kalang kabut karena dicuekin istrinya. Val lagi ngambek karena semalam Mario ingkar janji dan membuat wanita itu kelelahan. Alih alih minta satu ronde. Mario malah menghujani istrinya sampai lemas dan badan Val rasanya remuk semua.


"By."


"Makan sendiri. Jangan manja." Katanya sambil menyuapi Van. Mario terpaksa makan sendiri. Jika istrinya tidak ngambek. Sesibuk apapun Val pasti akan menyuapinya.


"Mom."


"Ya sayang." Val mengubah nada bicaranya menjadi lembut pada anak anak.


"Hari ini jam pulang kita barengan sama Adek. Kita udah janji mau ke rumah Opa. Nanti Mom jemput ya."


"Iya sayang. Nanti Mom jemput kalian kita ke rumah Opa."


"Sarapannya sudah habis?"


"Sudah Mom."


"Kalian berangkat ya. Nanti telat."


"Iya Mom. Dad. Kita berangkat dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Val mengantar anak anak ke depan meninggalkan suaminya sendiri.


"By." Mario memeluk istrinya saat sudah sampai di teras.


"Aku minta maaf."


"Berangkat sana. Mobil kamu udah siap." Val merapikan dasi suaminya kemudian mencium tangan pria itu.


Mario mencium istrinya.


"Aku berangkat."


"Iya hati hati."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Val masuk kedalam tidak menunggu suaminya masuk ke mobil seperti biasanya.


Hari ini Mario meminta istrinya untuk mengantar makan siang.


"Permisi Tuan." Sekretarisnya memasuki ruangan Mario.


"Ini ada makan siang dari Nyonya." Katanya menaruh paper bag diatas meja Mario.


"Istri saya kemana? Bukannya tadi sudah saya bilang kalo dia harus antar sendiri."


"Iya. Tapi Nyonya tidak mau karena mau menjemput anak anak."


"Yasudah. Kau boleh pergi."


"Iya Tuan. Permisi."


Mario memijit pelipisnya karena sedaritadi bekerja pun Ia tak fokus karena memikirkan istrinya yang sedang merajuk.


Val sekarang sedang berada di rumah Maminya. Ia duduk bersama kedua orangtuanya sambil menemani anak anak yang sedang menonton.


"Tumben Mario nggak ikut."


"Dia lagi di kantor Pi."


"Mi."


"Ya sayang."


"Beli martabak Manis yok..."


"Kamu makan sembarangan."


"Ayolah Mi."


"Iya."


"Anak anak tunggu disini ya sama Opa. Mom mau keluar sebentar."


"Kemana Mom?"


"Sebentar kok. Mau beli martabak di depan."

__ADS_1


"Iya Mom." Val dan Maminya berangkat setelah berpamitan.


Val makan banyak martabak coklat kacang kesukaannya.


"Makannya jangan banyak banyak Mom. Nanti Daddy marah."


"Jangan bilang-bilang sama Daddy."


"Kamu. Jangan banyak banyak ah."


"Nggak papa Pi." Kata Val tetap melanjutkan makannya.


Sore hari Val dan anak anaknya baru pulang. Ia bergegas ke kamar untuk mandi dan menyiapkan baju untuk suaminya. Meskipun sedang merajuk Val tetap memenuhi segala keperluan suaminya. Ia tak mungkin membuat suaminya terlantar.


Val duduk di depan meja rias setelah mengganti pakaiannya. Sepasang tangan kekar tiba tiba memeluknya dari belakang.


"By." Mario memeluk istrinya dengan manja.


"Hm."


"Jangan ngambek lagi dong. Aku minta maaf."


"Udah dimaafin."


"Beneran?"


"Iya."


"Tapi kamu cuekin aku."


"Terus?"


"Jangan begitu. Aku punya sesuatu buat kamu."


"Apa?"


Mario menutup kedua mata istrinya lalu menuntunnya untuk duduk di sofa.


Ia membuka mata istrinya. Hadiah spesial untuk istrinya. Buket mawar cantik dan beberapa kotak besar coklat kesukaan sang istri.


Val mengabaikan buket bunga langsung meraih kotak coklat dan membukanya.


"Ga usah. Yang penting ini. Makasih Dad." Val mencium singkat pipi suaminya.


"Aku makan ya."


"Iya. Itu kan memang untuk kamu."


Val makan dengan semangat.


"Kamu tadi beli martabak ya."


"Iya."


"Kamu makan banyak?"


"Iya."


"Udah dibilangin jangan keseringan makan martabak.


"Mami yang bilang?"


"Iya."


"Kalian sama aja."


"Ini demi kebaikan kamu. Kamu habis makan martabak kan, jadi jangan makan yang manis manis lagi." Mario merebut kotak coklat milik sang istri.


"Dad balikin. Aku baru makan dua."


"Dua sudah cukup. Tadi kamu juga makan martabak manis banyak."


"Daddy kok gitu. Aku pengen makan lagi." Rengek Val manja.


"Ga boleh."


"Ih. Ayo dong Dad. Aku mau lagi...." Val memeluk lengan suaminya.


"Begini yang bikin aku nggak tega." Mario mengembalikan lagi coklat Val.


"Cium dulu."

__ADS_1


"Iya." Val mencium kening dan pipi suaminya.


"Bukan begitu. Begini." Mario meraih tubuh istrinya dan mencium bibir Val dengan rakus.


Pukul 10 malam istrinya merengek minta mie ayam. Mau tidak mau Mario harus menuruti karena Val mengungkit janjinya dulu jika Ia siuman maka semua keinginannya akan dipenuhi. Mario dan Val keliling menyusuri jalan mencari penjual mie ayam yang masih buka.


"Itu Dad." Tunjuk Val pada kedai mie ayam yang masih buka.


"Iya. Kita kesana." Mario memutar Mobilnya.


Val turun dengan semangat. Mario tak melepaskan genggaman tangannya pada sang istri.


"Pak mie ayamnya dua minumnya es teh ya." Val memesan.


"Iya Mbak. Ditunggu ya."


"Iya pak. Dad, kita duduk sana ya."


"Iya."


Mario dan Val duduk di bawah pohon. Karena ini musim kemarau jadi tidak khawatir hujan.


"Silakan Mbak. Mas." Penjual itu menyajikan pesanan di atas meja.


"Terimakasih pak."


"Sama sama. Silahkan menikmati."


"Iya pak."


"Biar aku yang ambilin sambelnya." Kata Mario.


"Iya."


"Kurang banyak Dad."


"Jangan banyak banyak. Nanti perut kamu sakit."


"Tambah dikit lagi aja."


"Enggak. Aku suapi."


"Daddy makan punya Daddy aja. Aku mau makan sendiri."


"Aku suapi." Tegas Mario.


Mario meniup mie di garpu sampai dingin baru menyuapkan ke istrinya.


"Enak."


"Kamu seharian ini makanannya nggak sehat semua ya."


"Apa?"


"Martabak, bakso, burger, kentang goreng, terus sekarang mie ayam."


"Kata Daddy kan aku boleh minta apapun."


"Iya. Tapi yang sehat sehat gitu lo." Kata Mario sambil menyuapi istrinya.


Val sudah bersiap untuk tidur menyusul suaminya yang sudah berada di ranjang. Mario memeluk istrinya dengan erat. Mario menganggap istrinya segalanya.


"Dad."


"Iya Sayang."


"Besok beli mie ayam lagi ya. Enak."


"Ga boleh. Hari ini sudah. Besok ga boleh lagi."


"Dad."


"Jangan merengek. Cepat tidur atau enggak aku minta lagi."


"Iya. Tidur."


Mario tersenyum melihat tingkah istrinya.


"Selamat malam By ku sayang." Mario mengecupi bibir dan kening sang istri.


"Selamat malam Dad." Val membalas pelukan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2