Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Bayi Besar


__ADS_3

Selesai sarapan Val langsung menemani suaminya untuk tidur. Mario mengeluh katanya tidak bisa tidur semalaman. Jadi untuk minta maaf Val menemani suaminya tidur. Ia mengelus lembut kepala Mario yang sudah tertidur pulas karena benar benar mengantuk. Perlahan Ia turun dari ranjang. Ia berjalan hati hati agar tidak membangunkan suaminya. Val bernafas lega setelah berhasil keluar dari kamar. Ia melangkahkan kaki menuju dapur untuk minum.


"Mom." Sapa anak anak ketika Mommynya memasuki ruang keluarga.


"Lagi Nonton apa?" Tanya Val ikut bergabung bersama mereka.


"Lagi nonton kartun Mom."


"Mom."


"Iya sayang."


"Ayo ke kebun belakang. Veer lihat kemarin ada pisang matang juga Mom. Kita buat pisang goreng yuk."


"Iya. Ayo." Val menggandeng tangan anak anaknya.


Mereka telah sampai di kebun belakang. Val memotong pisangnya sendiri karena pohonnya yang tidak tinggi jadi mudah.


"Kalian mau makan pisang?"


"Mau Mom." Val mengambilkan tiga pisang untuk anak anaknya.


"Manis Mom."


"Iya Mom. Manis."


"Buatin Pisang goreng ya Mom."


"Iya. Nanti Mom buatkan."


Val sedang di dapur membuatkan pisang goreng untuk anak anaknya. Ia mengupas pisang dan memotong memanjang hingga berbentuk seperti kipas. Val mencelupkannya ke adonan dan menggorengnya sampai matang. Sembari menunggu siap Val juga membuat makan siang di bantu koki di dapur. Semua pekerjaan tidak boleh Val lakukan sebenarnya. Namun untuk permintaan anak anak Ia akan lakukan sendiri dan suaminya mengizinkan dengan catatan tidak boleh sampai kelelahan.


Mario terbangun dari tidurnya pukul 12 siang. Istrinya tidak berada di sisinya sekarang. Ia mencari Val. Ternyata wanita itu sedang keluar dari salah satu kamar anaknya.


"Kamu kemana aja sih By?" Pria itu langsung memeluk sang istri.


"Aku habis temani Van tidur sebentar. Oh Iya Dad. Kamu mau pisang goreng nggak. Tadi aku bikin."


"Nanti aja. Aku mau mandi."


"Iya aku siapin bajunya."


"Mandiin juga ya."


"Aku udah mandi. Kamu mandi sendiri."


"Ayo dong. mandiin."


"Enggak ah mandi sendiri sana."


"Kamu kok gitu." Mario mulai merengek hingga membuat Val jengah.


Selesai memandikan dan menunggu suaminya selesai sholat Val langsung menyuapi Mario untuk makan siang. Ia benar benar punya bayi besar sekarang. Manjanya sang suami melebihi anak anak dan over protective nya mereka sama. Val di buat pusing setiap hari dengan tingkah keempatnya. Namun Ia bersikap sabar dan tenang dalam menghadapi mereka.


"Kamu tadi kemana aja waktu aku tidur?"


"Ya awalnya aku mau minum terus ngecek anak anak yang lagi nonton. Mereka ajak aku petik pisang. Yaudah aku petik."


"Kamu petik sendiri?"

__ADS_1


"Iya. lah."


"Bahaya tau. Jangan diulangi lagi. Aku nggak suka."


"Kan nggak tinggi juga Dad pohonnya."


"Pokoknya jangan diulangi lagi. Kamu nggak boleh kecapean. Kamu dengar kan pesan dokter. Aku tuh khawatir sama kamu. Aku nggak mau terjadi sesuatu pada sama kamu."


"Iya Maaf buat kamu khawatir. Nggak lagi lagi deh."


"Dimaaafkan. Suapi lagi."


"Ah iya." Val meneruskan menyuapi suaminya.


"Berarti selama aku tidur nggak kamu temani dong."


"Aku temani. Tapi waktu kamu tidurnya pules banget aku keluar."


"Kamu begitu ya... Nakal." Mario mencubit pelan hidung mancung Istrinya.


"Dad."


"Ya sayang."


"Dad mau nggak punya anak perempuan satu lagi. Biar nanti pas cowok 2 cewek 2."


"Nggak, udah cukup."


"Kok gitu Dad?"


"Ya aku rasa sudah cukup punya tiga anak. Nggak perlu nambah lagi."


"Yang pertama aku nggak mau perhatian kamu terbagi lagi. Yang kedua, aku nggak tega lihat kamu kesakitan saat melahirkan lagi. Dulu aku pernah bilang kalau si kembar aja udah cukup nggak usah hamil lagi tapi kamu ngeyel dan hasilnya Van lahir. Yang ketiga, dengan kondisi kamu yang seperti ini aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu."


"Daddy nggak mau Van lahir?" Tanya gadis kecil itu yang tiba tiba berada di dekat pintu.


"Van." Keduanya terkejut.


"Bukan begitu Van." Kata Mario Melihat anaknya menangis.


"Daddy jahat." Van berlari meninggalkan mereka.


"Dad kalo ngomong suka sembarangan." Val menyusul anaknya.


Mario memijit pelipisnya yang berdenyut. Ia menghela nafasnya. Mario yakin anaknya merajuk sekarang.


"Sayang jangan nangis."


"Daddy nggak mau Van ada. Daddy jahat."


"Maksud Daddy bukan begitu Sayang. Daddy nggak jahat."


"Mom bohong. Daddy memang nggak sayang sama Van."


Val memeluk anaknya lebih erat, mencoba menenangkan Van yang kini sudah menangis sesenggukan.


Mario memasuki kamar anaknya. Ia melihat sang istri tengah menenangkan Van yang sedang menangis.


"Van."

__ADS_1


"Daddy jahat."


"Bukan begitu maksud Daddy. Daddy cuman ga mau Mom kesakitan saat melahirkan. Oleh karena itu Daddy dulu berencana hanya memiliki dua anak saja. Namun Van tiba tiba hadir. Daddy sayang sama Van seperti Daddy sayang sama anak anak Daddy yang lainnya. Apalagi Van adalah satu satunya anak perempuan Daddy. Nggak mungkin kalau Daddy nggak sayang sama Van."


"Daddy bohong."


"Astaga Van Daddy nggak bohong. Waktu kamu lahir Daddy sendiri yang mandikan kamu untuk pertama kalinya. Jadi Daddy nggak mungkin nggak sayang sama kamu. Kalo kamu nggak percaya tanya saja sama Mom."


"Benar Mom?"


"Iya. Nggak tau. Katanya sih begitu."


"By. Kamu kok gitu."


"Ah iya iya. Daddy yang mandiin Van. Daddy sayang sama Van seperti Daddy sayang sama kakak kakak Van." Kata Val sambil mengusap air mata anaknya.


"Jadi Daddy sayang sama Van?"


"Tentu saja. Van kan anak Daddy. Sekarang nggak ngambek lagi kan?"


"Enggak."


"Gitu dong." Mario mengecup kening putrinya.


"Astaga." Val kaget sambil mengelus dadanya melihat Mario tiba tiba sudah ada di depannya saat menutup pintu.


"Kamu ngagetin aja Dad"


" Kamu kemana aja sih By? Keluar kok nggak bilang bilang."


"Yaampun. Aku lagi buang sampah di depan. Masa buang sampah sebentar aja harus tunggu kamu kelar mandi."


"Aku cari kamu ke dapur, ke belakang juga nggak ada."


"Iya lah. Kan aku buang sampahnya di depan."


"Bisa aja. Jawabnya."


"Kenapa sih?"


"Temani aku ke barbershop. Aku mau potong rambut."


"Pergi sendiri Dad. Aku lagi males keluar."


"Ayo dong By."


"Kenapa sih? gamau ah. Disana banyak cowoknya. Ntar kamu cemburu dan bikin onar kaya pas beli tenda kemarin lagi." Kata Val karena takut suaminya cemburu seperti kemarin saat membeli tenda. Mario yang cemburuan memaki salah satu pembeli yang tidak sengaja memegang tangan istrinya karena salah orang.


"Nggak ada. Aku udah reservasi tempatnya. Satu barbershop buat aku."


"Gamau. Pergi sendiri."


"Ayo dong By. Aku udah bawain tas kamu nih."


"Astaga. Niat banget. Ayo kalo gitu."


"Makasih Sayang." Mario menciumi wajah istrinya.


"Jangan banyak tingkah. Atau aku nggak jadi temenin kamu."

__ADS_1


"Iya iya." Pria itu menggandeng tangan istrinya girang untuk berangkat.


__ADS_2