
"Dad bangun dong." Val menarik selimut suaminya agar segera bangun. Pria itu sudah berjanji hari ini akan bersepeda sama sama. Namun Mario setelah sholat tadi malah tidur lagi.
"Um...Masih ngantuk By." Jawabnya sambil menarik Val hingga wanita itu terjatuh di atasnya.
"Dad. Lepasin." Kata Val membuat Mario lebih mengeratkan pelukannya.
"Ih Dad. Kamu keterlaluan. Tangan kamu berat tau." Keluh Val merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak.
"Dad. Kalo kamu nggak mau lepasin juga. Malam ini jangan tidur sama aku."
"Ah. Iya iya." Mario langsung bangun setelah mendapat ancaman dari sang istri.
"Aku tunggu di bawah. Kasian anak anak udah nunggu kamu dari tadi."
"Tunggu aku disini aja. Aku mau cuci muka dulu."
"Yaudah cepet."
"Iya." Mario langsung ke kamar mandi sementara Val membereskan tempat tidurnya.
"Maaf ya nunggu lama. Daddy bangunnya susah."
"Daddy."
"Dah. Nggak usah protes. Kalian duluan. Biar Mom sama Daddy aja."
"Aku naik sepeda sendiri dong Dad."
"Nggak. Aku bonceng aja."
"Tapi Dad..."
"Kalo nggak nurut nggak usah pergi. Kita dirumah aja."
"Iya iya." Val menurut langsung duduk di boncengan.
Mario mengayuh sepedanya mengikuti anak anak yang sudah lebih dulu.
"Pegangan. Nanti kamu jatuh."
"Ini juga pegangan Dad."
"Pegangan di pinggang bukan disitu."
"Iya iya." Val langsung memeluk pinggang suaminya. Mario tersenyum merasakan tangan Val memeluknya dengan erat.
Val, Mario dan anak anaknya beristirahat di taman sambil minum.
"Dad beli bakso yuk."
"Jangan jajan di luar. Nanti aku suruh orang di rumah buatin."
"Rasanya beda Dad."
"Sama aja. Sama sama pake daging juga. Malah di rumah kebersihannya lebih terjamin."
"Mupung disini Dad."
"Nggak."
"Yah..."
"Udah Mom. Makan dirumah aja. Lebih bersih."
"Tuh dengerin."
"Ah kalian sama aja." Kata Val melihat kekompakan anak anak dan suaminya.
"Mom."
__ADS_1
"Ya sayang."
"Itu tempat Les kan?"
"Iya. Kalian mau gabung?"
"Nggak deh. Kita belajar sendiri aja lebih enak."
"Dari dulu kalian kan emang nggak mau kalo disuruh ikut Les."
"Ga enak Mom. Enakan juga belajar sendiri lebih fokus."
"Fokus apanya. Nilai kalian turun semua. Kembar itu sejalan. Tapi nggak gini juga. Masak Veer turun Ved juga."
"Maaf Dad. Kita janji bakal perbaiki."
"Dad pegang janji kalian. Awas aja kalo sampai nggak naik nilainya. Dad bakal masukin kalian ke pesantren."
"Jangan Dad. Kita akan perbaiki nilai kita kok."
"Bagus. Mom suka kalo kalian semangat begini."
"Mom. Minum Van habis."
"Minum punya Mom aja."
"Makasih Mom."
"Sama sama sayang."
"Mom." Ladit langsung memeluk Val saat melihat kedatangan wanita itu.
"Kesini nggak bilang bilang. Kamu sama siapa?"
"Sama Papanya." Kata Frans keluar dari rumah.
"Kok nggak kasih kabar mau kesini."
"Dad."
"Alah nggak penting." Jawab Mario cuek.
"Kak Ladit jangan peluk peluk Mommy kita ya." Ketiganya memperingati.
"Biarin." Ladit malah mengeratkan pelukannya pada Val.
Selesai sholat mereka langsung makan siang bersama.
"Mom."
"Ya."
"Masakan Mom enak banget."
"Alah. Bilangnya juga begitu tiap makan masakan Mom."
"Memang enak kok."
"Udah jangan pada ribut. Dilanjutkan makannya."
"Iya."
"Pengen cobain bakso kamu By."
"Ini ambil."
"Suapi."
"Astaga Mario." Gumam Frans jengah dengan tingkah sahabatnya itu.
__ADS_1
"Ladit." Panggil Val dengan lembut.
"Ya Mom."
"Mom mau ngomong sama kamu."
"Ada apa Mom?" Ladit meletakkan ponselnya.
"Papa katanya di panggil ke sekolah gara gara kamu berantem sama teman kamu ya?" Tanya Val sambil mengelus kepala Ladit. Mereka semua hanya memperhatikan Keduanya.
"Iya Mom."
"Coba cerita sama Mom kejadiannya bagaimana."
"Jadi gini Mom. Ladit sebenarnya sudah tahan diri buat nggak ladenin mereka. Mereka udah Bully Ladit semenjak SMP dulu. Ladit dikatain anak pelacur. Ladit coba sabar tapi mereka makin parah. Ladit nggak bisa tahan diri lagi Mom. Ladit sakit hati. Mama Ladit yang berdosa kenapa Ladit yang dibawa bawa. Ladit kan nggak salah Mom. Ladit kalo boleh milih juga nggak mau punya Ibu pelacur. Ladit kalo boleh milih pengen dilahirin sebagai anak Mom aja. Tapi semunya kan takdir Mom. Ladit nggak bisa ubah itu." Katanya dengan mata yang berkaca kaca. Val meneteskan air matanya. Ia memeluk remaja itu dengan penuh kasih sayang. Tangis Ladit pecah saat berada dalam pelukan Val. Semua yang Ia pendam serasa di keluarkan saat ini juga. Ia menagih keras. Tangisannya sebagai anak dan seorang lelaki. Val menepuk punggung Ladit agar merasa lebih tenang.
"Papa juga begitu. Papa nggak pernah tanya perasaan Ladit gimana. Papa sibuk dengan dunianya sendiri. Papa nggak pernah ngertiin Ladit."
"Ladit..." Kata Frans tidak terima. Ia memang sibuk bekerja namun juga masih sempat ada waktu untuk anaknya. Hanya saja Ia memang tak pernah tanya keluh kesah Ladit. Menurut Frans mengajak jalan jalan dan membelikan apa yang remaja itu inginkan sudah cukup.
Val menggeleng memberi kode untuk Frans agar tidak mengganggu dulu.
"Dah... Jangan sedih lagi. Kamu kan masih punya Mom. Kalo mau cerita apa aja sama Mom kan bisa."
"Ladit takut membebani Mom."
"Nggak kok. Mom malah seneng kalo anak anak Mom semuanya terbuka sama Mom. Mom seneng dianggap teman curhat sama kalian."
"Makasih Mom."
"Sama sama. Sekarang minum dulu biar tenang." Val membantu Ladit untuk minum.
Tersisa mereka bertiga yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Om. Mama Ladit sebenarnya kemana?"
"Nggak tau. Kata temennya sih dia ke Belanda. Udah tinggal seatap tanpa ikatan pernikahan."
"Nggak pernah tanya kabar Ladit?"
"Nggak."
"Makannya kesalahan di club' malam ya gini. Enaknya semalam menderitanya sampai nanti."
"Dad." Tegur Val.
"Iya. Emang Mario ngga salah. Coba aja dulu aku nurut sama Mario buat berhenti datang ke tempat itu. Pasti nggak akan serumit ini."
Frans kala itu pergi ke club' untuk merayakan hari ulang tahunnya. Ia mabuk dan tanpa sengaja menghamili Mama Ladit. Frans bertanggung jawab dan mencoba menerima wanita yang tidak Ia cintai sama sekali. Frans bertekad membangun rumah tangga yang harmonis. Hingga saat Ladit berusia 7 tahun Mama Ladit kembali bermain lelaki. Sering pulang malam dalam keadaan mabuk dan tak memperdulikan anaknya. Wanita itu bahkan tak segan segan membawa selingkuhannya pulang ke rumah. Sampai sampai Frans malu dengan tetangga. Hingga saat Ladit SMP wanita itu benar benar meninggalkan Ladit dan bercerai dengan Frans. Frans dengan senang hati melepaskan karena tak ada rasa sama sekali. Ia sekarang nyaman hidup tenang berdua dengan Ladit saja.
"Mom temani Van Yuk."
"Mau kemana Sayang?"
"Mau beli Makanan kucing di minimarket depan."
"Iya. Dad aku pergi dulu ya."
"Ya. Jangan lama lama."
"Iya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati hati By. Jangan lama lama."
"Iya."
"Enak punya Bini nurut begitu."
"Iya. Makannya kalo hamilin orang liat liat bobot, bibit dan bebetnya dong. Jangan asal masukin aja. Masa wanita kaya gitu kamu tinggalin benih."
__ADS_1
"Bego. Orang mabuk mana sadar." Katanya dengan kesal sambil melemparkan bantal ke arah Mario.