
Val tengah asyik bersama Jeje bersantai sambil menonton film di kamar gadis itu. Semuanya tak luput dari perhatian Mario yang dengan fokus memperhatikan layar laptopnya. Ia sangat geram melihat bocah itu duduk sambil memeluk Valerie.
"Tunggu dulu Vale." Jeje bangkit dari duduknya.
"Ada apa kak?"
"Kakak curiga di kamar kamu ada sesuatu." Katanya terdengar oleh Mario.
"Tolong matikan TVnya Vale."
"Iya Kak."
Jeje terus berjalan menuju tempat kamera itu di sembunyikan.
"Sialan." Umpat Mario melihat satu satunya kamera di sana di ambil oleh Jeje. Belum sampai disitu. Jeje juga berhasil menemukan tempat penyadap itu berada.
"Kakak tau darimana?"
"Inilah untungnya kita sering lihat film. Kakak curiga ada cahaya kecil merah di sekitar TV. Ternyata kamera dan alat penyadap. Kita harus lapor Papi Vale."
"Biarin kak. Kita buang aja."
"Tapi biar diusut sama Papi kamu."
"Yasudah kita bilang." Kata Val setuju.
Mendapat aduan dari sang anak, Papi Vale langsung bergegas menyuruh orang untuk menyelidiki.
"Sepertinya orang yang bersih bersih Tuan." Lapornya setelah melihat CCTV.
"Cari mereka."
"Maaf Tuan. Ternyata mereka bukan agen resmi. Mereka hanya orang suruhan saja. Lalu sekarang keberadaanya entah kemana."
"Baiklah. Pastikan semua disini aman dari kamera atau alat penyadap apapun. Satu lagi. Jangan ceroboh lagi memanggil orang untuk bersih bersih di rumah ini. Sampaikan pada semuanya untuk memperketat penjagaan."
"Baik Tuan."
Mami Val tak berhenti memeluk anak gadisnya khawatir.
Disisi lain Mario sedang mengamuk karena alat yang Ia pakai harus hilang karena ulah bocah itu. Ia tak bisa lagi mengamati dan mendengar suara Val setiap paginya.
"Dasar kurang ajar." Teriaknya menggema di ruang kerja.
"Aku harus bagaimana?" Tanyanya pada diri sendiri sambil mondar mandir.
"Akh..." Mario mengacak acak rambutnya.
Setelah makan siang Vale berpamitan kepada Papinya untuk ke swalayan membeli sesuatu.
"Pi Val ke swalayan ya."
"Mau beli apa? Suruh Bibi saja."
"Mau beli cemilan. Val berangkat sendiri aja Pi. Val lebih leluasa milihnya."
__ADS_1
"Jeje mana?"
"Ketiduran."
"Yasudah. Minta antar supir."
"Iya Pi."
Mario mendapat laporan Val berbelanja di swalayan langsung menuju kesana. Pria itu sebenarnya enggan namun demi cinta Ia rela berada di tempat yang belum pernah Ia datangi.
Mario mendorong trolinya berpura pura berbelanja seperti orang lain agar terlihat natural sambil menunggu Val datang.
Ia melihat gadisnya baru saja datang sambil mendorong troli. Val begitu sibuk memilih tak menyadari Mario yang berjalan ke arahnya.
"Val. Kamu disini?"
"Iya Om. Mau beli cemilan. Om belanja sendiri?"
"Iya. Lagi pengen aja. Sesekali." bohongnya.
"Sendiri Om?"
"Sama supir lagi nunggu di depan. Kamu?"
"Sama supir juga."
"Val kita ngopi dulu di depan yuk sebelum pulang." Ajak Mario.
"Depan ada tempat ngopi?"
"Boleh deh Om." Kata Val tak enak menolak.
Keduanya sedang duduk saling berhadapan sambil meminum minuman masing masing. Mario memesan cappucino sedangkan Val memesan latte.
"Om biasa belanja sendiri?"
"Enggak, ini baru pertama kali. Soalnya Om juga bosen dirumah nggak ada kegiatan."
"Oh."
"Kamu makin hari makin cantik Val."
"Biasa aja Om. Val tetap sama."
"Bener. Om nggak bohong."
Val hanya tersenyum menanggapi pria itu.
"Umur kamu 16 sudah mau pacaran Val?"
"Belum Om. Masih enak sendiri. Val tidak berfikir dulu untuk masalah itu. Val mau fokus ke cafe sama restauran."
"Oh begitu."
"Iya. Om sendiri bagaimana? Sudah menemukan yang cocok?"
__ADS_1
"Om curhat nggak papa ya Val. Om nggak ada teman buat diajak bicara. Om tidak sembarang menaruh kepercayaan ke orang."
"Cerita aja Om."
"Sebenarnya Om suka sama seseorang. Tapi dia nggak sadar kalo Om suka sama dia. Umur kita juga beda jauh."
"Om sudah pernah ngomong belum?"
"Om belum pernah ngomong. Tapi berkali kali Om kasih kode dia nggak peka."
"Tidak semua cewek peka Om."
'Itu kamu nggak peka Val Sayang.' Batin Mario gemas dengan gadis di depannya.
"Seberapa keras usaha Om buat dapatkan dia?"
"Om sudah coba dekati keluarganya, Om sudah berusaha jumpa dia setiap hari, Om bersikap baik sama dia. Tapi dianya nggak ada ketertarikan sama Om."
"Kalo jodoh bakal dipersatukan Om. Om santai saja."
'Astaga Val aku gigit pipi kamu lama lama.' pikirnya karena Val belum sadar juga yang sedang dibahas saat ini adalah dia.
"Iya. Kamu benar."
"Oh iya Om. Aku punya sesuatu untuk Om. Dari kemarin kemarin Val mau kasih tapi Val lupa." Gadis itu mengobrak abrik isi tasnya.
"Ini Om." Menyerahkan kotak ke Mario.
"Om buka ya." Kata Mario sangat bahagia.
Laki laki itu cukup terkejut melihat isi kotak ternyata sebuah tasbih cantik dan Alquran kecil nan indah.
"Itu Val beli waktu Val umrah. Masih Val simpan dengan baik. Semoga Om suka."
"Om suka Val. Terimakasih ya."
"Sama sama Om. Kalo gitu Val pulang dulu ya Om."
"Iya Val. Hati hati."
"Om juga."
Mario memandang kepergian gadis itu.
Semua pekerja tampak heran dengan Mario. Pagi tadi pria itu begitu marah. Sekarang pulang dari luar tiba tiba tersenyum sumringah. Mereka takut Tuannya ada suatu gangguan di otaknya. Pria itu begitu mudah emosi kini tersenyum bahagia. Selama mereka bekerja di sana ini baru pertama kalinya mereka melihat seorang Mario begitu bahagia. Wajah datarnya dihiasi senyum yang begitu tulus dari hati.
Mario bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia tak berhenti menatap hadiah yang diberikan Val untuknya. Ia sudah memerintahkan pelayan untuk menyiapkan salah satu koleksi barang mewahnya yang bisa dipakai untuk memajang hadiah dari Val.
"Ini tuan." Sambil menyerahkan kotak kaca yang indah.
"Ya. Kalian boleh pergi."
"Baik Tuan.Permisi."
Mario menata Alquran dan tasbih itu ke dalam kotak. Lalu Ia menaruhnya di meja berjejer rapi dengan barang barang estetiknya yang mewah.
__ADS_1
"Terimakasih Val Sayang." Katanya sambil mencium kotak kaca itu.