Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Minta Apresiasi


__ADS_3

Mario membereskan berkas berkasnya yang baru saja Ia tandatangani. Pria itu meraih ponselnya untuk menghubungi Sang Istri.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. By. Kamu dari tadi di telpon kok nggak diangkat."


"Maaf Dad. Aku baru pegang Hp."


"Kamu baik baik aja kan?"


"Iya."


"Ok. Aku mau pulang sekarang."


"Hati hati."


"Iya Sayang. Love You."


"Hm. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Mario menghela napas atas sikap cuek Val. "Nggak bisa diajak romantis." Gerutunya kemudian memasukkan ponselnya pada saku jas.


"Bos." Panggil Frans berjalan cepat mengejar Mario yang berada di lobby.


"Ada apa?"


"Mau pulang ya?"


"Ya."


"Ikut."


"Nggak. Lagian ini juga belum jam pulang."


"Kerjaan aku udah beres semua Bos. Ayo ke rumah kamu. Aku mau numpang makan siang."


"Dasar. Nggak tau malu." Kata Mario meninggalkan Frans.


"By." Mario langsung mencium istrinya begitu sampai di rumah.


"Om Frans."


"Iya. Aku mau makan siang disini sekalian boleh kan?"


"Boleh Om. Ladit juga disini."


"Oh anak itu. Pantesan di telponin nggak diangkat."


"Yaudah Kamu tunggu aja di ruang makan. Aku mau mandi dulu."


"Aku juga mau mandi dulu." Kata Frans pergi ke kamar tamu.


"Sialan. Ngelunjak dia."


"Dad." Tegur Val pada suaminya yang berkata kasar.


"Temani aku mandi ya."


"Baju kamu udah aku siapin. Mandi sendiri sana."


"Ayo dong By."


"Hm. Iya."


Makan siang sedang berlangsung. Mario makan sepiring berdua dengan istrinya.


"Udah Dad. Aku kekenyangan."


"Kamu baru makan beberapa suap."


"Udah penuh rasanya perut aku. Nanti kalo dipaksain malah mual."


"Yasudah." Kata Mario tak ingin memaksa.


"Val. Kamu makin kurus aja."


"Mom makannya susah."


"Makan yang banyak dong Mom biar cepat sehat."


"Iya."


"Kita nanti ke dokter."


"Mau ngapain?"


"Mau konsultasi. Kamu minum suplemen sama susu juga masih tetep kurus. Waktu itu kamu udah agak berisi badannya. Sekarang sakit kurus lagi."


"Nggak usah Dad. Aku nggak papa."


"Nggak. Pokoknya sore nanti kita ke dokter. Kalian di rumah." Kata Mario sebelum anaknya menyela.


"Dad. Kita ikut dong."


"Nggak. Kalian di rumah." Tegas Mario membuat anak anaknya diam.


Mario melepas jilbab istrinya sebelum tidur siang.


"Masa aku makin kurus Dad?"


"Iya. Makannya makan yang banyak biar agak berisi?"


"Kamu suka yang berisi?"


"Aku suka kamu apa adanya. Tapi kalo kurus begini kan buat aku khawatir. Aku nggak tega liat kamu kaya gini. Aku mau kamu sehat By."

__ADS_1


"Kirain."


"Jangan berfikiran yang macam macam." Mario mengecup bibir istrinya.


"Iya."


"Yasudah. Ayo tidur. Nanti sore kita ke rumah sakit."


"Iya."


Val membaringkan tubuhnya di ranjang diikuti sang suami.


"Kamu ngapain?"Tanya Val merasakan tangan suaminya bergerak di balik gamis dan menuju di bawah sana.


"Oh By Sayang. Aku pengen. Sudah dua hari aku nggak kamu kasih jatah." Mario mulai melepaskan celananya.


"Dad. Katanya mau tidur?"


"Nanti. Kita main satu ronde dulu ya. Aku akan pelan."


"Yah...Dad."


"Sebentar saja."


Mario memulai aksinya hingga membuat istrinya kelelahan.


"Masih kuat?" Tanya Mario dengan nafas terengah engah membelai lembut wajah istrinya.


"Sudah berkali kali. Aku mau tidur."


"Baiklah. Tidurlah Sayang." Pria itu ikut tidur mendekap sang tubuh Val dengan hangat.


Sore hari keduanya sudah berada di rumah sakit untuk konsultasi perihal kondisi Val.


"Bagaimana Tuan?"


"Susu sama Vitaminnya sudah diminum tiap hari. Tapi istri saya tetap saja susah makannya."


"Diganti saja bagaimana?"


"Tidak perlu dok. Sudah terlalu sering Gonta ganti tapi sama saja."


"Coba yang ini dulu By." Kata Mario lembut pada istrinya.


"Yasudah."


"Memangnya Nyonya tidak makan sama sekali?"


"Makan kok dok. Tapi males aja. Baru beberapa suap udah nggak mau lagi. Sebenarnya kalo makan junk food atau fast food dia mau. Tapi saya takut kesehatannya terganggu. Makanya tidak saya turuti."


"Oh. Iya. Benar Pak, makanan itu memang berbahaya. Ini saya beri vitamin dan susu yang baru. Diminum saat sarapan dan makan malam ya."


"Baik dok. Terimakasih."


"Sama sama."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kok lama Mom?"


"Maaf ya. Mancet banget tadi."


"Mom sudah makan?"


"Belum. Kalian?"


"Kita tunggu Mom."


"Tadi kan Mom bilang makan duluan saja."


"Nggak ah Mom. Kita mau makan sama Mom."


"Yaudah ayo makan."


"Iya Mom."


"Aku bikinin susu kamu dulu By."


"Biar aku aja. Aku bisa kok."


"Aku aja. Kamu tunggu di ruang makan."


"Baiklah. Makasih Dad."


"Sama sama Sayang." Mario langsung bergegas ke dapur setelah mengecup kening istrinya.


"Ini diminum dulu mupung masih anget."


"Nggak pake es batu Dad?"


"Nggak. Malem malem jangan minum es. Nanti kamu pilek. Diminum dulu pelan pelan."


"Iya." Val langsung meneguk susunya sampai habis.


"Rasanya beda?"


"Iya. Lebih enak yang ini."


"Mom ganti susu lagi?"


"Iya. Soalnya yang kemarin nggak cocok."


"Oh."


"Kamu mau makan pake apa By? sepiring berdua sama aku. Biar aku yang suapi."

__ADS_1


"Biar aku aja Dad."


Val mengambil lauk dan mulai menyuapi suaminya pakai tangan kosong.


"Makan pakai tangan enak ya Mom?"


"Enak. Coba aja."


"Iya." Ketiganya mengikuti Mommynya.


"Gimana enak kan?"


"Enak juga."


"Aku nggak mau pake itu By." Kata Mario menunjuk kentang balado di piring.


"Kenapa? biasanya kamu paling doyan."


"Itu kalo kamu yang masak. Ini kan bukan kamu yang masak. Rasanya lain."


"Maaf ya. Besok aku akan masak."


"Nggak perlu. Kamu sembuh aja dulu baru masak lagi. Sekarang prioritas utama itu adalah kesehatan kamu."


"Aku udah sehat Dad."


"Belum sehat total. Kamu masih dalam proses penyembuhan."


"Ya. Tapi aku akan hati hati kok. Kasih izin ya."


"Iya." Kata Mario dengan berat hati.


"Makasih Dad."


"Sama sama."


Val dan anak anak sedang berkumpul di ruang keluarga sambil menonton Film.


"Permisi Tuan."


"Ada apa?"


"Tuan dicari Pak RT. Katanya penting."


"Coba kamu kesana Dad."


"Iya. Aku kesana dulu." Kata Mario sambil mencium kening istrinya sebelum pergi.


"kalian nggak tidur?"


"Besok libur Mom. Kita mau nonton dulu."


"Mom mau popcorn?"


"Boleh." Jawab Val langsung disuapi oleh anak anaknya.


Mario menghampiri seorang lelaki yang sedang mondar mandir.


"Pak Mario gawat."


"Ada apa?"


"Mari ikut saya. Ada perang dunia dua." Katanya sambil menarik tangan Mario hingga keduanya sampai di TKP. Suasana begitu gaduh di sana. Warga tak berhenti berkata kasar sambil menggedor pintu rumah yang tertutup rapat.


Val masih menunggu Mario sedangkan anak anak sudah pergi ke kamarnya masing masing. Pria itu datang dengan wajah kesal karena waktu bersama sang istri diganggu oleh sesuatu yang tidak penting baginya. Ia langsung duduk sambil memeluk Istrinya dengan kaki yang dinaikkan untuk mengapit tubuh Val.


"Ada apa Dad?"


"Hah. Sialan. Ganggu orang aja. Dasar ******. Nggak kapok kapok bikin ulah."


"Mulutnya."


"Aku kesel."


"Kenapa?"


"Masa aku disuruh urusin orang berzina."


"Siapa yang berzina?"


"Siapa lagi kalo bukan janda baru itu. Dia main sama dua laki laki sekaligus. Digrebek deh. Langsung di adili di rumah pak RT."


"Main?"


"Iya. Bersetubuh sama dua orang sekaligus. Gimana cara mainnya? Masuk sama sama atau gantian?"


"Gitu aja kamu pikirin. Terus gimana?"


"Nggak tau. Aku langsung pulang. Aku bilang mau jagain kamu."


"Terus kamu tadi datang kesana ngapain?"


"Bantu tenangin warga. Kalo nggak, udah melayang nyawa tiga orang itu di gebukin."


"Bisa bisanya begitu."


"Kamu ngantuk nggak. Ayo lanjutin yang tadi siang."


"Kan aku udah bilang kalo siang minta malamnya udah nggak dapat jatah."


"Aku hari ini berbuat kebaikan menolong tetangga lo. Masa nggak di beri apresiasi."


"Aku cium." Val langsung mencium bibir suaminya.


"Ini bukan solusi. Kamu malah bikin yang di bawah bangkit. Sekarang aku minta pertanggungjawaban dari kamu." Mario langsung menggendong Val untuk dibawa ke kamar.


"Dad. Aku ngantuk."

__ADS_1


"Makannya ayo olahraga biar nggak ngantuk." Kata Mario langsung memulai aksinya.


__ADS_2