Kesayangan Tuan Kejam Mario

Kesayangan Tuan Kejam Mario
Ngeri Juga


__ADS_3

Val sudah sibuk sedari pagi karena pengunjung terus bertambah bukannya berkurang. Apalagi di saat makan siang seperti ini. Restoran dan cafenya penuh.


Val sekarang sedang beralih dari dapur menjadi barista. Ia dengan cekatan membuatkan pesanan yang terus berdatangan.


"Meja nomor 5. Dua latte dan satu ekspresso."


"Meja 7. Satu Ice taro latte dan 2 Milo on top."


"Meja 13. Blue ocean soda dan dua frappuccino."


"Meja 27. dua Royal hot chocolate dan Citrus squash."


"Meja 31. tiga Cold brew dan MC punch Siap."


Kata Val. Pelayan langsung datang untuk mengantarkan pesanan.


"Non. Yang datang makin banyak aja."


"Ayo semangat." Kata Val terus bekerja. Ia mengabaikan ponselnya yang terus berdering. Ia sudah mengira bahwa itu adalah Mami atau Papi atau bahkan Jeje yang mengingatkan untuk jangan telat makan.


"Mbak. Kirim chat untuk mereka." Kata Val memerintahkan karyawannya.


Jujur mereka takut memegang HP mahal milik majikannya.


"Mbak."


"Eh. Iya Non. Dibalas bagaimana?"


"Ok. Gitu aja."


"Baik Non." Katanya langsung melaksanakan perintah.


"Siapa saja?"


"Ada Papi, Mami, Kak Jeje dan Om Mario."


"Om Mario?"


"Iya Non."


"Oh." tidak ambil pusing lalu melanjutkan kerjanya.


Val beristirahat di ruang kerjanya. Melayani begitu banyak besanan membuatnya lelah. Ia meminum segelas air dan makan apel yang ada di meja kerjanya.


"Nona." Seorang pelayan mengetuk dan membuka pintu ruangan Val.


"Ya."


"Nona dijemput Tuan Jeje."


"Ok. Suruh tunggu aku mau bersih bersih dulu."


"Baik Non."


"Vale Sayang." Jeje tak malu memeluk Val di depan semua orang.


"Idih. Kaya ga ketemu setahun aja."


"Kamu udah maka?"


"Sudah." bohongnya.


"Jalan jalan yuk. Sekalian kakak mau belanja kebutuhan."


"Dah izin Mami?"


"Udah."


"Yaudah Ayo."


Jeje menggandeng tangan Vale. Keduanya berangkat tanpa menyadari ada beberapa mata mata yang mengikuti.


Mario seperti biasa. Dia mengumpat dan berkata kasar mendapat laporan dari orang orang kepercayaannya.


"Dimana mereka sekarang?"

__ADS_1


"Di Mall Tuan. Nona sedang berbelanja."


"Awasi terus. Laporkan semua kegiatannya padaku."


"Baik Tuan."


Mario mematikan panggilannya.


Val menemani Jeje membeli baju setelah mereka berbelanja kebutuhan dapur. Rencananya kedua orang itu akan memasak di apartemen Jeje untuk makan malam.


"Tolong pilihkan Vale."


"Kebiasaan deh. Dari dulu nggak berubah." Kata Val tersenyum. Gadis itu memilih satu kemeja abu abu dan menempelkannya ke badan Jeje.


"Ganteng kalo pake ini."


"Ok Kakak ambil. Yang lain lagi?"


"Yang biru juga bagus."


"Ok deh. Kita bayar dulu."


"Sudah semua?"


"Sudah. Celana, kaos dan kemeja sudah semua."


"Kamu mau sesuatu?"


"Nggak. Dibeliin Mami juga aku nggak pernah pakek."


"Ok deh."


Setelah membayar Mereka langsung menuju ke apartemen.


Suara pecahan kaca terdengar di ruangan Mario. Pria itu membanting gelas yang ada di mejanya. Baru saja kemarin Ia senang mendapat hadiah dari Val, kini hatinya dibuat hancur lagi melihat keduanya masuk ke apartemen bersama. Mario tidak bisa melihat apa kegiatan mereka di dalam. Pikirannya begitu kacau. Jika Ia datang menghampiri maka semua rencana yang dia bangun selama ini akan hancur.


"Astaga Val. Kenapa kau datang membuatku jatuh cinta dan juga tersiksa." Teriaknya.


Val sedang memasak di dapur dibantu Jeje. Pria itu hanya membantu sebisanya. Ia tidak terlalu mengerti tentang memasak.


"Sebelum Makan mandi dulu Val sekalian sholat. Gerah."


"Iya kak."


"Kamar kamu disana ya."


"Ok." Val langsung bergegas menuju kamar yang ditunjuk Jeje.


Selesai mandi dan sholat keduanya makan malam bersama.


Mereka makan di bawah dengan tangan kosong sambil menikmati pemandangan kota yang indah dari jendela kaca yang besar.


"Disini bagus ya."


"Iya. Kamu suka?"


"Suka."


Jeje sangat ingin mengungkapkan perasaannya. Namun lidahnya keluh Ia juga takut nantinya Val akan menjauh.


"Kakak kenapa ngelamun? Kesambet ntar."


"Kamu cantik Val."


"Kan cewek. Kakak juga ganteng."


"Iyakah?"


"Iya."


"1 sampai 10 kasih nilai berapa?"


"9,001."


"Wih. Berarti ganteng banget."

__ADS_1


"Ih. Udah dibilang gitu jangan narsis."


"Iya iya."


"Habis ini beli kebab yuk kak. Val pengen."


"Nanti Mami marah."


"Enggak. Santai aja."


"Kamu.."


"Beli ya..."


"Iya di depan ada."


"Ok." Val dengan semangat menghabiskan makannya.


Val dan Jeje tengah duduk di bangku taman menikmati kebab dengan latte hangat.


"Vale Om yang sering ngajakin kamu itu siapa namanya?"


"Siapa?"


"Itu loh. Teman Papi."


"Om Mario?"


"Iya. Kenapa sih dia sering ngajak kamu?"


"Dia belajar ngaji dan sholat sama aku."


"Oh. Vale aku boleh ngomong sesuatu sama kamu."


"Apa kak?"


"Menurut kakak ya."


"Iya."


"Dia kayanya suka sama kamu."


"Nggak mungkin lah. Kakak jangan ngaco. Umur beda jauh. Dia lebih cocok jadi Papi aku." Kata Val sambil tertawa.


"Vale Kakak nggak lagi bercanda lo. Kakak beneran ini. Kamu sadar nggak sih tatapan dia ke kamu itu kaya ada something."


"Ga tau ah. Aku juga nggak merhatiin."


"Kamu di sukai Om Om Val."


"Ih ngeledek. Bener enggaknya kita nggak tau."


"Kakak yakin dia suka sama kamu."


"Ngeri juga." Kata Val.


"Kamu harus hati hati Val. Dia kayanya tipe orang yang ambisius. Aku juga pernah denger dari teman aku kalo dia itu orangnya kejam."


"Dia baik sama aku."


"Ya kan dia suka sama kamu."


"Jangan bilang gitu ah." Kata Val sambil cemberut.


"Enggak enggak. Gausah ngambek gitu." Jeje memeluk Val. Ia kemudian mengajak Val berdiri.


"Mau kemana?"


"Jalan jalan aja. Ayo. Kalo disini jarang jalan kaki."


"Ayo."


Jeje menggandeng tangan Val. Mereka berjalan jalan di sekitar kawasan apartemen menikmati suasana malam di kota yang masih ramai. Jeje memakaikan kemejanya untuk Val agar gadis itu tidak kedinginan.


"Ih. Sok romantis."

__ADS_1


"Kamu ini. Diajak romantis malah bercanda." Jeje mengusap kepala Val.


__ADS_2