
Keluarga Mario sedang sarapan bersama.
"Mom sama Dad jadi kerja bakti?"
"Jadi dong."
"Kita dirumah aja ya Mom. Kita udah ada janji buat bersihin kebun sama pak Bon."
"Iya. Kalian bersihinnya hati hati."
"Ok Mom."
"By."
"Hm."
"Suapi punya kamu."
"Kenapa?"
"Pancake kamu kayanya lebih enak ada potongan buahnya segala."
"Tadi di samain nggak mau."
"Sekarang mau. Ayo suapi."
"Ah Daddy...." Kesal Ved melihat tingkah menyebalkan Daddynya.
"Biarin." Katanya sambil memakan suapan dari sang istri.
"Untung banget Mom orangnya sabar." Kata Van memperhatikan orangtuanya.
"Mom sama Dad berangkat dulu ya." Kata Val berpamitan pada anak anaknya.
"Iya Mom."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mario menggenggam tangan istirnya. Pria itu tak mau melepaskan padahal mereka sudah akan sampai di kerumunan warga yang sedang berkumpul.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Jawab mereka.
"Bu Val. Pak Mario."
"Iya." Jawab Val sambil tersenyum sedangkan Mario membuang mukanya melihat sosok wanita yang berpakaian ketat itu. Semua yang ada disana juga menyadari ketidaknyamanan Mario dan semua laki laki yang ada disana.
"Anak anak tidak ikut pak Mario?" Tanyanya dengan nada yang begitu lembut membuat semua yang ada di sana geram. Mario tidak menjawab.
"Ayo dimulai sebelum makin siang." Kata Mario tak ingin berlama lama dalam situasi seperti ini.
"Iya. Mari."
"Kamu hati hati By." Kata Pria itu sambil mengecup kening istrinya.
"Iya."
Val ikut bergabung dengan ibu ibu yang lain untuk menyapu dan merapikan tanaman.
"Ibu ibu lihat sendiri kan. Dasar wanita ganjen. Pakaiannya aja ketat begitu. Sengaja mau goda laki kita."
"Iya. Bu Val harus banget hati hati. Kayanya si Nana mau godain pak Mario deh."
"Iya Bu. Bahaya wanita itu. Apalagi sekarang udah jadi janda. Makin leluasa dia. Mau jadi pelakor."
"Iya Bu." Jawab Val seadanya.
Semuanya berkumpul untuk minum dan makan kue yang dibawa oleh Val setelah selesai bersih bersih.
__ADS_1
"Ini Bu Val sendiri yang buat?"
"Iya Bu."
"Enak. Sempat sempatnya. Jadi ngerepotin. Makasih ya Bu."
"Enggak repot kok Bu. Dibantu anak anak sama suami juga."
" Wah Pak Mario benar benar suami idaman ya. Bantu istri masak segala." Kata Nana menimpali obrolan mereka. Mario begitu jengah. Wanita itu tak berhenti memperhatikannya.
"Pak Mario. Di kantor pak Mario sedang cari sekertaris tidak? jika ada saya bisa kok jadi sekertaris." Katanya sambil menggenggam punggung tangan Mario. Semua orang yang ada disana terkejut sekaligus geram dengan tingkah wanita itu.
"Jangan sembarangan pegang tangan saya." Kata Mario dengan nada tinggi.
"Bu Nana jangan pegang pegang suami saya dong. Bukan muhrim." Val tidak terima.
Mario menggenggam tangan Val dan membantu istrinya berdiri.
"Jangan berani berani sentuh saya sedikitpun. Saya jijik. Kamu pikir kamu lebih hebat dari istri saya? dengan pakaian seperti ini kamu merasa kamu cantik? Kamu pikir kamu akan berhasil menggoda? tidak sama sekali. Dari awal saya sudah cukup muak dengan sikap kamu yang selalu memperhatikan saya dan cari perhatian sama saya dan laki-laki yang ada disini juga. Kami sudah punya istri dan Istri kami juga ada di sini. Benar benar tidak tahu malu. Ayo kita pulang By. Permisi." Mario menggandeng tangan istrinya untuk pergi dari sana. Semuanya diam tidak ada yang bicara. Mereka pergi satu persatu meninggalkan Nana sendiri.
"Daddy." Val memeluk Suaminya yang sedaritadi tidak berhenti mencuci tangan.
"Benar benar kurang ajar. Jijik aku." Katanya penuh emosi.
"Sudah dong Dad cuci tangannya. Nanti tangan kamu iritasi." Val meraih tangan Mario dan mengelapnya dengan lembut.
"Kamu tadi cemburu?" Tanya Mario saat Val menegur wanita itu tadi.
"Iya." Pria itu tersenyum atas jawaban singkat dari istrinya. Ia bahagia Val bisa cemburu seperti ini.
"Makasih." Katanya sambil memeluk sang istri dengan erat.
"Untuk?"
"Makasih karena sudah cemburu. Itu berati kamu cinta sama aku."
"Aku istri kamu Dad. Aku cinta dan sayang sama kamu."
"Katakan lagi. Aku nggak dengar."
"Katakan lagi By. Sangat jarang mendengar ungkapan cinta dari kamu." Mario menangkup wajah istrinya. Membimbing wanita itu untuk menatap matanya dalam dalam.
"Dad. Aku cinta dan sayang sama kamu." Katanya tulus tak ada keraguan sedikitpun.
"Begitu juga dengan aku. Aku juga cinta dan sayang banget sama kamu." Kata Mario sambil tersenyum manis pada sang Istri.
"Yaudah lepasin. Aku mau mandi.''
"Mandi nanti aja. Ayo olahraga siang dulu."
"Dad. Semalam sudah."
"Lagi." Mario langsung menggendong tubuh Val.
Pria itu membaringkan tubuh ringan Val di ranjang. Mario melepas jilbab istrinya dan mencium rambut Sang Istri yang begitu lembut dan wangi.
"Dad." Rengek Val di bawah suaminya.
"Sebentar saja." Kata Mario mulai melepas pakaiannya dan pakaian sang istri.
"Kamu nggak pernah lelah Dad?"
"Enggak."
"Kalo gitu ayo bikin anak cewek satu lagi."
"Enggak." Jawabnya sambil terus bermain di bagian bawah tubuh istrinya.
"Tuh Kamu sudah basah." Mario tersenyum menggoda. Tanpa izin seperti biasanya pria itu memasukkan miliknya pada sang istri.
"Sempit By. Ah....aku suka.." Kata Mario sambil memainkan pinggulnya. Val meremas sprei dengan erat. Keduanya bergerak erotis dan mengeluarkan nada nada yang saling bersautan.
__ADS_1
"By....Ah.....Nikmat." Kata Mario setelah menyelesaikan pelepasan pertamanya.
"Sudah Dad."
"Lagi. Aku mau lagi." Katanya sambil mengatur nafas. Val dibuat lemas karena suaminya. Mario tak pernah lelah selalu mau lagi dan lagi. Keduanya baru selesai saat sama sama berendam di bathup.
"Kalo gini. Nanti malam udah nggak dapat jatah." Kata Val sedang berendam sambil di pangku suaminya.
"Kok gitu. Aku nanti malam mau lagi."
"Nggak Dad. Dah capek aku."
"Kamu tidur terus aja. Nanti malam baru bangun buat aku."
"Nggak."
"Yah. Aku kan masih mau By. Tenaga aku masih full."
"Kamu minum jamu lagi ya?"
"Enggak. Aku nggak doyan. Nggak minum jamu aja bikin kamu lelah apalagi minum."
"Dad."
"Menurut kamu Bu Nana itu...?"
"Jangan bahas dia. Aku sama bapak bapak lainnya juga pada jijik lihat wanita itu. Dipikirnya kalo pakai baju ketat kita bakalan tergoda. Padahal nggak sama sekali." Kata Mario penuh penekanan.
"Mom sudah bangun?" Anak anak menghampiri Mommynya yang sedang makan eskrim dengan lahap.
"Sudah. Daritadi Mom sudah disini. Kalian mau?"
"Mom aja. Jangan banyak banyak. Nanti Mom batuk."
"Iya."
"By." Mario menghampiri mereka.
"Kamu pindah Daddy mau duduk di samping Mom."
"Nggak mau." Kata mereka kompak.
"Dah. Kamu ngalah."
"Kamu kok belain mereka By."
"Mereka kan sudah daritadi. Kamu yang baru datang cari tempat lain."
Mario mau tidak mau duduk di tempat yang agak berjauhan dari Sang istri.
"Nanti kita jalan jalan ya Mom."
"Mau kemana?"
"Kemana aja. Asalkan jalan jalan."
"Iya."
"Daddy di rumah aja ya. Kita sama pak supir aja."
"Wah....Nggak bisa gitu. Mom pergi Daddy juga harus ikut. Kalo Daddy nggak ikut nggak jadi pergi."
"Ih Daddy nyebelin."
"Memangnya kenapa kalo Dad ikut?"
"Ganggu Mom. Nempel mulu sama Mom. Kita kan nggak bisa seneng seneng sama Mom."
"Jangan mengeluh. Daddy bosnya disini."
"Yang punya uang kan Mommy." Jawab mereka tak mau kalah.
__ADS_1
"Yang punya kendali kan Daddy. Iya nggak By?"
"Tau ah." Kata Val jengah dengan keributan mereka.