
Veer menghampiri kakaknya yang sedang menunggu di depan kelasnya.
"Kakak pulang dulu aja. Aku mau main ke rumah temen."
"Temen siapa?"
"David. Tadi aku kasih kabar ke Mom belum dilihat. Nanti tolong sampein ya."
"Hm. Iya. Kamu kesannya pake apa?"
"Dibonceng pake motor sama David. Dia kan sudah punya SIM."
"Yaudah. Hati hati."
"Iya."
Ved meninggalkan adiknya untuk pulang karena supir sudah menunggu di depan.
"Ayo." Kata seorang remaja laki laki menghampirinya.
"Iya. Naik motor kamu kan?"
"Iya lah."
"Ok."
"Ayo." Kata David langsung mengajak Ved ke parkiran.
Ved sudah tiba di rumah setelah menempuh sekitar 20 menit perjalanan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Val celingukan mencari sesuatu.
"Adik kamu mana?"
"Di main ke rumah temannya. Katanya sudah chat Mom tapi belum Mom lihat."
"Oh. Yasudah. Kamu bersih bersih terus makan siang ya. Van juga sudah nunggu."
"Iya Mom."
Selesai dari bersih bersih Veer langsung bergabung dengan adik dan orangtuanya di meja makan.
"Veer mainnya sama teman yang mana?"
"Sama David Mom. Yang pernah kesini waktu itu."
"Rumahnya jauh nggak?"
"Kalo itu sih nggak tau Mom."
"Sudah. Kamu jangan terlalu khawatir. Di sudah besar." Mario menggenggam tangan istrinya.
"Iya Dad."
"Mom. Nanti temani Van ya?"
"Kemana?"
"Ke minimarket. Mau beli kerupuk udang."
"Iya. Habis makan kita kesana."
Val dan anak gadisnya menghampiri Mario yang sedang memberi makan ikannya.
"Dad. Aku berangkat dulu ya."
"Aku antar." Kata Mario hendak turun dari tangga.
"Nggak usah. Cuman sebentar aja. Aku sama Van aja yang kesana."
"Yasudah. Jangan lama lama. Jangan liat cowok lain." Mario memberi peringatan.
"Iya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Mario hanya memandangi mereka yang sudah menghilang dibalik pintu.
Sampai disana Van langsung memilih makanan kesukaannya.
"Mom. Van mau ini boleh ya?" Tanyanya sambil mengangkat keripik kentang.
"Boleh. Sekalian ambil buat kakak."
"Iya Mom. Kakak mau rasa apa ya? Original atau pedas?"
"Biasanya kakak kamu sukanya yang original."
__ADS_1
"Oh. Ok." Katanya sambil memasukkan dua bungkus ke keranjang.
"Mau apa lagi?"
"Coklat."
"Ambil aja."
"Iya Mom. Mom nggak mau beli sesuatu?"
"Enggak. Kamu aja."
"Sudah semuanya Mom."
"Beneran? nggak mau apa apa lagi?"
"Enggak Mom. Udah cukup."
"Yasudah. Ayo kita bayar."
"Iya Mom."
Mario menghampiri istri dan anak anaknya yang tengah sibuk membuka belanjaan di ruang keluarga.
"Katanya mau beli kerupuk udang." Kata Mario sambil duduk dan merangkul istrinya.
"Lah. Ini kan kerupuk udang Dad. Daddy mau?" Van mengeluarkan kerupuknya dari dalam kantung kresek.
"Nggak. Daddy nggak suka."
"Yaudah. Buat kita aja."
"Mom. Ayo ke kebun. Kita petik mangga buat bikin rujak."
"Enggak ah. Mommy masih takut. Nanti ada ulatnya lagi. minta Bibi atau Pak Bon aja. Mereka nggak takut ulat."
"Nggak ah Mom. Kita petik sendiri aja."
"Hati hati ya."
"Iya Mom."
"Kalo gitu Mom bikin sambelnya dulu."
"Ok."
Val tengah menyiapkan bahan di dapur. Mario tak berhenti menempel pada istrinya.
"Awas dulu ah. Lagi ribet ini."
"Nggak mau."
"Ih Daddy. Ambilin gula aren di lemari sana."
"Iya."
"Yang mana?" Tanya Mario bingung setelah membuka lemari ternyata terdapat banyak sekali bahan makanan disana.
"Yang warnanya coklat bentuknya setengah bulat itu lo." Jawab Val tanpa menoleh.
"Yang ini?" Tanya Mario menghampiri sang istri.
"Iya. Pinter nya suami aku."
"Cium."
"Ya." Val mencium pipi suaminya.
"Bawain tuh." Kata Val berlalu pergi sambil memerintahkan suaminya membawa bahan bahan lainnya.
Semua buah sudah dikupas bersih dan dipotong kecil kecil. Mereka makan rujaknya dengan penuh semangat. Kecuali Mario. Pria itu hanya mau makan karena disuapi istrinya.
"Veer kok belum pulang juga ya? Ini udah sore."
"Paling juga nanti Mom. Dia kalo lagi main game suka lupa waktu."
"Bukannya kamu juga gitu."
"Iya juga sih Dad. Tapi aku nggak separah Veer."
"David itu teman sekelasnya Adek kamu?"
"Iya Mom."
"Anaknya bagaimana?"
"Beh...Dia anak motor Mom. Kalo naik motor kenceng banget. Suka ugal ugalan di jalan. Dulu dia pernah kecelakaan sampai kakinya patah. Tapi nggak kapok."
__ADS_1
"Adek kamu kesannya di bonceng sama David itu?"
"Iya Mom."
"Mom khawatir deh. Coba kamu hubungi Veer."
"Iya Mom." Ved langsung melaksanakan perintah Mommynya.
"Nggak diangkat Mom." Katanya setelah mencoba berkali kali.
"Kamu tenang aja By. Jangan kepikiran yang macam macam. Nanti berpengaruh sama kesehatan kamu." Mario memeluk istrinya untuk menenangkan.
Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Hujan turun begitu deras semenjak selesai isya tadi. Veer belum juga pulang membuat semuanya khawatir. Terutama Val. Wanita itu mondar mandir menunggu anaknya di teras depan tak peduli dengan hawa yang begitu dingin. Guntur sedari tadi juga bersautan diiringi kilat kilat yang begitu mencekam.
"By. Ayo masuk. Nanti kamu sakit." Mario membujuk istrinya untuk yang kesekian kali.
"Nanti. Aku masih nunggu Veer. Belum ada tanda tanda Dia mau pulang." Jawab Val sambil menatap gerbang.
"Iya. Kita tunggu di dalam saja."
"Nggak Dad. Aku tunggu disini."
Beberapa menit kemudian suara motor berhenti di depan gerbang. Veer langsung masuk dengan baju yang sudah basah kuyup dan badan menggigil kedinginan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Kamu jam segini kok baru pulang sih Sayang." Val langsung memeluk anaknya.
"Maaf Mom."
"Yasudah. Ayo masuk. Mom siapkan air hangat buat kamu." Kata Val langsung menarik anaknya masuk ke dalam. Mario sangat kesal. Ia akan memberikan perhitungan pada anaknya itu.
Badan Veer demam. Val langsung memberikan Paracetamol dan memasangkan plester kompres di dahi anaknya setelah menyuapi.
"Bagus. Sekalian nggak usah pulang. Nggak tau waktu. Nggak kasihan kamu sama Mom udah nunggu kamu sampai kedinginan di depan." Mario mulai mengomel.
"Maaf. Mom. Dad." Lirihnya.
"Kamu dihubungi daritadi nggak diangkat kenapa?"
"HP aku lupa masih di silent Kak."
"Sengaja itu. Biar nggak ada yang ganggu. Udah mainnya jam segini baru pulang. Kamu tau nggak Daddy sampai suruh orang hujan hujan begini buat cari kamu. Bener bener keterlaluan. Siapa yang antar kamu tadi?"
"Veer naik Ojek Dad."
"Kenapa nggak diantar teman kamu?"
"Aku yang nggak mau Dad. Nanti dia sampai di rumah kemalaman. Mau naik Taxi juga nggak ada yang lewat."
"Oh. Bagus. Sekarang udah pinter bohong. Kamu pamitnya tadi ke rumah David. Sebenarnya kamu kemana?" Mario membentak anaknya.
"Tadi Veer diajak nonton balapan Dad."
"Mau jadi berandalan kamu."
"Enggak Dad. Veer cuman nonton."
"Cuman nonton atau enggak. Itu bahaya sayang. Mommy baru aja kemarin kemarin kasih nasihat kalian buat dijaga pergaulannya. Sekarang kok malah begini." Tutur Val lembut.
"Maaf Mom. Veer nggak akan mengulanginya lagi. Veer minta maaf." Katanya penuh penyesalan sambil memeluk Val.
"Mom sudah maafkan. Kamu istirahat biar cepat sembuh."
"Terimakasih Mom. Mom tidur temani Veer kan?"
"Iya."
"Nggak. Mom tidur sama Dad."
"Tapi Dad."
"Kamu tidur sama aku By."
"Mom temani kamu sampai tidur. Kalian juga tidur ya. Besok sekolah."
"Iya Mom." Jawab keduanya patuh.
Mario memeluk istrinya yang sudah berbaring di ranjang.
"Veer kok jadi gitu ya. Kenapa dia bohong."
"Dia nggak mau kamu tau kalo dia lagi liat balapan. Hari ini dia lihat aja. Entah besok, mungkin dia akan coba coba."
"Aku khawatir."
"Kamu nggak usah banyak pikiran. Kita tidur ya. Udah malem banget."
__ADS_1
Kata Mario mengecupi seluruh wajah istrinya dan mendekap wanita itu dengan hangat.